Senin, 17 Oktober 2011

Hujan Malam Tidak Tidur, Kelurahan Sudah Data

. Senin, 17 Oktober 2011

Warga Sebengkok yang Waswas Musibah Tanah Longsor

TARAKAN- Jika Tarakan diguyur hujan dengan intensitas tinggi dan dalam waktu yang cukup lama, daerah Sebengkok selalu menjadi langganan terjadinya musibah. Selain banjir, kawasan penduduk yang sebagian berupa pegunungan tersebut juga selalu terancam dengan tanah longsor. Kawasan yang rentan longsor diantaranya di RT 11, RT 13, RT 22 dan lainnya.

Ani, salah satu warga RT 13 yang rumahnya rawan terkena longsor karena berada dibawah bukit mengaku selalu waswas jika hujan datang. Selama 15 tahun tinggal di rumah tersebut sudah 3 kali longsor terjadi. “Untung saja ada siring yang terbuat dari kayu dan balok yang panjangnya sekitar 8 meter,Tapi itu pun siringnya sudah miring dan mepet di belakang rumah karena menahan beban berat. Kalau sampai terjadi longsor lagi di bisa kena rumah ini,” tuturnya.

Akibat kondisi rumahnya seperti itu, Ani tidak bisa nyenyak tidur pada malam hari. Apalagi jika hujan datang. Dia bersama suami dan keluarga lebih memilih berjaga-jaga untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. “Tidak bisa tidur kalau hujan, biasanya kita hanya duduk-duduk di ruang bagian depan sambil berjaga-jaga karena takut terjadi longsor,” kisah perempuan 43 tahun.

Ancaman longsor ini dialami keluarga Ani sudah berlangsung sekitar 10 tahun lalu sejak terjadinya longsor yang pertama kali. Tapi sejak saat itu ia belum niat untuk pindah ke lokasi yang lebih aman disebabkan biaya maupun tidak memiliki lahan. “Disinilah sudah rumah kami mas, mau pindah kemana lagi. Mau sewa rumah juga sudah tidak punya uang,” imbuh perempuan yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga ini.

Abdul Hanip, warga lainnya yang berdomisili di RT 20 Kelurahan Sebengkok juga mengalami hal sama. Bahkan musibah longsor yang dialaminya telah merusak rumah bagian dapurnya. “Dapur ini dulu roboh akibat longsor, Alhamdulillah tidak ada korban jiwa,” katanya saat ditemui Radar Tarakan. Tapi, akibat longsor tersebut Hanip mengalami kerugian yang cukup besar dan harus kembali merehab rumahnya serta membuatkan siring bagian belakang rumahnya.

Longsor terakhir yang menimpa dapurnya adalah terjadi saat usai lebaran Idulfitri akhir Agustus lalu. Biaya yang dikeluarkan Hanip sendiri untuk memperbaiki siring agar terhindar dari longsor telah mencapai Rp 6 juta. Ia pun mengharapkan bantuan dari pemerintah dalam hal ini pihak kelurahan sebagai perpanjangan tangan agar dapat memperbaiki siring rumahnya. Tetapi hingga saat ini hal tersebut belum juga kunjung datang. “Kelurahan sudah kesini beberapa bulan lalu untuk ambil gambar longsor dan berjanji untuk beri bantuan, tapi sampai saat ini belum ada,” akunya.

Pihak Kelurahan Sebengkok sendiri telah melakukan pendataan terhadap rumah warga yang rawan terhadap musibah longsor. Sementara ini, data yang ada pada kelurahan menyebutkan beberapa kawasan Sebengkok yang rawan terjadi longsor serta pernah terjadi longsor ada di RT 11 sebanyak 29 KK. Kemudian RT 14 sebanyak 5 KK, RT 6 sebanyak 4 KK, serta ada juga di RT13, RT 22, RT 20. Sebagian RT lainnya masih dalam pantauan dari pihak kelurahan. “Setelah selesai direkap, akhir tahun nanti akan kami laporkan kepada walikota untuk mengambil langkah selanjutnya,” ujar Alkaf, Kepala Seksi Ketenteraman dan Ketertiban Kelurahan Sebengkok.

Saat ditanya mengenai bantuan yang akan diberikan kepada masyarakat yang tertimpa musibah longsor, Alkaf mengaku telah menyampaikan kepada pemkot. Dari pemkot sendiri nantinya yang akan menentukan apakah akan diberikan bantuan berupa siring maupun berbentuk uang. “Kami sudah sampaikan bantuan, baik melalui DPUTR untuk melakukan penyiringan atau berupa uang. Tapi yang menentukan nanti pemkot sendiri apakah akan disiring atau dianggarkan,” imbuh Alkaf. (jnu/iza)

Sumber : radartarakan.co.id (18 Oktober 2011)

Entri Populer

Label

 

Link Banner

Total Tayangan Laman

Sahabat Tarakan

Tarakan Borneo Lovers is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com