Jumat, 25 September 2009

Enam Warga Tegal Terlantar di Tarakan

. Jumat, 25 September 2009

Bekerja 3 Bulan Tak Digaji, di Malinau Sempat Tidur di Emperan Toko

Enam orang warga asal Kota Tegal, terlantar di Tarakan. Mengapa demikian?
KE ENAM orang warga ini adalah Edi Trianto (29), Mohammad Rojikin (30), Slamet Kuswoyo (30), Patrik (21), Eko Sofa Kuswanto (21), dan Sufianto (32).

Kepada Radar Tarakan, keenam warga ini mengaku melarikan diri dari perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Sebuku Kabupaten Nunukan. Pasalnya, selama tiga bulan mereka bekerja, tidak ada satupun dari mereka menerima gaji. Bahkan selama itu, mereka juga tidak diberikan hak seperti yang dijanjikan sebelumnya.

6 warga asal Tegal Jawa Tengah yang berkerja sebagai buruh perkebunan kelapa sawit di Malinau terlantar di Tarakan karena kehabisan uang. Ke 6 buruh tersebut mengaku menjadi korban penipuan perusahaan perkebunan kelapa sawit tersebut.

Mereka mengaku telah menjadi korban penipuan salah satu perusahaan kelapa sawit di Malinau yang selama ini mempekerjakan mereka. Selain tidak betah, sejak bekerja pada Agutus lalu mereka belum menerima sepeser pun uang gaji. Padahal perusahaan berjanji akan memberikan gaji sebesar 2,5 juta rupiah per bulan dan uang pinjaman sebesar 500 ribu per minggu.

“Kasihan anak istri kami di Jawa, tidak ada kiriman dari kami. Padahal anak kami butuh susu, makanya kami pilih lari saja,” ujar Edi Trianto, salah satu dari mereka.

Diceritakan Edi, di Sebuku tersebut, mereka dipekerjakan di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit. Di sana, mereka tinggal di barak bersama pekerja lainnya. Memang makan mereka ditanggung, yaitu beras dan mi bungkus. Namun datangnya sering terlambat.

“Kalau tidak ada makanan, kami cari ubi dan singkong di hutan belantara,” katanya.

Lantaran tidak betah lagi, keenam orang ini memilih kabur dari barak. “Pertamanya saya yang mencoba sendiri, tapi gagal. Saya juga nggak ngerti, masak satu hari berjalan kaki, saya hanya keluar masuk hutan dan kembali di situ-situ saja,” jelas Edi.

“Akhirnya, saya bertemu dengan warga setempat. Mereka kasihan sama kami, lalu kami dikasih petunjuk jalan keluar dari hutan,” jelasnya.

Untuk bisa lolos, mereka harus keluar hutan belantara dengan berjalan kaki selama dua hari dua malam, dan baru menemukan Kabupaten Malinau.

Pelarian mereka belum selesai. Pasalnya, untuk menyeberang menuju Tarakan, keenam orang ini tidak memiliki uang sama sekali. Alhasil, 4 unit handphone yang mereka punya, dijual secara borongan di Malinau, dan mereka pun berhasil mengumpulkan uang sebanyak Rp 850 ribu.

“Pusing, uangnya masih kurang. Mau tidak mau sepatu boat dan baju dijual semua, baru uangnya cukup untuk beli tiket ke Tarakan. Itupun minta-minta sumbangan dari orang,” ujar Edi yang bisa membeli tiket untuk enam orang senilai Rp1.080.000.

Selama empat hari di Malinau, keenam orang ini sempat tidur di pelabuhan, masjid dan emperan toko.

Sesampainya di Tarakan, keenam orang ini semakin bingung. Pasalnya, uang yang tersisa saat itu hanya Rp 10 ribu. Pilihan terakhir, uang tersebut dibelikan makan nasi bungkus dan dimakan bersama.

Belum lagi dengan tekanan emosi yang tinggi, kekompakan mereka mulai terpecah. Empat orang memilih berjalan kaki untuk mencari masyarakat dengan harapan bisa membantu mereka. Sementara dua orang lainnya, memilih berjalan kaki ke Pelabuhan Malundung untuk mencari tumpangan kapal barang dengan tujuan Surabaya.

“Di pelabuhan, banyak yang bilang orang asal Jawa banyak di Kampung Enam dan Kampung Satu, makanya kami jalan kaki sampai ke Kampung Enam,” jelasnya. Beruntungnya, saat di jalan di Kampung Satu, mereka meminta air minum di salah satu rumah warga, dan kebetulan warga tersebut adalah anggota Satpol PP Tarakan.

Alhasil, keempat orang inipun dirumahkan sementara di Kantor Satpol PP, sambil menunggu bantuan dari pemerintah, sementara duanya lagi, yaitu Patrik dan Sufianto, disusul ke pelabuhan Malundung. Salah satu dari mereka, yaitu Patrik, ditemukan dalam sebuah kapal barang, dan sedang bersembunyi di dek barang.

“Saya ngumpet-ngumpet di peti sudah dua hari. Sebelumnya memang sudah ngomong sama ABK, tapi tidak boleh. Makanya saya nyelonong aja,” aku Petrik.

Saat ini, keenam orang tersebut masih diamankan di kantor Satpol PP, Jl Halmahera. Mereka berharap paguyuban mereka ataupun pemerintah mau membantu biaya pemulangan sampai ke Tegal. Namun selama di kantor Satpol PP, keenam orang ini pun tidak diberikan makan. “Baru makan satu kali saja pak,” pungkas Edi. (ANTHON JOY)

Sumber : Radar Tarakan (24 September 2009)

Entri Populer

Label

 

Link Banner

Total Tayangan Laman

Sahabat Tarakan

Tarakan Borneo Lovers is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com