Masyarakat Tarakan Kalimantan Timur akan meluapkan kegembiraan dalam Festival Jepen 2010. Inilah upaya pelestarian seni dan budaya daerah milik masyarakat pesisir pantai itu.
“Saya ini hidup-mati di seni budaya. Salah satunya Jepen,” ungkap Asrani, budayawan dan pelestari tari Jepen di Kalimantan Timur (Kaltim). Pria asal Kutai Kartanegara itu lantas mengungkapkan kecintaan sekaligus kegundahannya atas seni dan budaya tradisi.
Salah satu yang menjadi perhatian Asrani adalah tari Jepen, seni tari rakyat Kutai yang dipengaruhi kebudayaan Melayu dan Islam. Menurutnya, nasib tari pergaulan yang populer di kalangan masyarakat pesisir pantai itu tak jauh beda dengan tarian tradisi lainnya. Artinya, kata dia, tari Jepen di Kaltim tidak berkembang pesat tapi masih bertahan dan tidak hilang.
“Beberapa daerah yang masih sering mempertunjukan tarian ini misalnya di Kutai Kartanegara, Berau, Tarakan, Tana Tidung, Bulungan, dan Kutai Timur,” sebut pria yang pernah mendirikan sebuah sanggar seni budaya pada 1992.
Layaknya sebuah tari pergaulan, tari Jepen umumnya ditarikan berpasang-pasangan yang menggambarkan kegembiraan sekaligus rasa syukur. Kostum yang dikenakan pun biasanya semarak dan kaya warna sebagai perlambang keceriaan. Penari pria biasanya bercelana panjang, berbaju Teluk Belangga (lengan panjang) dan bersarung.Sedangkan penari wanita bersarung dan berkebaya dengan model khas daerah masing-masing.
Tarian enerjik ini menggunakan gerak dasar langkah kaki dan lambaian tangan, dengan iringan nyanyian dan irama musik khas Kutai yang disebut Tingkilan. Adapun alat musiknya terdiri dari gambus (sejenis gitar berdawai 6) dan ketipung (semacam kendang kecil). “Tarian ini juga terkadang diselingi pantun berbalas,” ucap Asrani.
Selain di Kalimantan, lanjutnya, Jepen sebagai tarian berbasis Melayu-Islam juga populer di daerah pesisir pantai lainnya seperti Riau dan Sumatera Utara. Bahkan, di Betawi juga berkembang tari Japin yang diiringi musik gambus dan kendang kecil. Secara geografis, Jepen hidup pula di Serawak (Malaysia), Tawi-Tawi (Brunei Darussalam) dan Tawao (Philipina).
“Penamaannya mungkin saja berbeda. Bisa tari Jepen, Japin, atau Zapin. Tapi, nafasnya sama-sama Melayu-Islam,” tutur Asrani.
Sebagai tari pergaulan, Jepen awalnya dilakukan semata-mata untuk kesenangan pelakunya (kelangenan) hingga kemudian menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat pesisir pantai. Saat ada upacara pernikahan atau khitanan, tetamu dihibur dengan tarian ini. Konon, raja-raja Kutai pun sering memesan kesenian rakyat ini untuk merayakan ulang tahunnya atau menyambut Tahun Baru Islam. Selain itu, tari Jepen juga lazim ditampilkan dalam prosesi menyambut tamu kehormatan semisal menyambut menteri.
“Saya berharap generasi penerus bangsa tidak akan pernah meninggalkan seni budaya daerahnya. Kalau dikelola dan dilestarikan dengan baik, seni budaya juga bisa mendatangkan devisa,” tandasnya.
Hapiza, seorang guru tari Jepen dari sanggar Bina Seni Budaya Indonesia (BSBI) di Samarinda punya harapan serupa. Untuk itu, wanita yang sudah lima tahun mengajar tari ini dengan senang hati mengajarkan tari tradisi itu kepada anak-anak TK dan SD di sanggar yang ada di lantai dua rumahnya. Sementara Hapiza dan puteri bungsunya menari Jepen, putra sulungnya dengan lihai memainkan musik Tingkilan.
“Saat ini baru ada 35 anak yang berlatih tari. Namun, melihat anak-anak mengenal dan mencintai tarian daerah sendiri merupakan suatu kebanggaan bagi saya. Memang agak sulit mencari bibit baru karena anak jaman sekarang lebih tertarik nge-band,” tutur ibu dua anak itu.
Hapiza bersyukur karena hampir semua SD saat ini mewajibkan mata pelajaran muatan lokal kesenian daerah sehingga anak-anak tertantang untuk bisa membawakan tarian, teater, dan lagu daerah. Alhasil, anak-anak yang awalnya tidak suka justru kian bersemangat, terlebih jika ada perlombaan atau festival.
“Grup tari pemenang lomba biasanya akan diajak oleh pemerintah untuk pentas keliling di luar kota. Sehingga, tertanam dalam benak anak-anak bahwa tarian daerah pun bisa membawa mereka menjelajahi seluruh Indonesia,” bebernya.
Sejauh ini, sambung Hapiza, grup tari sanggar BSBI telah pentas di sejumlah kota seperti Surabaya, Yogyakarta, Menado, dan Anjungan Kaltim di TMII Jakarta. Ia pun berharap pemerintah memberi perhatian lebih sehingga kesenian daerah bisa lebih sering tampil di luar negeri.
Direktur Promosi Dalam Negeri Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) Fathul Bahri mengatakan, pihaknya sudah sering mengikutsertakan tim tari daerah untuk ikut misi kebudayaan RI di luar negeri. Diantaranya di Malaysia, Brunai Darussalam, Shanghai, Australia, Jerman, hingga Amerika. “Biasanya grup tari pemenang lomba dan yang dinilai bagus itu kita ikut sertakan,” tegasnya.
Menurut Fathul, penyelenggaraan lomba dan festival Jepen juga merupakan cara efektif dalam melestarikan dan menggelorakan semangat kesenian rakyat agar tidak layu. Untuk itu, Kemenbudpar mendukung penuh penyelenggaraan Festival Jepen 2010 yang diselenggarakan di Tarakan, mulai 30-31 Oktober. Menurutnya, kendati pesertanya baru mencakup kabupaten dan kota di Kalimantan, festival tersebut sudah ditetapkan sebagai festival nasional.
“Festival ini sudah yang ketiga kalinya dan bertujuan memacu masyarakat untuk melestarikan tari Jepen sebagai potensi daerah. Saya lihat tariannya bagus, enerjik, tidak monoton dan menunjukkan nuansa gembira dari muda-mudi. Selain tari Jepen, pertunjukan tarian dan musik dari daerah lain juga akan tampil dalam Festival Jepen 2010,” paparnya.
Fathul berharap melalui perlombaan tari dalam festival Jepen semangat rakyat akan terpompa. Biasanya, kata dia, jauh hari sebelum penyelenggaraan festival masyarakat semangat berlatih untuk mencapai target kemenangan secara sehat. Selain itu, melalui ajang lomba kreasi Jepen terlahirlah Tari Jepen Tungku, Tari Jepen Gelombang, Tari Jepen 29, Tari Jepen Sidabil dan Tari Jepen Tali. Umumnya tari kreasi baru tersebut sudah mengalami perkembangan dalam hal gerakan dan kostum, kendati nafas aseli tari Jepen masih tetap melekat.
“Gerakan dan warna kostum tari Jepen sekarang ini mulai lebih berani, karena setelah difestivalkan orang menilai bahwa yang lebih semarak dan kreatif itulah yang akan menang. Untuk itu, sang koreografer dituntut untuk kreatif dan inovatif,” tuturnya.
Berwisata Sejarah dan Budaya di Tarakan
Tarakan merupakan sebuah pulau yang terletak di ujung utara propinsi Kaltim. Pulau ini dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan Festival Jepen 2010 karena letaknya yang sangat strategis, yakni berbatasan dengan Malaysia dan Filipina di sebelah utara. Tarakan juga kerap dijadikan tujuan wisata bagi turis dari negara bagian Sabah (Malaysia), Brunai Darussalam, Filipina, Jepang, China, Korea dan negara pasifik lainnya. Para pelancong dari Australia dan Selandia Baru juga tak sulit mencapai kawasan ini.
Di masa lampau, pulau Tarakan juga memiliki keterikatan emosional dengan tiga negara besar yakni Jepang, Amerika dan Australia. Ketiga negara ini ikut terlibat dalam Perang Pasifik saat memperebutkan Tarakan. Sebab itu, selain alam yang indah, Tarakan juga memiliki sejumlah objek wisata bersejarah yang menjadi saksi bisu kedahsyatan Perang Pasifik. Antara lain lading minyak, bunker, gudang senjata, rumah bundar, benteng pertahanan, meriam dan serpihan pesawat terbang.
Kekayaan budaya dan sejarah yang dimiliki Tarakan menjadikan pulau seluas 281 kilometer persegi ini layak dikunjungi. Apalagi, jarak antara satu objek wisata yang satu dengan lainnya tidak terlalu jauh. Boleh dikata, Tarakan adalah surga wisata alam yang eksotis dan fantastis. (Indah Susanti/Koran SI/tty)
Sumber: lifestyle.okezone (29 Oktober 2010) Borneo
Redirect to TarakanBais
Sabtu, 30 Oktober 2010
Festival Jepen, Wajah Melayu Islam dalam Tari Pergaulan
Jumat, 29 Oktober 2010
Aspiration of citizens to the City Government of Tarakan
Bara is Not Cold Right
From: Danan Jaya (dnjaya@yahoo.co.uk)
We say thank you as much as possible to the government officials who managed to reduce last month's riots in Tarakan quickly. The riots have only run 3 days and hopefully this out this Tarakan not become hot news on TV anymore.
However, we still need to be alert and do not pay attention when there is news that no clear origin. Provocation had occurred a week since the peace with the graffiti-graffiti blood use in the home pack in Selumit Wahab. Streaks of blood that had sparked residents to prepare for war again. Actors such inducement reportedly been arrested and the blood used was chicken blood. After that there's more variety of other news that could be reignited the mass anger that has been cooled it. The news comes just still continues to this day. Fortunately so far successfully muted.
Bara was really cold yet, and it seems there are still those who can not accept the situation and still hold grudges. People who have not received it tried to provoke unrest continues to happen again. I think it becomes our duty together to try to lure the-teaser that does not work, thanks if the individual that tried to lure turbidity can be caught.
So hope all of us, hopefully Tarakan really secure peace as before.
Sincerely,
DNj.
PS: I avoid the term provocation, because the term is a foreign word.
Build Suggestions
From: jason Garcia (dhammajayo@yahoo.co.id)
Indeed the situation peaceful, safe, and quiet that we all dream. if there are local government officials, officers and teman2 it can to provide direct aspiration of the government town of Tarakan saran2 please inform me:
1. System / corporate governance should be evenly and firmly.
For example: Port SDF and Malundung.
There used to be the provision of tariff barang2 raised by the workers. The authorities must be firm. if the radar Tarakan want a survey, can know the level of user satisfaction and the port of SDF buruh2 Malundung (I think it good to be known by the public). as well as taxi and motorcycle taxi, arranged according to numerical order, so do not fight for passengers.
2. Management of human resources.
The city government should seek to assist local communities to progress together. It is inevitable, that the progress of a region because the information and insights from the smart and intelligent people from outside the area. if orang2 from outside are not able to provide transformation of science, it is proper city government to help communities in the region to move forward together.
3. Safety and Inspection ...?
There rekan2 ever to Malaysia ...? What if we want to enter the area Sabah Sarawak region. Passport examination and given a time limit to visit. Can Do Tarakan implement such a system ...? Sea ports and air as the main route of transportation. data of all persons from outside the area, where they live, who are responsible for them in Tarakan, what their goals, and how long they visit. Ask the assertiveness of community and social paguyuban2 to register their members. Razia ID card and resident outside the area ...
4. Local Regulations.
How much revenue the town of Tarakan of alcoholic beverages ...? is comparable with the effects of these drinks ..?
how the regulations on the circulation of alcohol ..? what is not better every buyer and seller of alcohol is also being recorded ...?
5. Who criminals and crimes that have been caught ..? what penalties have been imposed by the court ...? still unknown by the public. when the suspect has been set. I think it needs to process fast for this settlement.
Similarly, brief advice from me ... anyone wants to add ...?
kata2 apologize if there are less pleased ....
Citizen Response Tarakan
From: anny_susilowati@yahoo.com (anny_susilowati@yahoo.com)
Tarakan was safe ....
The spirit !!!!!
Mas jason, you are my suggestions to convey to the editorial radar teman2 Tarakan. U to the city government, if I see ya later ma pak wali. Thanks ya.
From: irwanto_bambang@yahoo.com (irwanto_bambang@yahoo.com)
safe, comfortable, quiet, peace is the hope and dreams are coveted by everyone who has parents, siblings and friends, and god created man differently is to know each other ... so let fellow colleagues who are here the same as keeping watch and who are comfortable managing the condition becomes more comfortable ..... do not be influenced by issues or gossip that not clear, if listened to that like it see that celebritis gossip ... he he he wrote his mbak anny ..... tul
Source: tarakankota@yahoogroups.com (13 and 14 October, 2010)
City Government of Tarakan Launching Media Center
TARAKAN Borneo - Office of Communications and Information City Government of Tarakan, on Monday (10/11/2010) today launch the media center located in one corner of the office space.
The plan media center will be used for press conferences Tarakan municipal government officials in addressing the various issues that arise in Tarakan.
Mayor of Tarakan Hianggio Haji Udin said the formation of this media center could become a meeting place between Tarakan municipal government officials and media crews in Tarakan.
"So the news that their growing, so there is no buzz about each person willing to give an explanation," he said. Udin emphatically denied that the establishment media center to control the news media will be presented.
"The media center is not to control but we invite each other to cooperate. For example, the news-news that's cool, do not just make a different interpretation," he said.
He said he never intended to ban certain news writing. "So it does not mean that it should be like this. There is no prohibition, you keep it," he said. (*)
Source: TribunKaltim (October 11, 2010)
Mayor of Tarakan: socialization Peace Keep Walking
TARAKAN Borneo - Mayor of Tarakan, Udin Hianggio say, the socialization of the peace agreement continues to be done to the residents of Tarakan. But he refused to explain the roots of conflicts between citizens that occurred late last September.
"Socialization of the peace agreement is still moving. Wakapolda Kaltim go ahead. Indeed, there are still differences but I think we've agreed that perdamiaan it should be realized," he said.
He said the disaster happened in Tarakan is part of a national disaster which also occur in other areas. The disaster in Tarakan nothing when compared to other areas. As the attack police headquarters.
"Clashes occurred everywhere. How national disasters? So what's the government's desire? This we evaluate all including us, you. You probably know better, do not ask the same to me. Why is this nation because of defective moral character," he said.
He was also reluctant to answer when asked crocheted clashed with social jealousy related distribution of natural resources is uneven.
"If asked, this is a muddy issue again. The effort that we do not have the budget in Parliament. For example for the construction of the building arts, later we will also commission III of the House bill promises to help the City Government of Tarakan including patrol boats. Later we both to Jakarta , "he said.
Source: TribunNews (October 11, 2010)
Entri Populer
-
Diusir di Malam Takbiran, Tidur di Emperan Rumah Warga ENTAH sial apa yang menerpa Eva di malam takbiran lalu. Hingga akhirnya, ia harus men...
-
TARAKAN – Hari Ini (senin 12/9) Dinas Pendidikan (Disdik) mengadakan pelatihan pengelolaan Bantuan Operasi Sekolah(BOS) untuk sekolah tingk...
-
Akhir September, Target Penyelidikan Tuntas TARAKAN – Kejaksaan Negeri (Kejari) Tarakan saat ini masih mengumpulkan keterangan dan data ata...
-
Ruang Serba Guna Kantor Walikota Tarakan ,- Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Kalimantan Timur bekerja sama dengan Dinas Komunikasi d...
-
TARAKAN - Do not become a champion Indonesia Seeking Talent (IMB) on Trans TV, Brandon De Angelo does not mean the boy wonder of brilliant ...
-
Imbauan MUI Tarakan Selama Ramadan TARAKAN – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Kota TArakan, KH Zainuddin Dalila mengimbau seluruh tempat ...
-
Puing Lampu dan Kilometer Listrik Diperiksa TARAKAN - Setelah menunggu tim INAFIS (Indonesia Automatic Fingerprints Identification System) ...
-
TARAKAN - Sejumlah tokoh masyarakat yang mewakili korban kerusuhan di Tarakan, mendatangi kantor Walikota Tarakan, Selasa (9/8/2011). Merek...
-
Tarakan - Kementrian kehutanan RI hari ini (Kamis,10-03-2011)melakukan sosialisasi untuk yang ketiga kalinya , tentang Kebijakan Pembanguna...
