Redirect to TarakanBais

Tampilkan postingan dengan label Tarakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarakan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 September 2011

Perumahan di Atas Sungai Bakal Dibongkar

. Minggu, 25 September 2011

Soal Pemukiman Pengganti, Walikota akan Bicarakan dengan Menpera

TARAKAN – Sebagai daerah langganan banjir, Kelurahan Sebengkok selalu menjadi prioritas pelaksanaan berbagai kegiatan pembenahan lingkungan dan penataan kawasan yang diprogramkan pemerintah Kota Tarakan. Lantaran letaknya yang berada di wilayah perkotaan dan menjadi salah satu wilayah pusat perekonomian masyarakat Kota Tarakan.

Salahsatu kegiatan dimaksud, adalah pembenahan fungsi Sungai Sebengkok. Sungai ini, meski bantarannya telah dipermanenkan namun tetap saja dengan mudah mengalami sedimentasi sehingga daya tampungnya mengalami penyusutan drastis. Penyebabnya, perubahan fungsi kawasan hutan di hulu dan sekitar sungai menjadi kawasan pemukiman. Alhasil setiap hujan tiba, air sungai akan meluap dan menggenangi wilayah di sekitarnya. “Kegiatan ini (penggerukan sungai, Red) sifatnya hanya penanganan sementara. Saya sudah meminta kepada instansi terkait agar dapat memikirkan jalan keluarnya (untuk jangka panjang),” ucap Walikota Tarakan H Udin Hianggio kepada Radar Tarakan di sela peninjauan sejumlah lokasi badan Sungai Sebengkok yang mengalami sedimentasi bersama sejumlah kepala SKPD terkait kemarin pagi.

Sedimentasi yang terjadi di Sungai Sebengkok terbilang sangat parah. Bahkan salah satu sistem aliran sungainya tak mampu lagi berfungsi (aliran yang melintasi wilayah Sebengkok AL hingga ke arah laut). “Saya ingin segera memfungsikan aliran itu kembali, sehingga aliran airnya tak hanya satu sisi saja, tapi sebagian bisa lewat situ,” jelas H. Udin. “Ya intinya kita ingin mengupayakan bagaimana badan sungai ini bisa dilebarkan sehingga air yang mengalir didalamnya dapat cepat terbuang ke laut,” imbuhnya.

Untuk merealisasikannya, walikota berencana akan mengosongkan sejumlah pemukiman warga di sekitar bantaran sungai (termasuk yang berdiri diatas sungai, Red) sehingga mempermudah pelaksanaan kegiatan pelebaran dan pembuatan sekat pemisah aliran air dua anak Sungai Sebengkok. “Perumahan yang ada di situ harus dibongkar, utamanya yang dekat sungai masuk ke arah laut. Kebetulan nanti kan ada Menpera (Menteri Perumahan Rakyat), kita akan bicarakan masalah ini (pemindahan pemukiman warga yang terkena pembongkaran, Red),” tandas pria yang sempat menjabat Ketua DPRD Kota Tarakan ini.

Lalu, bagaimana dengan pemukiman warga yang berada di bantaran Sungai Sebengkok lainnya? “Untuk penataan kawasan pinggir sungainya, saya kira butuh cost (biaya, red) yang besar sekali ya. Jadi, akan agak sulit direalisasikan,” aku walikota.

Dalam kegiatan kemarin, dua unit ekskavator dan beberapa truk dikerahkan guna mengeruk pasir yang semakin tinggi di sepanjang sungai Sebengkok tersebut. Dikatakan Kepala Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Pemakaman (DKPP) Subono, kegiatan pengerukan sedimentasi ini sudah dimulai sejak Sabtu (24/9) dan baru akan diselesaikan jika pengerukan dirasa telah selesai. “Pengerukan ini akan kita tuntaskan. Kalau tidak selesai hari ini, akan kita lanjutkan sampai Selasa atau Rabu, (27-28 September 2011),” katanya.

Diungkapkannya, wilayah Sebengkok memang kerap langganan banjir kala terjadi hujan terus-menerus. Sehingga perawatan drainase di wilayah ini perlu dilakukan secara rutin. Karena jika tidak masalah banjir ini akan terus berulang. Mengenai masalah banjir yang terjadi di kota ini, selain di wilayah Sebengkok, di Kelurahan Karang Anyar juga menjadi wilayah yang kerap kebanjiran. “Dua wilayah ini sejak dulu selalu menjadi pilihan kerja bakti, karena kedua daerah ini langganan banjir dibanding daerah-daerah lain,” terang Subono.

Menurutnya penanganan banjir ini menjadi hal yang utama dilakukan pemerintah mengingat kejadian banjir selalu menimbulkan masalah lain, seperti terjadinya sedimentasi kembali dan penumpukan sampah. Nah dari aktivitas kerja bakti/bersih-bersih massal ini, Subono berharap dapat terus diprogramkan secara teratur. Karena selain untuk kebersihan lingkungan, juga menjadi ajang silaturahmi antar masyararakat dengan pemerintah. “Selain itu juga usaha untuk menanamkan budaya cinta kebersihan,” ujarnya.

Untuk wilayah yang menjadi fokus pada kegiatan bersih-bersih massal selanjutnya, Subono mengungkapkan akan dipertimbangkan terlebih dahulu. “Kita akan rapat koordinasi dulu dengan instansi lainnya, daerah mana saja yang menjadi fokus utama untuk kerja bakti atau aksi bersih-bersih masal selanjutnya. Nanti akan dipertimbangkan, kalau seandainya di sini (Sebengkok) masih memerlukan, kita lanjutnya,” imbuhnya. (ndy/jnu/ash)

Sumber : radartarakan (26 September 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Kemarin, Aksi Bersih-bersih Massal di Kelurahan Sebengkok

.

Pengerukan Dilanjutkan

TARAKAN – Program Aksi Bersih-bersih Massal berlangsung pagi kemarin (25/9) di Kelurahan Sebengkok. Dalam pelaksanaannya, terlibat berbagai elemen masyarakat di Kota Tarakan. Mulai aparat keamanan TNI/Polri, pelajar, organisasi kemasyarakatan hingga masyarakat awam. Tak luput pula aparat pemerintah Kota Tarakan yang menjadi motor dari kegiatan ini, utamanya Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Pemakaman (DKPP) Kota Tarakan yang berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) serta Dinas Kesehatan (Dinkes).

Fokus utama kegiatan pagi itu, adalah pengerukkan Sungai Sebengkok yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi dan sampah warga. Sedikitnya, ada tiga unit alat berat jenis eskavator diturunkan untuk membantu mempercepat proses pembersihan sedimentasi. Alat berat tersebut sudah dioperasikan sejak Sabtu (24/9) lalu, dan informasinya tetap akan stand by hingga beberapa hari. “Saya sudah minta ke Dinas PU untuk tetap melanjutkan kegiatan pengerukkan sungai hingga besok (hari ini) atau lusa. Kasihan juga warga kita yang terhambat transportasinya karena banyak jembatan dibongkar,” ujar Walikota H Udin Hianggio kepada Radar Tarakan di sela pantauan kegiatan Aksi Bersih-bersih Massal di Kelurahan Sebengkok, kemarin pagi. Alat berat yang dimaksud, adalah eskavator ukuran kecil. Lantaran, ada wilayah sedimentasi yang laluannya cukup sulit dilewati eskavator ukuran besar.(ndy)

Sumber : radartarakan (26 September 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Sabtu, 24 September 2011

KAHMI Tarakan Gelar Halal Bihalal dan Dialog Interaktif

. Sabtu, 24 September 2011

TARAKAN - Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) kota Tarakan menggelar acara Halal Bihalal, Sabtu (24/9/2011) malam di gedung serbaguna kantor Pemkot Tarakan.

Acara tersebut dirangkaikan dengan Pelantikan Forum Alumni HMI Wati (FORHATI) kota Tarakan periode 2011-2014 dan Dialog Interaktif dengan tema "Interkoneksitas KAHMI dan HMI menghadapi Tantangan Global".

Pelantikan dipimpin Ketua Harian Presidium FORHATI Wilayah Kaltim Hasna SAg MPd, kepada kepengurusan baru FORHATI kota Tarakan dibawah kepemimpinan Rahmatan SE.

Selain para alumni, hadir pula ratusan kader HMI Cabang Tarakan, sejumlah pejabat kota Tarakan, dan Ketua Harian Presidium KAHMI Wilayah Kaltim Darlis Pattalongi.

Dalam sambutannya, Darlis menyatakan HMI adalah organisasi besar yang selalu menjaga interkoneksitasnya dengan para alumninya. "Salah satu spirit kita di HMI karena mampu menjaga tali silaturahmi itu, nah kalau ini sudah hilang maka saya khawatir semangat juang dan eksistensi HMI juga akan hilang," ujarnya.

Penulis : Syaiful Syafar
Editor : Reza Rasyid Umar
Sumber : Tribun Kaltim

Sumber : tribunnews (24 September 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Bawa Kayu Ilegal, Warga Bulungan Ditahan

.

TARAKAN - Anggota Reserse Kriminal Kepolisian Resor Tarakan mengamankan seorang pria asal Bulungan. Pria berinisial YDL (28) ini ditangkap Jumat malam lalu (16/9) sekitar pukul 22.00 wita di perairan depan Pelabuhan Tengkayu II.

Dia diamankan, karena membawa, mengangkut kayu olahan sebanyak kayu olahan jenis Meranti dan Bengkirai sebanyak 6 kubik tanpa dokumen.

Kepala Kepolisian Resor Tarakan Ajun Komisaris Besar Polisi Drs Agustinus Budi Prasetyo SH MH, melalui Kapala Sub Bagian Hubungan Masyarakat Polres Tarakan, Ajun Komisaris Polisi Subarjo membenarkan, adanya tangkapan seorang tersangka kasus kehutanan.

Kronologisnya jelas Subarjo, Jumat malam anggota Reskrim yang sedang melakukan patroli di perairan Pelabuhan Tengkayu II atau lebih dikenal dengan pelabuhan perikanan, melihat ada sebuah longboat mengangkut kayu olahan. Kemudian olah anggota kepolisian ini menanyakan dokumen dan surat lainnya, namun motoris yang kini menjadi tersangka itu tidak dapat menunjukkan dokumen dimaksud.

Akibatnya, YDL dijerat pasal 50 ayat (3) huruf h jo pasal 78 ayat (7) UU RI Nomor 4 Tahun 1999 tentang Kehutanan, yang berbunyi setiap orang dilarang mengangkut, menguasai atau memiliki hasil hutan yang tidak dilengkapi bersama-sama dengan surat keterangan sahnya hasil hutan.

Selain tersangka, tambah Subarjo, polisi juga menyita barang bukti berupa 1 unit longboat dan mesin 40 PK yang digunakan tersangka untuk mengangkut kayu serta kayu olahan sebanyak kurang lebih 6 meter kubuk rimba campuran yang terdiri dari Meranti dan Bengkirai.(noi)

Sumber : radartarakan (24 September 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Penyidikan Facebook Akun TarakanKu Tunggu Koordinasi

.

TARAKAN - Proses penyidikan terhadap dugaan pencemaran nama baik yang dikirim melalui “dunia maya” atau akun jejaring sosial Facebook “TarakanKu”, belum membuahkan hasil. Karena penyidik Kepolisian Resor Tarakan sendiri masih menunggu hasil konsulatsi dengan tim IT Mabes Polri.

Kapolres Tarakan Ajun Komisaris Besar Polisi Drs Agustinus Budi Prasetyo SH MH melalui Kepala Sub Bagian Hubungan Masyarakat Ajun Komisaris Polisi Subarjo menyatakan, saat ini masih tahap koordinasi dengan tim IT Mabes Polri.

Sementara menunggu hasil koordinasi, penyidik juga masih memeriksa sejumla saksi-saksi terkait. “Sudah ada beberapa saksi yang dimintai keterangannya, namun walikota sendiri belum dimintai keterangan karena masih di luar kota,” tegasnya.

Disinggung adanya informasi soal pelaku yang telah meminta maaf kepada walikota, Subarjo mengatakan, kasus ini bukan delik aduan, sehingga proses perkaranya dapat dihentikan atau ketika korban mencabut laporannya.

“Apakah benar informasi tersebut atau tidak, sampai saat ini walikota sendiri belum dimintai keterangannya sebagai saksi korban. Jadi penyidik sendiri belum mengetahui hal tersebut,” kata Subarjo lagi.

Nah kalau pun ada yang meminta maaf kepada walikota yang mengaku sebagai pelaku atau sebagai perantara pelaku dalam menyampaikan permohonan maaf. Bukan menjadi penghalang atau penghambat proses penyidikan polisi.(noi)

Sumber : radartarakan (24 September 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Dua Kelompok Siswa Nyaris Bentrok

.

TARAKAN – Memalukan! Hanya karena persoalan SMS dari sang pacar, sekelompok siswa dari dua sekolah yang berbeda di tarakan siang kemarin bentrok.

Meski pun tidak ada korban maupun luka-luka dalam insiden yang mencoreng citra pendidikan tersebut, namun langsung direspon aparat kepolisian dengan mengamankan dan memeriksa 5 siswa dari salah satu sekolah menengah atas yang berada di Kecamatan Tarakan Timur.

IGN alias IW di hadapan polisi menceritakan, awal persoalannya dia tidak tahu menahu. Hanya saja dalam perjalanan pulang dari sekolah menuju rumahnya, ia dipanggil oleh beberapa temannya untuk singgah di sekolah menengah atas yang berada di Kecamatan Tarakan Tengah.

Setelah berada di sekitar sekolah swasta ini, barulah dia mengetahui kalau sekelompok temannya yang lebih dari 10 orang itu berencana menyerang siswa di sekolah yang beralamat di Kelurahan Pamusian itu.

“Sempat saya menanyakan pokok persoalan dan melarang teman-teman karena orang yang bermasalah juga tidak ada,” kata IGN.

Aksi nekad sekelompok siswa ini tentu membuat siswa sekolah yang didatangi tersebut terusik, sehingga begitu pagar sekolah bagian belakangnya dibuka (bertepatan jam pulang sekolah) aksi kejar-kejaran pun terjadi dan mulai mengarah pada bentrokan.

Beruntuk pihak sekolah dan pihak kepolisian sigap atas insiden dimaksud, sehingga aksi bentrokan tidak meluas dan 5 siswa dimaksud berhasil diamankan.

Sementara itu, CRD -- siswa kelas II IPS 2 yang diketahui sebagai aktor di balik insiden tersebut mengakui jika saat datang ke sekolah tersebut bersama 6 orang teman sekolahnya.

Tujuannya, dia ingin menanyakan ICR -- pacarnya tentang isi pesan yang dikirimkan kepada dirinya. “Saya datang bersama 6 orang teman saya dengan maksud mau menanyakan SMS yang dikirim melalui nomor telepon pacar saya,” kata ICR.

Namun belum sempat menanyakan ikhwal tersebut, justru sudah terjadi insiden keributan antara kedua kelompok siswa dari sekolah yang berbeda itu. Hingga siang kemarin, kelima siswa masih menjalani pemeriksaan secara maraton di Kepolisian Resor Tarakan.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan, Tajuddin Tuwo mengungkapkan, masalah tersebut harus dilihat terlebih dahulu duduk persoalannya. "Bila insiden itu sudah sangat fatal, kita akan melaksanakan tindakan yang lebih keras lagi baik terhadap siswa yang melakukan itu maupun kepada pihak sekolah," jelas Tajuddin.

Diakuinya, kejadian tersebut belum mengerti karena tidak mendapat laporan dari pihak kedua sekolah tersebut. Mengenai skorsing yang akan diberikan kepada siswa, jelas Tajuddin, tetap perlu dilihat dari persoalannya. Menurutnya, barang (handphone) tidak pantas dibawa anak-anak ke sekolah karena salah satu penyebabnya yang menghimpun secara cepat siswa dengan cara SMS-an dan telepon-teleponan.(noi/ipk)

Sumber : radartarakan (24 September 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Promosi Produk Lokal Lewat Expo Internasional

.

Satu Stan Dipatok Rp 10 Juta

TARAKAN- Upaya pemerintah Kota Tarakan untuk memperkenalkan serta mempromosikan produk-produk unggulan Tarakan terus dilakukan.

Selain mengikuti expo di luar Tarakan baik tingkat provinsi, nasional hingga mancanegara seperti ke Negara tetangga. Bahkan Oktober bulan depan, dalam rangka menjelang hari jadi Kota Tarakan ke-13 tahun kali ini, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah Tarakan kembali akan menggelar sebuah pameran akbar.

Even akbar itu akan digelar pada Oktober dan Desember mendatang. Khusus di bulan Oktober, even yang digagas oleh Disperindagkop Tarakan ini dengan nama Tarakan International Expo (TIE) merupakan pergelaran yang kali pertamanya di Utara Kaltim di tingkat Nasional dengan salah satu tujuan memperkenalkan produk-produk lokal kepada dunia luar.

“Untuk kegiatan TIE nanti peserta yang datang bukan hanya dari daerah Tarakan dan Kaltara saja, tetapi juga dari daerah lain dari luar Kalimantan. Bahkan dari Negara tetangga seperti Malaysia, Filipina dan Brunei,” kata Panitia pelaksana, Rury Indah kepada Radar Tarakan, kemarin (23/9).

Pameran itu rencananya akan digelar pada 6-10 Oktober mendatang di Tarakan Tenis Indoor Keramat.

Dijelaskan, dalam pameran TIE itu mempromosikan produk-produk unggulan Indonesia melalui wilayah perbatasan. Serta membangun jaringan bisnis dan peluang ekspor, membangun UKM yang berpotensi ekspor untuk dapat melakukan ekspor dan memperluas pasar ke Mancanegara. Seperti produk agribisnis, teknologi informasi dan komunikasi, pariwisata, tekstil dan produk tekstil, alas kaki, otomotif, produk mebel, aneka kerajinan.

Termasuk didalamnya akan memamerkan berbagai produk lokal. Seperti hasil-hasil industry, produk UKM, hasil pertanian, berbagai kuliner hingga produk otomotif dan pertambangan.

“Partisipasi dalam pameran internasional ini berasal dari instansi pemerintah, pemerintah kota, kabupaten dan provinsi, BUMN dan BUMD, perusahaan ekspor di Kalimantan, ekspor nasional dan swasta,” katanya.

Khusus untuk even TIE, pihak panitia menyediakan sebanyak 60 stand dengan harga sewa setiap stand dipatok Rp 10 juta. Pameran ini akan berlangsung dari pagi hingga malam hari. “Sudah ada 30 stand yang terisi atau yang mendaftar, sebenarnya batas pendaftaran dibuka sampai tanggal 25 September. Tapi kita majukan sampai batas waktu tidak ditentukan khusususnya kesempatan bagi lokal,” pungkas Ruri kepada wartawan ini. (sur/har)

Sumber : radartarakan (24 September 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Hari Ini, Mobilisasi Alat Berat Dekati Lokasi

.

Besok Pagi, Aksi Bersih-Bersih Massal

TARAKAN – Minggu besok (25/9), Aksi Bersih-Bersih Massal se-Kota Tarakan akan dilaksanakan. Kegiatan ini dilaksanakan di seluruh kelurahan. Untuk tingkat kota, kegiatan dipusatkan di Jalan Pangeran Diponegoro, Kelurahan Sebengkok, mulai depan kantor Bulog hingga Markas Komando Pangkalan TNI Angkatan Laut (Mako Lanal).

Kepala Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Pemakaman (DKPP) Kota Tarakan, Subono Samsudi mengatakan, khusus kegiatan yang dipusatkan di Kelurahan Sebengkok, kemarin dan hari ini telah dilakukan persiapan.

“Besok (hari ini) mulai dilakukan mobilisasi alat berat,” kata Subono Samsudi kepada Radar Tarakan kemarin (23/9).

Pantauan wartawan koran ini sore kemarin, Lurah Sebengkok Rahmat Kartolo juga terlihat mengkoordinir sejumlah warga melepas papan jembatan yang menutupi sebagian saluran di jalan tersebut. Sehingga diharapkan tidak menyulitkan alat berat yang akan mengeruk sedimentasi pasir yang mengendap di sepanjang saluran tersebut.

“Jadi sedimentasi inilah yang mendangkalkan saluran dan menyebabkan daerah ini cepat terjadi banjir jika hujan mengguyur wilayah tersebut,” kata mantan kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Tarakan itu.

Masih dikatakan Subono, sejumlah instansi juga menyatakan siap berpartisipasi pada Aksi Bersih-Bersih Massal se-Kota Tarakan yang dilaksanakan besok.

”Dari PT Medco juga siap membantu di antaranya dengan menurunkan armadanya. Begitu juga dengan PT Pertamina dengan alat beratnya, di samping alat berat dari Dinas Pekerjaan Umum,” sebutnya.

Dinas Pendidikan Kota Tarakan juga menyatakan siap mendukung sepenuhnya kegiatan Aksi Bersih-bersih Massal se-Kota Tarakan besok pagi.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan Tajuddin Tuwo mengatakan, seluruh sekolah mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak hingga Sekolah Lanjutan Tingkat Atas akan dilibatkan dalam aksi peduli lingkungan tersebut.

“Semua pelajar yang ada di Tarakan mulai dari TK sampai SMA akan kita libatkan dalam Aksi Bersih-Bersih Massal se-Kota Tarakan ini dalam rangka membiasakan diri dalam menjaga kebersihan Kota Tarakan,” kata Tajuddin Tuwo kepada Radar Tarakan kemarin (23/9).

Agar dalam kegiatan Aksi Bersih-Bersih Massal se-Kota Tarakan itu tepat sasaran, Dinas Pendidikan Kota Tarakan telah menetapkan zona atau wilayah yang akan dibersihkan seluruh pelajar se-Tarakan.

“Semua sekolah memiliki zona khusus untuk membersihkan lingkungannya yang diketuai oleh kepala sekolahnya masing-masing,” kata mantan kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Tarakan ini.

Intinya lingkungan di sekitar sekolah dalam kegiatan Aksi Bersih-Bersih Massal se-Kota Tarakan besok pagi, kata dia, menjadi tanggung jawab sekolah masing-masing. “Misalnya untuk SMP 1 zonanya ditetapkan mulai di depan sekolah di Jalan Pangeran Diponegoro sampai di depan Distributor Semen Garindo, kemudian dilanjutkan SMK 1, SMP 7 dan MTS Al Khairat sampai di sekitar Sebengkok AL,” sebutnya.

Lebih lanjut Tajuddin juga menyampaikan, siswa SMA 1 Tarakan juga akan diarahkan di sekitar wilayah Kelurahan Sebengkok. Sementara SMP 2 dan SMP Tunas Kasih Tarakan mendapat tugas membersihkan lingkungan di sekitar Jalan KH Dewantara hingga komplek pertokoan THM. “SMP 4 di sekitar wilayah Selumit bersama SD dan SMP Muhammadiyah Tarakan,” katanya.

Sementara itu, SMA Hang Tuah ditempatkan di Jalan Martadinata hingga ke Jalan Imam Bonjol, Markoni, yang kemudian dilanjutkan SMP Katolik dan SMA Don Bosco hingga ke Jalan Kusuma Bangsa.

Sekolah-sekolah lainnya seperti SMA 2 dan SMP 3, SMP 5 Tarakan serta sekolah yang ada di luar pusat kota seperti di Tarakan Utara juga akan terlibat dalam aksi ini di sekitar lingkungan sekolahnya masing-masing yang tengah dikoordinir oleh Forum Komunikasi Sekolah.

“Aksi Bersih-Bersih Massal se-Kota Tarakan ini harus didukung semua pihak, siswa, orang tua serta masyarakat umum agar Tarakan tetap kelihatan bersih, dan pelaksanaan pendidikan juga bisa berjalan dengan baik,” pungkas Tajuddin Tuwo.(ipk/sur/ris)

Sumber : radartarakan (24 September 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Penyidik Diminta Ekspos di BPKP

.

Selanjutnya Penetapan Tersangka Kasus Porprov

TARAKAN – Setelah lama menunggu, akhirnya penyidik Reserse Kriminal Kepolisian Resor Tarakan mendapat jawaban dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) terkait penyidikan kasus Pekan Olahraga Provinsi (Porprov). BPKP meminta penyidik melakukan ekspos hasil penyidikan di hadapan tim BPKP di Samarinda.

Kepala Kepolisian Resor Tarakan, Ajun Komisaris Besar Polisi Drs Agustinus Budi Prasetyo SH MH melalui Kapala Sub Bagian Hubungan Masyarakat Ajun Komisaris Polisi Subarjo menyampaikan hal tersebut kemarin (23/9).

“Kami baru terima balasan surat dari BPKP, yang pada pokoknya penyidik diminta untuk mengekspos hasil penyidikan,” kata Subarjo.

Atas jawaban tersebut lanjut Subarjo menerangkan, penyidikan terlebih dahulu konsultasi soal waktu ekspos. Mengingat ekspos perkara di hadapan tim BPKP itu dilakukan di Samarinda. “Diupayakan dalan waktu dekat atau dalam minggu pekan ini penyidik sudah bisa melakukan ekspos,” harapnya.

Ekspos yang dimaksud kata Subarjo, di hadapan tim BPKP penyidik Reserse Kriminal akan menguraikan sejauh mana penanganan kasus dugaan korupsi pada kegiatan Porprov 2010 di Samarinda dan Bontang, serta dugaan sementara kerugian negara yang timbul sesuai dengan hasil penyidikan.

Setelah ekspos dan apabila hasil penyidikan itu dikuatkan oleh tim BPKP, adanya kerugian negara yang timbul, langkah selanjutnya adalah penetapan tersangka oleh penyidik Reserse Kriminal Kepolisian Resor Tarakan.

Diberitakan sebelumnya, Kapolres AKBP Agustinus Budi Prasetyo menyampaikan, dalam kasus ini sementara ada dua orang yang menjadi bidikan sebagai calon tersangka. Namun demikian, jumlah tersangka bisa tertambah setelah adanya ekspos di hadapan BPKP.(noi)

Sumber : radartarakan (24 September 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Pedagang Daging Diarahkan di Satu Tempat

.

TARAKAN – Direktur Operasional Perusahaan Daerah Tarakan, Kartono Nitisasmito mengatakan, pemindahan pedagang daging yang dilakukan perusahaan daerah kepada sejumlah penjual daging ayam di Pasar Tenguyun beberapa waktu lalu merupakan salah satu langkah upaya untuk memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Sebab, jika para pedagang tersebut masih bertahan di tempat mereka berjualan yang lama, yaitu di Blok C3, penjualan tersebut tidak akan higienis karena bercampur dengan pedagang sayuran, sembako, ikan, dan lainnya.

“Selama ini yang dikelola perusahaan daerah hanya mengikuti apa perintah dari pemerintah,” kata Kartono Nitisasmito.

Salah satu contoh, pemerintah kota sudah membangunkan tempat yaitu Kios Daging Higienis di Pasar Boom Panjang agar kondisi pasar tetap bersih dan tidak kotor. Bangunan Kios Daging Higienis tersebut memang dikhususkan untuk penjualan ayam dan daging sehingga penjualan di pasar tidak bercampur.

“Sebenarnya para pedagang ini diberi kehormatan di satu tempat yang higienis,” ujar mantan ketua Komisi Pemilihan Umum Kota Tarakan itu.

Dulu, sebagian besar pedagang memang mau untuk masuk dan menempati Kios Daging Higienis tersebut. Namun karena alasan kurang laku maka ada yang tidak mau dan kembali ke pasar umum.

“Alasannya macam-macam, yang jelas sikap ego tidak memikirkan kepentingan umum,” ujarnya.

Disinggung soal adanya transaksi jual beli los di pasar Boom Panjang, tidak dibantah Kartono. “Hampir di semua pasar memperjualbelikan mejanya kepada pihak lain, padahal dalam izin yang diberikan pemerintah melalui perusda hal tersebut tidak dibenarkan apalagi memperjualbelikan meja atau bangunan,” beber pria yang berdomisili di Jalan Ronggolawe, Pamusian.

Untuk itu, pihak perusda berjanji akan menegaskan persoalan ini dengan kembali melakukan sosialisasi sesuai dengan surat perjanjian yang dibuat antara perusda dengan pedagang. “Kami akan memberitahukan kembali kepada mereka bahwa perusda tidak bertanggung jawab,” tegasnya.

Menurut Kartono, perbuatan ini jelas mengkomersialisasikan pasar. Padahal hal tersebut tidak dibenarkan.

“Di Gusher juga demikian, di THM juga demikian,” ungkapnya. Namun untuk upaya ini, pihaknya akan melakukan pendekatan kepada para pedagang dengan cara yang persuasif.(ddq)

Sumber : radartarakan (24 September 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

PL Tarakan Timur Bisa Digeser

.

TARAKAN – Tampaknya pemerintah kota tidak kehabisan akal agar pelaksanaan proyek penunjukkan langsung (PL) di Kecamatan Tarakan Timur yang sempat terkendala lantaran dianggap menyalahi administrasi sehingga enggan dijalankan oleh Camat Tarakan Timur Hanip Matiksan. Bahkan Hanip saat itu mengaku sempat mengajukan pengunduran diri kepada walikota, agar posisinya aman dari jeratan hukum. Namun ternyata, pada mutasi kemarin posisi Hanip sebagai Camat Tarakan Timur justru tidak bergeser sama sekali. “Nanti kami cek proses suratnya sudah sampai dimana, apakah masih di BKD atau bagaimana,” kata Badrun. Atau justru surat pengunduran diri tersebut belum pernah dibuat oleh yang bersangkutan. Pasalnya, sampai dengan kemarin Sekkot sendiri belum pernah melihat surat pengunduran diri tersebut secara fisik. Hanya mendengar dari media saja. “Itu kan katanya koran saja,” celetuk Badrun. Lalu soal PL di Kecamatan Timur tersebut, Badrun justru menganggap tidak ada yang menjadi kendala dalam pelaksanaannya. Menurutnya, ada dua ikatan yang mengungkung mereka sebagai pejabat, pertama secara struktural. Yaitu kecamatan dan kelurahan sebagai instansi pemerintah daerah sesuai Undang-Undang (UU) nomor 32 tahun 2004. Dan yang kedua, dalam ketentuan pengelolaan keuangan negara disebutkan bahwa kepala satuan kerja adalah pengguna anggaran. Oleh karena itu, secara terstruktural dan berjenjang merupakan hubungan struktural antara atasan dan bawahan. Sementara di sisi lain sebagai pengguna anggaran struktural tersebut bisa disinkronkan. Dari itu, Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dituntut untuk selalu beradaptasi dengan kondisi yang terus berkembang. Sehingga hal-hal yang muaranya kepada masyarakat, diharapkan tidak terkendala. “Banyak upaya ke arah sana. Saya kira kita tidak menyalahkan Camat Tarakan Timur atau Camat-camat lainnya namun bagaimana persoalan ini dilihat secara generalis dan menyeluruh dalam cakrawala yang utuh,” tandas Badrun.

Lalu apakah ada kemungkinan Silpa (Sisa lebih penggunaan anggaran) di Kecamatan Tarakan Timur akan membengkak tahun ini? ”Sekali lagi banyak cara untuk bagaimana memberikan pelayanan kepada masyarakat. Soal mekanisme anggaran, tentu akan dievaluasi,” kata Badrun. “Misalnya bisa digeser ke unit lain, bisa ditarik atau dengan cara lain, kan tidak ada masalah,” sambungnya.

Namun sebelum dilakukan pergeseran anggaran dari Kecamatan Tarakan Timur ke unit atau SKPD lainnya, tentunya TAPD akan membicarakan hal ini dengan DPRD Tarakan, dengan catatan proses ini tidak menjadi kendala terhadap output pelayanan kepada masyarakat.(ddq/ndy)

Sumber : radartarakan (24 September 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Sulit Bergerak Andalkan Rp 50 Juta

.

Berharap DPRD Dukung Kegiatan KPAD Tarakan

TARAKAN – Puluhan kegiatan dan rencana kerja disampaikan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) kepada KPA Daerah Kota Tarakan. Entah mana yang akan dapat terwujud, tentunya tergantung daripada kesiapan sumberdaya manusia (SDM), fisik (sarana dan prasarana) juga pendanaan. Dikatakan ketua KPA Daerah Kota Tarakan Suhardjo, jangan sampai seluruh kegiatan yang disampaikan kepada pihaknya hanya singgah “di mulut’ dan tak terealisasi satupun. “Reaksional kita, pastinya mendukung. Tapi, jangan sampai semua itu hanya sebatas omongan doang. Minimal, kegiatan yang dilakukan KPA Provinsi dapat bersinergis dengan apa yang direncanakan KPA Daerah,” ungkap pria yang menjabat Wakil Walikota Tarakan ini kepada Radar Tarakan, baru-baru ini.

Saat ini, dari sisi dukungan SDM mungkin KPA Daerah Kota Tarakan memiliki kecukupan termasuk ketersediaan sarana dan prasarana. Namun dari dukungan pendanaan-APBD Kota Tarakan, KPA Daerah Kota Tarakan hanya mengandalkan posting anggaran sebesar Rp 50 juta per tahun. Dengan dana sebesar itu, kata Suhardjo, akan sangat sulit bagi pihaknya untuk merealisasikan berbagai program kegiatan yang sudah dirancang pihaknya atau oleh KPA Provinsi dan KPA Indonesia. “Ya, kita sulit bergerak. Dengan dana sebesar itu, ya kita kerjakan apa yang bisa kita lakukan. Dan, pastinya tak mungkin bisa kegiatan yang besar,” keluhnya. “Sementara itu, luasan kegiatan KPA ini sangat penting. Lantaran mengurusi masalah HIV/AIDS yang kini sudah merebak hingga ke remaja,” imbuhnya.

Dari itu Suhardjo berharap selain dukungan SDM dan sarana-prasarana direalisasikan, pendanaan untuk KPA Daerah Kota Tarakan pun dapat ditingkatkan. “Semoga saja DPRD dapat melihat betapa pentingnya keberadaan KPAD bagi penuntasan masalah HIV/AIDS dan dampaknya di masyarakat. Sehingga DPRD dapat memberikan dukungan secara nyata lewat teranggarkannya dana kegiatan KPAD dalam nominal yang masuk akal,” tandasnya.

DAERAH TRANSIT, HIV/AIDS JADI MOMOK

Salahsatu kegiatan yang diharapkan dapat segera terealisasi adalah penyisipan materi HIV/AIDS didalam kurikulum salahsatu mata pelajaran yang serumpun pada jenjang SLTP dan SLTA. Menyikapi hal ini, Suhardjo mengaku hal tersebut adalah sebuah langkah positif yang memang sepantasnya mendapat dukungan. “Lewat penyisipan ini, maka sosialisasi tentang bahaya HIV/AIDS kepada generasi muda dapat dilakukan secara komprehensif. Hanya saja dalam pelaksanaannya kelak, diatur sedemikian rupa sehingga tidak berbenturan dengan aturan terkait,” ujarnya.

Program yang rencananya akan diujicoba di tiga kota di Kaltim ini-Samarinda, Balikpapan dan Tarakan, juga diharapkan dapat berlangsung secara kontinu. “Tarakan kan kota transit, jadi saya kira upaya antisipasi dini dengan memberikan pengetahuan yang mumpuni soal HIV/AIDS kepada masyarakat mampu meminimalisir tingkat penularannya,” tandasnya. Dampak lainnya, adalah makin mudahnya pihak terkait dalam mengumpulkan data soal penyebaran HIV/AIDS di masyarakat. Ekspektasinya, masyarakat Tarakan utamanya generasi muda telah mengetahui bagaimana menghadapi orang dengan HIV/AIDS dan bagaimana memperlakukan mereka.(ndy)

Sumber : radartarakan (24 September 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Jumat, 23 September 2011

Selundupkan BBM Subsidi ke KTT

. Jumat, 23 September 2011

Motoris Longboat Ditangkap di Pelabuhan Tengkayu II

TARAKAN – Agus Salim (39), warga Jalan Aji Maulana, Desa Buong Baru RT 02 Kecamatan Sesayap Hilir, KTT, tak berkutik saat ditangkap anggota Kepolisian Resor Tarakan di Pelabuhan Tengkayu II atau dikenal sebutan pelabuhan perikanan, belum lama ini.

Saat itu, tersangka mengangkut bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis premium untuk selanjutnya akan dibawa ke Betayau, KTT.

Akibatnya beber Kapolres Tarakan AKBP Drs Agustinus Budi Prasetyo SH MH melalui Kasubag Humas AKP Subarjo, tersangka disangkakan melanggar UU Migas.

Subarjo menjelaskan, setiap orang yang menyalahgunakan pengangkutan dan/atau niaga bahan bakar minyak yang bersubsidi pemerintah dan setiap orang yang melakukan pengangkutan minyak dan gas bumi tanpa izin usaha pengangkutan sebagaimana dimaksud/diatur dalam rumusan pasal 55 subsider pasal 53 huruf b UU RI Nomor 22 Tahun 2001 tentang Gas dan Minyak Bumi.

Selain tersangka, lanjut Subarjo membeberkan, polisi juga menyita sejumlah barang bukti berupa 1 perahu kayu dengan dua unit mesin tempel merek Yamaha masing-masing satu mesin berukuran 15 PK, dan satunya lagi 30 PK. Kemudian 5 drum atau sekitar 900 liter BBM jenis premium.

Kronologis penangkapannya pada Jumat lalu (16/() sekitar pukul 20.15, anggota Reserse Kriminal melakukan patroli laut di Pelabuhan Tengkayu II dan mendapakan sebuah perahu kayu yang mengangkut drum yang diduga BBM bersubsidi. Setelah dilakukan pemeriksaan surat atau dokumen angkut dan ternyata, tersangka tidak memiliki izin usaha pengangkutan maupun dokumen lainnya tentang BBM yang dimuatnya tersebut.

Karena tidak dapat menunjukkan izin usaha, tersangka dibawa ke polres untuk diproses sesuai dengan pelanggarannya.(noi)

Sumber : radartarakan (23 September 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Residivis Kasus Sabu Ditangkap Lagi

.

TARAKAN - Satuan Reserse Narkoba Kepolisian Resor Tarakan, Selasa malam (20/9) mengamankan seorang pria yang mengaku tinggal di RT 21 Sebengkok Waru, Kelurahan Sebengkok. Pria 44 tahun berinisial ABJ diamankan polisi karena diduga memiliki, menyimpan, menguasai atau menyediakan dan atau menyalahgunakan narkotika golongan I bukan tanaman, diduga jenis sabu-sabu.

Kepala Kepolisian Resor Tarakan Ajun Komisaris Besar Polisi Drs Agustinus Budi Prasetyo SH MH melalui Kepala Satuan Reserse Narkoba Ajun Komisaris Polisi Ngadimin menyampaikan, selain tersangka, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti. Meliputi 1 set bong lengkap dengan pipet, 1 buah pipet kaca, 1 buah jarum pembakar, 1 buah sedotan plastik putih, 3 buah korek gas, 1 gunting, 7 bungkus plastik bening berukuran kecil bekas pembungkus sabu-sabu. Hasil tes urine tersangka dinyatakan positif.

Ngadimin membeberkan, penangkapan tersangka ini bermula dari informasi masyarakat yang menyebutkan di rumah tersangka ada pesta sabu.

“Setelah menerima informasi tersebut, saya pun langsung menginstruksikan anggota untuk melakukan penggerebekan. Namun pesta sabu dimaksud sudah selesai dan tinggal tersangka seorang diri di rumahnya,” beber Ngadimin.

Polisi langsung menggeledah rumah dan mendapatkan barang bukti yang ada. Hasil tes urinenya mendukung (positif), sehingga tersangka dibawa ke polres guna dilakukan penyidikan.

Hingga berita ini diturunkan, tersangka sudah dijebloskan ke tahanan dengan sangkaan melanggar pasal berlapis, yaitu pasal 112 ayat (1) subsider melanggar pasal 127 ayat (1) huruf a UU RI Nomor 35 Tahun 2009.

“Perlu diketahui, tersangka ini baru bebas dari Lembaga Pemasyarakatan Tarakan bulan Juli 2011 setelah menjalani hukuman 1 tahun penjara dengan kasus yang sama,” tegas Ngadimin.(noi/ris)

Sumber : radartarakan (23 September 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Kisah Eva dan Tiga Anaknya yang Terusir dari Rumah

.

Diusir di Malam Takbiran, Tidur di Emperan Rumah Warga

ENTAH sial apa yang menerpa Eva di malam takbiran lalu. Hingga akhirnya, ia harus menguatkan diri, mental dan pikirannya untuk memohon belas kasih dari orang yang memiliki sedikit rasa prihatin dengan keadaan ia dan tiga orang anaknya. Baginya, asalkan bisa membaringkan tubuhnya yang lelah dan menenggelamkan tiga buah hatinya ke alam mimpi, ia tak peduli lagi apakah saat pagi harinya harus dicaci maki, diusir atau entah apalagi hinaan yang menerpanya. Atau malah nasib baik yang menyebelahinya.

“Semua ini bermula ketika suami saya (suami kedua, red)-bertengkar dengan saudara saya terkait masalah keluarga, hingga akhirnya ia harus masuk penjara di malam takbiran lalu. Entah bagaimana, saya pun diusir keluar dari rumah orangtua saya di Kampung Baru,” cerita Eva sembari meneteskan air mata kepada Radar Tarakan, kemarin siang.

Kala itu ia dan tiga anaknya berada di ruang tindakan Puskesmas Sebengkok untuk diperiksa kondisi kesehatannya. Sebab ia ditemukan dalam keadaan yang sangat lemah dan sempat pingsan beberapa lama. Sejak malam 1 Syawal itulah, Eva mulai memberanikan diri menyusuri Kota Tarakan sembari menjaga dan mengawasi pola tingkah ketiga anaknya.

Beruntung ia memiliki putra seperti Nanda yang tidak nakal, cerdas dan gesit hingga mampu mengayomi kedua adiknya, Cinta yang manis dengan alisnya yang tebal dan Nella yang pendiam. Puluhan rumah warga tak dikenal pernah didatangi Eva. Jika beruntung Eva diizinkan menginap barang sehari dua hari, plus bantuan makan-minum dari warga yang simpatik. “Beberapa masjid saya singgahi, termasuk masjid di Markoni. Disana saya dikasih makan sama orang yang simpatik, diizinkan tidur hingga beberapa hari lalu saya pergi lagi ke tempat lain,” ujar wanita kelahiran Tarakan yang sempat bersekolah hingga kelas 2 SMA ini. “Saya sering diusir mas, karena dianggap mengotori dan merepotkan yang punya rumah. Bahkan di masjid pun, saya sempat diusir. Kalau sudah begitu, saya terpaksa tidur di emper-emper rumah orang sama anak-anak saya. Ya mereka tidak masalah, yang penting Mamak ada kata mereka,” imbuhnya.

Sepeninggal suaminya yang berprofesi sebagai penggergaji kayu dengan upah kecil, wanita bertubuh mungil dengan rambut sedikit ikal dan penuh bekas luka di bagian tubuhnya ini, seadanya menghidupi tiga orang anaknya.

Itupun sebenarnya Eva sudah beruntung, sebab 2 orang anaknya lagi, Aldy dan Reza telah diasuh oleh orangtuanya yang kini sudah berusia 80 tahun. “Saya begini ini, suami saya tidak tahu. Saya pun tidak pernah sekalipun menjenguk suami saya. Itulah harapan terbesar saya saat ini, bertemu dengan suami saya,” kisahnya.

Beban hidup wanita yang sempat mengenyam pendidikan di SMA Negeri 2 Tarakan ini makin berat setelah divonis menderita kanker rahim. Setahun lebih ia merahasiakan penyakitnya ini dari keluarga dan anaknya. “Ya, saya sama suami saya sempat berkonsultasi ke dokter (kandungan). Ya itu, saya divonis menderita tumor (kanker rahim) dan harus diangkat (rahim, red). Saya rahasiakan hal ini dari keluarga, karena saya tak ingin mereka bertambah susah nanti,” ungkapnya.

Eva dan anaknya kali terakhir terlihat luntang lantung di wilayah Sebengkok AL dan terusir dari emper rumah warga yang tidak senang dengan keberadaan mereka. Oleh warga sekitar yang simpati, keberadaan Eva pun dilaporkan ke Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPPKB) Kota Tarakan. “Katanya, Eva ini diusir oleh bapak yang punya rumah. Lantaran, pagi itu ia akan menggelar pesta ulang tahun anaknya, dan takut keberadaan Eva dan anaknya akan ‘mengotori’ rumah mereka,” ucap Kepala BPMPPKB Kota Tarakan, Maryam kepada Radar Tarakan, kemarin siang.

Untuk memastikan bahwa Eva ini benar-benar terhitung warga terlantar, BPMPPKB pun menghubungi pihak-pihak yang berkaitan dengannya. “Langkah kita yang pertama adalah melanjutkan pendidikan anaknya, Nanda di Sekolah Dasar (SD). Dan, soal ini kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, Alhamdulillah mendapat respon baik,” tandas Maryam.

Langkah lainnya, menitipkan Eva dan ketiga orang anaknya di panti jompo yang berada di Kelurahan Juata Permai. “Upaya pemulihan hubungan keluarga yang rusak, adalah yang paling terakhir. Dari itu, kita akan melakukan pendekatan dengan keluarga dan saudara-saudaranya agar mau menerima kembali Eva dan ketiga anaknya,” jelas Maryam yang pagi kemarin mengurus administrasi pendidikan Nanda di SD 001 Selumit. Sekolah ini adalah sekolah yang tak asing bagi Nanda, sebab sudah dua tahun ia bersekolah di SD 001 hingga akhirnya harus ‘libur’ akibat terbawa arus pertikaian rumah tangga orangtuanya.(*)

Sumber : radartarakan (23 September 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Edi dan Warda Masuk Panti Rehabilitasi

.

10 Tahun Kok Warga Tak Ada yang Melaporkan

TARAKAN- Akhirnya Pemkot Tarakan memfasilitasi anak yang memiliki keterbelakangan mental, Edi dan Warda, warga Markoni Gang 6, Tarakan, untuk bisa mendapatkan perawatan medis di RSUD Tarakan. Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB) Kota Tarakan, Mariyam berharap, apa yang dilakukan pemerintah kota ini dapat memberikan harapan hidup yang terbaik buat mereka. Pemeriksaan ke rumah sakit tersebut dilakukan untuk mengetahui sejauh mana psikologis kedua anak yang tidak pernah mengenyam bangku pendidikan ini. ”Kalau memang harus rawat inap ataupun rawat jalan tetap akan kami fasilitasi,” kata Mariyam kepada Radar Tarakan, kemarin.

Sebelumnya diberitakan, Edi (25 tahun), warga RT 23 Kelurahan Pamusian Tarakan, menghabiskan 10 tahun hidupnya hanya dengan duduk dan baring di ruangan seluas 2 x 1 meter. Alasan orangtuanya, karena keluarga sudah tak sanggup lagi membersihkan kotoran yang ditinggalkan Edi di setiap kali ia buang air kecil maupun besar. Hal ini disebabkan karena kondisi fisik Edi yang mengalami penurunan fungsi.

Utamanya fungsi gerak sendi kaki dan tangan sehingga ia kesulitan untuk mengangkat tangan atau menggerakkan kakinya. Selain Edi, ada satu lagi saudaranya yakni bernama Warda yang juga perlu penanganan khusus.

Menilik kasus Edi ini, Maryam mengaku kecewa dengan respon masyarakat yang kurang aktif melaporkan keberadaan tetangganya yang kurang beruntung untuk mendapatkan haknya. “Kita prihatin sekali ya, bagaimana bisa 10 tahun kok tak ada warga yang melaporkan. Padahal dalam undang-undang perlindungan perempuan dan anak sudah jelas, keterlibatan masyarakat sangat utama,” ujarnya.

Lebih jauh dikatakannya, agar bisa dirawat maksimal, Mariyam berharap kepada pihak RT dan kelurahan Pamusian agar segera membuatkan kartu jaminan kesehatan Jamkesda terhadap warga kurang mampu tersebut. Khusus untuk Warda, anak yang secara psikologis kondisinya cukup baik, rencananya akan dititipkan di panti Dinas Sosial dan Tenaga Kerja yang berada di Juata Permai. Panti rehabilitasi ini memang dikhususnya untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus dan harus dibiayai oleh negara.

Saat ini, panti rehabilitasi memang masih didominasi oleh orang-orang tua karena banyak warga jompo yang dititipkan di sana. Dijelaskan Mariyam, kasus yang terjadi pada kedua anak ini dapat dikatakan sebagai akibat dari salah didik yang dilakukan orang tua kepada anaknya. ”Cara mendidik mereka kepada anaknya sangat tidak wajar. Kami mengharapkan agar kasus keterbelakangan mental anak seperti ini jangan diberlakukan tidak manusiawi seperti kedua anak ini. Sebenarnya anak ini hanya tuna rungu atau tidak bisa berbicara, namun karena pengetahuan yang kurang mereka justru disekap,” kesal Mariyam.

Padahal, sambungnya, anak tersebut bisa saja mandiri dengan disekolahkan di SLB (sekolah luar biasa). ”Ini kesalahan orang tua dalam mendidik. Kami akan memberi masukan kepada mereka bagaimana cara mendidik anak yang terbaik, khususnya anak yang memiliki keterbelakangan,” tukasnya.

Pihaknya juga meyakinkan, agar mereka bisa sembuh dari keterbelakangan ini, keduanya diminta untuk tidak kembali dulu ke rumah mereka di Markoni.

Untuk pembiayaan, sambung Mariyam, akan diupayakan untuk masuk dalam anggaran pembiayaan warga tidak mampu oleh pemerintah kota Tarakan.

“Kita sudah berkoordinasi dengan pihak RSUD Tarakan, dan mereka siap menampung Edi untuk pengobatan. Ya, kita berusaha memenuhi hak keluarga Edi yang memang dari golongan keluarga pra sejahtera ya,” tandas Mariyam, kemarin siang. Selain diobati, Edi pun rencananya bakal disekolahkan di sekolah luar biasa (SLB). (ddq/iza)

Sumber : radartarakan (22 September 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Edi, Pria yang 10 Tahun Hidup di Kamar 2x1 Meter

.

Sengaja Dibiarkan Tak Bercelana agar Mudah Buang Hajat

WAJAHNYA tirus. Kaki dan tangannya kecil, seperti tinggal belulang. Rambutnya gondrong. Bagian bawah tubuhnya tak tertutup sehelai benang pun. Ia hanya memakai baju yang dipasang sekenanya. Sambil jongkok, pria ini menatap kosong. Senyum juga hambar. Dia adalah Edi, pria berusia 25 tahun ini tinggal di “kamar” yang sangat sederhana di belakang rumah beton no 144 RT 23 Pamusian, Tarakan.

Meski ia kelihatan tidak terurus, tapi Edi tidak gila apalagi stress. Putra pertama Achmad ini dilahirkan oleh ibunya 25 tahun silam di Jawa dalam keadaan sudah mengalami keterbelakangan mental. Dalam kondisi sakit, belasan tahun silam Edi yang kala itu masih balita diboyong ayah dan ibunya- sudah dua tahun wafat - ke Kota Tarakan. Tujuan kepindahan orangtua Edi, sama dengan tujuan sebagian besar perantau dari Pulau Jawa yakni mencari pekerjaan dan penghidupan yang lebih layak di Tarakan.

Hingga akhirnya Edi dan orangtuanya mendiami rumah mungil yang berada di lereng Gunung Markoni (sekitar makam Jepang) di RT 23 Kelurahan Pamusian. Sebelum ibu kandungnya meninggal, Edi sebagai putra bungsu mendapat kasih sayang penuh. Mungkin karena keterbatasan pengetahuan atau masalah ekonomi, Edi tak disekolahkan di sekolah luar biasa (SLB).

Seiring berjalannya waktu, karena keterbatasannya, Edi tak bisa mengurus dirinya sendiri. Alasan itulah kemudian yang membuat keluarganya menempatkan Edi di ruangan teramat sangat sederhana berukuran 2x1 meter, 10 tahun lalu. Di ruangan inilah, selama 10 tahun Edi tidur, buang hajat dan melakukan aktivitasnya lainnya. Sampai akhirnya, tim dari bersama tim Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Tarakan, dua hari lalu mengunjunginya dan memindahkan Edi ke wadah yang lebih layak dan mendapatkan perawatan, kemarin.

“Ya, ada sepuluh tahun lebih Edi kami tempatkan disitu. Habisnya, jorok betul. Kalau berak (maaf) atau kencing ndak bisa bersihkan sendiri, kadang kececeran di rumah,” ucap Lasmi, ibu tiri Edi. Lasmi sendiri sebelum menikah dengan ayah Edi (Achmad), mengaku telah memiliki 8 orang anak dari suami sebelumnya. “Edi juga nda bisa bergerak, jadi supaya gampang dan nda merepotkan, ya ditempatkan di belakang,” sambung Lasmi saat ditemui tim Pusat Pelayan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak.

Agar memudahkan Edi buang hajat, Edi sengaja dibiarkan tak bercelana. “Ya supaya mudah berak (maaf) sama kencing di sungai yang ada di belakang rumah,” ujar Lasmi.

Lasmi juga mengatakan, setiap pagi Edi dibawa keluar dari “kamar”nya itu. “Kami bawa keluar (kedepan kamarnya), dijemur di matahari supaya kaki sama tangannya kuat. Edi juga nda berani jauh dari rumah, kalau berani jalan (ngesot) menjauh ya dipukul,” ungkapnya. Edi memang tak bisa berjalan jauh. Fisiknya sangat lemah. Kaki dan tangannya kurus, belulangnya nampak menonjol.

Untuk diketahui di dalam keluarga Edi, adik keduanya yang bernama Warda pun terbilang agak “terbelakang”. Meski begitu, remaja putri yang berusia 20 tahun tersebut sedikit beruntung. Lantaran, ia masih mampu berjalan, bermain dan melakukan aktivitas lainnya. Termasuk memasak, membersihkan rumah juga membantu pekerjaan orangtuanya. “Kalau Warda ini sudah diajari ngitung sama mbaca, mas. Tapi ya nda bisa ngerti-ngerti. Masa 1 sampai 10 aja nda tahu,” tandas Lasmi.

Untuk diketahui, keluarga Achmad-Lasmi, bisa dianggap keluarga tak mampu. Kondisi seperti ini makin memperburuk penyakit Edi. “Sungguh sangat memprihatinkan,” ucap Hajjah Yetty Soebagio, Ketua Pusat Pelayan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kota Tarakan. Hajjah Yetty juga menyayangkan sikap orangtua yang menilai bahwa penyakit dan tingkah Edi tersebut sebagai sebuah hal yang memalukan dan aib bagi keluarga. “Ini bukan aib, tapi bagaimana orangtua menyikapinya dengan penuh tanggungjawab. Dan, harusnya masyarakat sekitar juga memiliki kepedulian tinggi untuk membantu keluarga ini. Jika hal itu terwujud jauh sebelum ini, maka keadaan Edi mungkin jauh lebih baik dari saat ini,” tukasnya. (*)

Sumber : radartarakan (22 September 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Gas Belum Mengalir di 207 Rumah Warga

.

TARAKAN – Sebanyak 3.336 rumah warga telah terpasang instalasi distribusi gas bumi di dua kelurahan yang menjadi pilot project program City Gas, yakni Kelurahan Karang Balik dan Sebengkok. Namun hingga kemarin (22/9), Perusahaan Daerah Tarakan mencatat, ada 207 rumah yang belum dialiri gas.

Direktur Utama Perusda Tarakan, Tigor Nainggolan menyebutkan, dua penyebab rumah warga yang belum dialiri gas. Pertama, karena masyarakat belum memiliki kompor. Alasan kedua, ada yang masih menggunakan elpiji tabung 12 kilogram.

“Jadi masyarakat yang masih menggunakan elpiji beralasan masih menunggu gasnya habis baru akan dialiri,” kata Tigor Nainggolan.

Dia pun menyarankan ke-207 warga tersebut dapat segera menikmati layanan pemerintah melalui program City Gas tersebut. “Rugi kalau mereka tidak dipakai. Tetapi kami sarankan, bagi yang memang tidak mau sebaiknya mereka buatlah surat pernyataan untuk kami alirkan ke warga lain yang mau,” ujar mantan anggota DPRD Tarakan itu.

Tigor menyampaikan, masih banyak warga lain di dua kelurahan yang ingin mendapat layanan City Gas dengan alasan cost yang dikeluarkan tiap bulan relatif lebih murah ketimbang menggunakan elpiji. Namun pihaknya tak dapat menentukan waktu untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat yang belum menggunakannya untuk dialiri gas bumi.

Selain itu, hingga saat ini masih banyak warga yang belum paham dengan sistem pembayaran rekening pemakaian yang dipungut setiap bulan.

“Jangka waktu pembayaran yang dilakukan di kelurahan masing-masing dimulai tanggal 10 sampai 20 setiap bulannya. Jika lewat dari tanggal itu yang bersangkutan akan dikenakan denda sebesar Rp 10 ribu,” beber Tigor Nainggolan.

Bagi pelanggan yang telat membayar, dapat dilakukan di Kantor Perusda Tarakan di Jalan Gajah Mada, persisnya di samping Kantor Kelurahan Karang Rejo.

Tigor juga menyebutkan, tarif dari mengonsumsi gas bumi ini setiap bulannya hanya dipungut sebesar kurang lebih Rp 28 ribu. “Harga penagihannya akan sama semua, baik dia telah mengonsumsi 5 sampai 10 MMSCFD, tetap harganya begitu juga,” katanya.

Menyinggung soal sanksi, ia menegaskan, upaya itu sengaja dilakukan untuk menerapkan kedisplinan kepada pelanggan agar menunaikan kewajibannya tepat waktu. Mengenai pembayaran rekening pemakaian yang dilakukan di kelurahan-kelurahan bertujuan untuk mempermudah masyarakat terkait meminimalisir biaya transportasi yang dikeluarkan oleh masyarakat, jika harus membayar ke kantor perusda.

“Untuk sistem penagihan, ke depannya kami juga akan mempermudah masyarakat dengan cara menerapkan berupa kartu elektronik. Upaya ini sebagai upaya untuk menjadi lebih baik karena merupakan pilot project bagi kota-kota lain yang dinilai BP Migas,” harap Tigor Nainggolan.(sur/ris)

Sumber : radartarakan (23 September 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Turun ke Jalan, Ingatkan Pengendara Tak Ugal-ugalan

.

TARAKAN – Masyarakat Tarakan kembali diingatkan tentang pentingnya tertib berlalu lintas. Imbauan tersebut langsung disampaikan Kepala Satuan Lalu Lintas Ajun Komisaris Polisi Budi Heryawan S.Sos yang turun ke jalan mendatangi sejumlah pengendara di depan kawasan pertokoan THM siang kemarin (22/9).

Selain menyampaikan imbauan secara lisan, Budi yang didampingi Kepala Sub Bagian Hubungan Masyarakat Kepolisian Resor Tarakan AKP Subarjo juga membagikan brosur dan stiker kepada pengendara.

“Kegiatan ini, selain memberikan pemahaman tetang kesadaran hukum berlalu lintas terhadap warga, juga merupakan rangkaian HUT ke-56 Lalu Lintas Nasional,” kata Kapolres Tarakan AKBP Drs Agustinus Budi Prasetyo SH MH melalui Kasatlantas AKP Budi Heryawan S.Sos.

Mantan kepala Kepolisian Sektor Tarakan Timur itu mengaku, sebenarnya kesadaran masyarakat Tarakan disiplin berlalu lintas sebenarnya terbilang bagus, tapi perlu ada peningkatan. Melalui kegiatan kemarin salah satu tujuan yang diharapkan.

Budi juga berpesan, agar aksi ugal-ugalan di jalan raya tidak dilakukan. Sebab selain membahayakan diri pelaku, juga membahayakan pengguna jalan lainnya.

HUT Lalu Lintas Nasional di Tarakan juga diisi dengan pengecatan marka jalan di depan gedung Kepala Kepolisian Sektor Tarakan Barat yang baru di Jalan Jenderal Sudirman, donor darah di markas Palang Merah Indonesia Tarakan, dan pemotongan kue ulang tahun yang diserahkan kepada sejumlah warga yang mengurus Surat Izin Mengemudi kemarin.(noi)

Sumber : radartarakan (23 September 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Jangan Ada Kepentingan Dibalik Sumbangan

.

TARAKAN – Walikota Tarakan Haji Udin Hianggio kemarin resmi menyerahkan bantuan berupa sembako kepada seluruh warga yang menjadi korban kebakaran di Beringin III, Kelurahan Selumit Pantai. Dikatakan walikota, bantuan yang diberikan pemerintah kota tersebut harus sesuai dengan prosedur tetap yang ada dan hal tersebut sudah berjalan. Namun begitu, masih ada bantuan lainnya yang masih berproses. Bantuan tersebut nantinya akan diserahkan kepada pemilik rumah maupun penyewa. “Bantuan yang diberikan tentunya sudah sesuai ketentuan,” ujar walikota sesaat setelah mendarat di Bandara Juwata dan langsung menuju lokasi kebakaran, kemarin sore.

Meski pemerintah telah menyalurkan bantuan, pemerintah pun tidak menutup kesempatan kepada berbagai organisasi masyarakat yang melakukan aksi sebagai bentuk solidaritas. Namun begitu, walikota mengingatkan dengan banyaknya posko bantuan diharapkan menjadi bentuk spontanitas yang baik. Pasalnya, ini adalah salahsatu bentuk kepedulian sosial masyarakat yang masih terpelihara hingga sekarang. “Saya mengharapkan pos bantuan yang ada menjadi contoh yang baik buat yang lainnya. Karena organisasi pemuda merupakan generasi penerus demi kepentingan sosial. Insya Allah mereka akan menjadi pemimpin yang peduli dengan kepentingan masyarakat,” jelas walikota. “Saya mengimbau kepada seluruh organisasi yang melakukan pungutan sumbangan untuk melakukannya dengan ikhlas dan tanpa ada kepentingan sebab ini tidak ada barokahnya. Karena suatu saat bantuan ini akan menjadi bencana jika mereka selewengkan,” pesan walikota lagi.

Bantuan yang disalurkan pemkot bersumber dari dana sosial APBD Kota 2011. Soal posko pengungsian yang dibentuk pemkot, diakuinya sejauh ini tidak banyak dimanfaatkan warga korban kebakaran lantaran hampir 99 persen warga memilih untuk menumpang di rumah sanak keluarga.(ddq/ndy)

Sumber : radartarakan (23 September 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Entri Populer

Label

Agama (23) Anggaran (2) Barongsai (1) BAZ (2) BBM (17) Bencana Alam (1) Budaya (5) CPNS (2) Cuaca (2) Ekonomi (25) English (3) Expo (1) Fasilitas (28) Galeri Foto (21) Gas (4) Hiburan (9) HUT Tarakan (2) Iklim (1) Kampus (1) Kasus (4) Kebersihan (5) Kecelakaan (4) Kehutanan (3) Kejaksaan (1) Kelurahan (4) Kependudukan (1) Kesehatan (23) Keuangan (1) KNPI (2) Komunitas (4) Koperasi (12) Korupsi (2) Kriminal (26) KTP (9) Lingkungan Hidup (7) Lowongan Kerja (5) Migas (2) Narkoba (2) Olahraga (32) Pariwisata (22) Parlemen (16) PDAM (5) Pejabat (1) Pelayanan (3) Pemerintah (35) Pendidikan (80) Peraturan (8) Perbankan (3) Perikanan (1) Peristiwa (27) Perizinan (1) Pertambangan dan Energi (2) Pertanahan (1) Pertanian (8) Perumahan (9) Peternakan (2) PLN (6) PNS (11) Polisi (2) Politik (7) Polres (11) Prestasi (38) Proyek (8) Sembako (1) Serba Serbi (8) Sosial (8) Tarakan (334) Teknologi Informasi (14) Telpon (1) Tenaga Kerja (2) TNI-AD (1) TNI-AU (4) Transportasi (35) Walikota (24) Warga (2)
 

Link Banner

Total Tayangan Halaman

Powered By Blogger

Sahabat Tarakan

Tarakan Borneo Lovers is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com