Senin, 20 Juni 2011

Dendi Wahyudi Baru 3 Bulan di Tarakan, Sudah Tangani 500 Pasien

. Senin, 20 Juni 2011

Lebih Dekat dengan Dokter Spesialis Jantung Dendi Wahyudi

Dendi Wahyudi  Baru 3 Bulan di Tarakan, Sudah Tangani 500 Pasien
ITA RAHMAWATI - Stroke dan serangan jantung menjadi penyebab kematian tertinggi seluruh dunia, termasuk Indonesia, untuk kategori penyakit tidak menular. Sayangnya data Menteri Kesehatan RI menyebutkan, dengan jumlah penduduk Indonesia kurang lebih 240 juta jiwa, hanya memiliki 500 dokter spesialis jantung dan pembuluh darah. Kebanyakan juga memilih praktik di kota besar, wilayah Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek). Beruntungnya Tarakan tahun ini juga memilikinya yakni dr. Dendi Wahyudi. Apa yang mendorong ia mengabdi ke daerah?

TIDAK dapat dipungkiri, profesi dokter menjadi profesi membanggakan dan masih menjadi cita-cita banyak orang. Namun setelah dinyatakan lulus dari fakultas kedokteran dan mengenakan jas putih “kebesaran” seorang dokter, kebanggaan baru muncul dari perjuangan mengabdi untuk kesehatan masyarakat. Inilah yang membuat dokter Dendi Wahyudi memilih hijrah ke kota Tarakan. Padahal setelah lulus sebagai dokter spesialis jantung dan pembuluh darah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Jantung Harapan Kita (2005-2011), ada tawaran kerja di Solo bahkan di kota kelahirannya, Bandung, Jawa Barat.

Mengaku mengetahui Tarakan kekosongan dokter jantung padahal jumlah penduduk mencapai 200 ribu jiwa, begitu ada tawaran kerja meski termasuk kota kecil ujung Kaltim, ia langsung antusias. Benar saja, lebih 3 bulan mengabdi di Tarakan, sekitar 500 pasien telah ditanganinya, baik dalam perawatan di RSUD, poliklinik maupun check-up rutin di tempat praktik di Apotik Anda Jalan Mulawarman.

“Risiko penyakit jantung di manapun daerahnya pasti ada, di Tarakan juga lumayan besar. 500 lebih pasien inipun memang mayoritas penduduk Tarakan, tapi ada beberapa dari Kabupaten Bulungan, Malinau dan sekitarnya,” sebut dokter Dendi Wahyudi.

Dikatakan, jantung menjadi organ vital manusia dengan bentuk hanya sekepal tangan pria dewasa, baik untuk penyakit jantung dan serangan jantung, menyerang tak hanya pada usia lanjut, namun kerap terjadi pada usia di bawah 40 tahun. Penyakit faktor risiko serangan jantung sebut dokter Dendi untuk Tarakan paling banyak karena hipertensi, diabetes, dan kolesterol.

“Untuk kegawatan jantung seperti serangan jantung dengan populasi Tarakan masih kecil, seminggu sekali juga jarang pasien datang yang benar-benar serangan jantung. Tapi saya sudah menangai pasien fase lanjut sekitar 5 orang yang perlu tindakan agresif,” kata pria berkacamata ini.

Dokter Dendi juga menyampaikan, menangani penyakit jantung dan serangan jantung ini cukup dramatis. Perlu tindakan agresif semisal pembuluh darah pasien tersumbat, harus dibuka secara cepat berkejaran dengan waktu. Bahkan diceritakannya dalam penanganan pasien fase lanjut selama 3 bulan ini, ada pasien yang membaik namun tiba-tiba meninggal, padahal keesokan harinya akan dirujuk ke Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta.

“Bagi saya dramatis, ada yang terkena serangan jantung dan meninggal padahal tidak ada keluhan. Dalam perawatan tiba-tiba memburuk juga bisa, tidak terprediksi. Tapi banyak pula yang tertangani dan senang sekali melihat pasien kembali ke keluarga dengan kondisi membaik,” ujar pria kelahiran 27 Desember, 34 tahun lalu ini.

“Pengalaman juga dulu, sewaktu masih dokter umum di Subang, ada pasien serangan jantung, meninggal dengan waktu sangat cepat, padahal ada tindakan, keluhan hanya nyeri ulu hati (maag). Penasaran, saya berniat memperdalam spesialis jantung ini,” imbuh lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (1995-2002) ini.

Maka dari itu, ia berpesan untuk sayangi jantung dengan lakukan beberapa pencegahan menjauhi pola hidup tidak sehat. Di antaranya, penyakit jantung koroner lantaran penyempitan pembuluh darah koroner, disebabkan penumpukan lemak, diabetes, merokok, kolesterol tinggi dan prosesnya degeneratif berjalan dari usia muda hingga lanjut.

“Bisa dari bergejala sampai tidak ada keluhan. Agar terhindar, kurangi makanan berlemak, tekanan darah harus terkontrol, dan terpenting jika orang tua terkena penyakit jantung atau diabetes, maka si anak dari muda harus hidup sehat. Umur 40 tahun, rutin check up meski merasa sehat atau tidak ada gejala. Apalagi jantung koroner dominasi diderita laki-laki,” saran dokter Dendi Wahyudi.

“Khusus penduduk Tarakan saja, kunjungan sehari di poliklinik 15-25 pasien, di praktek variasi rata-rata 4-5 orang perhari. Maka sadar kesehatan jantung harus sejak dini. Untuk peralatan, di Tarakan sudah ada Echocardiografi (USG jantung) dan treadmill test (latihan treadmill dengan pemasangan alat pengukur respon jantung, di RSUD ada juga dipraktik tersedia. Harapan saya, untuk menjangkau daerah lain butuh sistem rujukan yang baik dan semoha RSUD menjadi pusat pelayanan jantung di Kaltara,” pungkasnya. (***)

Sumber : radartarakan.co.id (17 Juni 2011)

Entri Populer

Label

 

Link Banner

Total Tayangan Laman

Sahabat Tarakan

Tarakan Borneo Lovers is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com