Senin, 16 Februari 2009

Jepang Berbagi Pengalaman dengan Masyarakat Tarakan Borneo

. Senin, 16 Februari 2009

Tarakan Bayar Sampah Rp 2.000 per Bulan, di KitaKyushu Rp 5.000 per Plastik

Dalam dialog bersama wali kota dengan pejuang dan relawan kebersihan di Tarakan sempat ditanyakan mengapa warga setiap bulannya harus membayar sampah sebesar Rp 2.000. Padahal pemerintah meminta warga mengolah sampahnya sendiri.

Hal ITU ditanggapi Wali Kota Tarakan Jusuf SK bahwa iuran sampah yang dimanfaatkan juga untuk pengelolaan sampah itu tidak sebanding dengan yang diterapkan di Jepang. Tetsuya Ishida mengatakan, di KitaKyushu, Jepang warganya membayar sebesar Rp 5.000 untuk satu plastik ukuran besar yang digunakan untuk sampah mereka selain yang diolah.

Ishida berbagi pengalaman kepada masyarakat Tarakan, dalam dialog tersebut dimana KitaKyushu 40 tahun lalu terlihat kumuh. Namun perjuangan mereka mengurangi sampah dengan mengolahnya dari sumber membuat KitaKyushu menjadi kota yang bersih. Sehingga kota tersebut pertama kali diresmikan tahun 1997 oleh pemerintah Jepang dan berupaya menciptakan kondisi lingkungan dengan emisi nol, dan memanfaatkan limbah industri.

“Masyarakat Tarakan sudah memulainya dengan mengolah kompos dan saya yakin ini tidak sulit dan Tarakan bisa menjadi bersih dan sampah-sampah diolah sendiri,” tutur Ishida dalam dialognya kepada masyarakat khususnya pejuang dan relawan kebersihan Tarakan yang hadir memenuhi halaman parkir pasar Boom Panjang kemarin.

Kehadirannya di Tarakan, untuk melakukan survei melihat kondisi sampah di Tarakan. “Berdasar survei itu, JICA (Japan Internasional Coorporation Agency) pemerintah Jepang KitaKhuyusu berpikir apa yang bisa bantu untuk Tarakan dalam hal pengelolaan sampah atau mengurangi sampah,” tutur Ishida.

Ia menjelaskan, kerjasama tersebut mereka membantu dengan membuatkan konsep dan teknologi bagaimana cara pengelola sampah. Sementara masalah keuangan akan bekerjasama dengan pemerintah. “Tapi bapak-bapak dan ibu-ibu di Tarakan sudah melaksanakan jadi kami tinggal meningkatkan efisiensi dan lebih efisien membuat kompos dan teknologi itu yang bisa kita lakukan di Tarakan,” terangnya.

Untuk itu, saat ini mereka melakukan survei dan melakukan perencanaan dan dalam pelaksanaannya mereka akan kembali ke Tarakan untuk melaksanakannya. Menurutnya, di Kitakyushu separoh sampah domestik atau sampah basah yang dijadikan kompos. Namun di Tarakan hal itu sudah lama dilakukan sejak 2006 lalu hingga saat ini. “Untuk itu, saat ini bagaiamana caranya pembuatan kompos dengan efisien melalui teknologi yang ada bisa kita lakukan. Tapi yang paling penting adalah kepemimpinan pemerintah daerah dan dukungan masyarakat. Dan saya melihat di Tarakan pasti berhasil mengelola sampah karena dukungan masyarakatnya juga pemerintahnya,” ujarnya.

Beberapa masyarakat Tarakan sudah melakukan pengolahan sampah berbasis rumah tangga dan skala besar, baik di pasar maupun di kelurahan. Di antaranya pasar Boom Panjang, RT 28 Karang Anyar, RT 16 Karang Anyar Pantai, RT 13 Kampung Enam, RT 6 Kampung Enam, RT 3 Sebengkok, RT 12 Kampung Empat, RT 9 Juata Permai, RT 3 Juata Permai, RT 7 Juata Permai, beberapa KSM di beberapa kelurahan lainnya. (*/rt-4)

Sumber : Radar Tarakan (17 Februari 2009)

Entri Populer

Label

 

Link Banner

Total Tayangan Laman

Sahabat Tarakan

Tarakan Borneo Lovers is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com