Selasa, 06 September 2011

Kapolres Tarakan: Bergerak Cepat, Terapkan Pola Keroyok

. Selasa, 06 September 2011

Masih ingatkah anda dengan kerusuhan yang terjadi di kota Tarakan tahun 2010 silam? Konflik antarkelompok yang sempat merenggut nyawa itu, berbuntut pada roda mutasi kepemimpinan di tubuh Kepolisian Resort (Polres) Tarakan.

Melalui Telegram Rahasia (TR) yang diteken Kapolda Kaltim Irjen Pol Bambang Widaryatmo April 2011, jabatan AKBP Dharu Siswanto sebagai Kapolres terpaksa harus berpindah tangan ke AKBP Budi Prasetyo, yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolres Malinau.
Di sinilah babakan baru AKBP Agustinus Budi Prasetyo dimulai. Lelaki kelahiran Sragen, 28 Oktober 1962 silam itu mengakui ada perbedaan signifikan antara Kabupaten Malinau dengan Kota Tarakan, yang kini menjadi wilayah tugasnya.
Betapa tidak, keberagaman etnis di ‘Bumi Paguntaka’ (sebutan Tarakan) disinyalir kerap menjadi pemicu terjadinya konflik horizontal di daerah tersebut. Tak heran, jika ia menyebut lebih berat bertugas di kota Tarakan ketimbang di Kabupaten Malinau.
“Lebih berat menangani di Tarakan. Karena waktu saya datang, Tarakan itu sedang terluka. Ibaratnya kalau luka itu belum kering kena sedikit virus saja bisa kambuh lagi,” ungkap suami Dra Juliana Christina ini kepada tribunkaltim.co.id, Senin (5/9/2011) .
Kendati demikian, Budi, demikian sapaan akrabnya, mengaku jika dirinya sering memonitor perkembangan di Tarakan, termasuk kala masih bertugas di Malinau dulu. Tak heran jika Ayah tiga anak ini tidak membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi dengan karakteristik warga setempat.

Saat konflik pecah di Tarakan, ada tiga tuntutan warga yang turut menyita perhatiannya. Pertama, kala itu warga menuding Polisi bersikap diskriminatif dalam menangani perkara. Kedua, Polisi dinilai lamban. Dan ketiga, Polisi dinilai tidak tegas dalam menyelesaikan masalah.

Atas dasar tiga tuntutan itulah Budi selanjutnya mengambil langkah taktis. Ia langsung meminta dukungan warga untuk menegakkan proses hukum di Tarakan. Baginya, masing-masing kelompok yang bertikai harus merelakan anggotanya diproses secara hukum jika benar terbukti bersalah. “Supaya tidak ada diskriminasi saya minta mereka rela diproses hukum, tidak melihat sukunya apa. Dan tidak pernah saya memproses perkara lalu saya keluarkan tahanan itu, walaupun banyak yang minta keluarkan. Karena kapan saya keluarkan, kelompok yang lain pasti cemburu,” ujarnya.

Selain itu, wilayah geografis Tarakan yang relatif sempit serta didukung jumlah personil yang cukup banyak sudah seharusnya membuat polisi bergerak cepat. “Anggota kita cukup banyak kurang lebih 500 personil. Selain itu Tarakan ini pulaunya kecil, hitungan satu jam itu sudah tembus dari ujung ke ujung,” ujarnya.

Untuk itu ia memilih menerapkan pola ‘keroyok’, yaitu pola sinergitas antara seluruh kesatuan kepolisian. “Jadi kalau ada perkara di satu Polsek maka semuanya kesana ikut membantu,” tandasnya.

Terkait dengan ketegasan sikap polisi, Budi mengaku dirinya tidak tedeng aling-aling untuk menindak yang bersalah, termasuk terhadap anggotanya sendiri.

Butuh waktu setidaknya 3 bulan untuk melakukan pembenahan di internal Polres Tarakan. Tak tanggung-tanggung, sejak menjabat, tercatat kurang lebih sudah 10 personel yang ditindak lantaran melanggar kode etik dan terlibat dalam kasus pidana.

Kiprah Budi di korps berbaju cokelat, bukanlah hal baru. Pasalnya, lulusan Akpol tahun 1989 itu tercatat pernah bertugas selama 10 tahun di Sulawesi. Di tanah Celebes, ia pernah menjabat sebagai Kapolsek Labakkang Pangkep, Kasat Reskrim Polres Pangkep, hingga Kabag Ops Polres Muna.

Selanjutnya, Budi ditarik bertugas selama 10 tahun di Jawa Barat. Selama disana ia sempat mengisi jabatan Kabag Ops Polres Sukabumi, Kabag Reskrim Polwil Bogor, Kabag Ops Polwil Banten, Wakapolres Ciamis, Wakapolres Bogor, Wakapolres Cimahi, Kapolres Persiapan Banjar, hingga Kasat Eksus Polda Jabar.

Barulah di tahun 2008, Budi menginjakkan kakinya di Kaltim. Pertama bertugas, ia ditempatkan di Biro Operasi Polda Kaltim selama setahun, sebelum akhirnya diamanahkan menjadi Kapolres Malinau tahun 2009-2011, dan Kapolres Tarakan April 2011 sampai sekarang.

Berbekal sederet pengalamannya, Budi bisa memahami perbedaan mendasar adat istiadat antara daerah yang satu dengan lainnya. Ia hanya berharap, isu-isu Sara yang kerap mewarnai gangguan keamanan di Kaltim belakangan ini, bisa diminimalisir, termasuk warga kota Tarakan.

Pasalnya, banyak warga yang selama ini tidak tahu dan hanya termakan provokasi dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. “Masyarakat bawah itu tidak tahu, mereka hanya termakan provokasi oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Karena provikasi itu bukan hanya datang dari Tarakan tapi juga dari luar,” ujarnya.

Untuk itu ia menghimbau, warga jangan terjebak dan berpikiran sempit dengan mengelu-elukan ego kelompok masing-masing. “Disini nggak bisa dibangun oleh salah satu kelompok saja. Janganlah hanya berpikiran sempit, ini kelompok saya yang paling baik. Mari kita bawa perbedaan itu ke arah yang positif,” pungkasnya.

Penulis : Syaiful Syafar
Editor : Fransina

Sumber : tribunnews (5 September 2011)

Entri Populer

Label

 

Link Banner

Total Tayangan Laman

Sahabat Tarakan

Tarakan Borneo Lovers is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com