Selasa, 06 September 2011

Lebaran Ketupat di Tarakan Tetap Dilestarikan

. Selasa, 06 September 2011

TARAKAN – Sebagian warga Tarakan masih mempertahankan “Lebaran Ketupat”, yakni dirayakan setelah sepekan Idulfitri. Alhasil, warga juga ada yang memanfaatkan momen ini dengan berjualan janur hingga selongsong ketupat.

Di Pasar Gusher misalnya, hampir seluruh los pasar dihiasi gantungan selongsong ketupat dan daun kelapa muda berwarna kuning. Mariyana, salah satu pedagang mengaku, setelah Lebaran pertama, ia sudah mempersiapkan janur untuk dirangkai menjadi selongsong ketupat. “Kami jual Rp 15 ribu untuk 20 biji,” kata Mariyana.

Dalam sehari, ia bisa menjual 35 ikat dengan keuntungan mencapai Rp 350 ribu perharinya. Namun karena wanita sudah berdagang selama 4 tahun di Pasar Gusher ini merupakan tangan kedua, artinya selongsong ketupat yang dijajakan merupakan titipan tetangga, untuk per biji ketupat ia mendapat untung Rp 250.

“Kalau laku semua, banyak keuntungannya. Memang saat Lebaran ketupat ini dimanfaatkan betul-betul. Biasanya ya jualan sayur dan singkong. Cuma tahun ini agaknya sepi, tahun kemarin ramai pembeli,” ujar warga Persemaian ini.

Sementara Mama Sadan-begitu disapa, wanita paruh baya pedagang makanan dan minuman di Pasar Gusher ikut mencoba peruntungan berjualan janur dan selongsong ketupat. Harga per ikat nampaknya seragam setiap los, yakni Rp 10 ribu isi 10 selongsong ketupat. Namun bedanya, ia 100 persen meraup keuntungan karena merangkai janur menjadi ketupat seorang diri.

“Satu biji ketupat saya buat tidak sampai 2 menit. Memang sudah terbiasa, kalau mau Lebaran Idulfitri atau :ebaran ketupat saya selalu jualan, sejak 8 tahun lalu. Selain itu, juga sekalian menjual sayur nangka dan mentimunnya buat pelengkap sayur ketupatnya,” kata warga Karang Rejo ini.

Bahkan dalam satu malam, ia bisa merangkai 200 biji ketupat. Dalam sehari, ketupat rangkaiannya biasa terjual 100 ikat, keuntungan yang diperoleh bisa mencapai Rp 500 ribu.

“Satu ikat Rp 10 ribu. Biasanya buat 3 hari sebelum lebaran ketupat. Sanggup buat 100 biji bahkan 200 biji satu malam. Kalau dihitung-hitung, untung banyak atau tidak tetap disyukuir. Dari Hari Raya Idulfitri sampai Lebaran ketupat, ada juga untung sampai Rp 1 juta,” bebernya kemarin (5/9).

“Tapi biasanya pembeli juga tetap ada menawar. Ada yang tawar sampai harga Rp 7 ribu-Rp 8 ribu. Kalau ketupatnya masih banyak (kurang laku), dari pada dibuang ya terpaksa harganya diturunkan. Padahal membuat ketupat ini butuh tenaga banyak, tapi apa boleh buat demi dagangan laris,” tandasnya.(dta)

Sumber : radartarakan (6 September 2011)

Entri Populer

Label

 

Link Banner

Total Tayangan Laman

Sahabat Tarakan

Tarakan Borneo Lovers is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com