TARAKAN - Menteri Pertanian RI Insinyur Haji Suswono menyatakan, menolak secara mentah-mentah terkait menaggapi wacana pembubaran Badan Urusan Urusan Logistik (Bulog) yang dilontarkan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Oesman Sapta Oedang belum lama ini.
Menurutnya, wacana pembubaran tersebut bukan solusi yang jitu untuk keluar dari sebuah persoalan yang dihadapi Bulog saat ini. “Saya kira tidak perlu seperti itu, kalau toh Bulog ini kinerjanya belum bagus tinggal dibenahi saja,” tegasnya kepada wartawan saat transit di Bandara Juwata Tarakan, Minggu (25/9) lalu.
Sebab, lanjut dia, berdasarkan Instruksi Presiden nomor 8 tahun 2011 Bulog dapat membeli jatah atau beras petani sesuai harga pusat yang tak lagi ditentukan oleh Harga Pokok Penjualan (HPP) melainkan mengikuti harga pasar.
“Bulog sekarang sudah bisa leluasa untuk bisa membeli gabah maupun beras petani, jadi tidak ada alasan untuk membubarkan Bulog,” tandas Mentan.
Lantas apa yang harus dilakukan Bulog? Menurutnya, hal terpenting yang harus dilakukan Bulog saat ini adalah membangun kinerja yang super cepat dengan cara menjemput bola ke petani melalui satgas-satgas yang dimiliki Bulog.
“Jangan mengandalkan atau tergantung pada mitra Bulog, karena mitra Bulog ini kan pedagang, kalau dijual di pasar lebih menguntungkan dan pastinya mitra itu tidak akan memberikannya ke Bulog. Jadi ini yang harus bisa diatasi Bulog,” jawab politis Partai Keadilan Sejahteran kepada wartawan Koran ini. Yang terpenting menurutnya, bagaimana kinerja Bulog bisa dibenahi secara serius.
Sekadar diketahui, Ketua Umum HKTI Oesman Sapta Oedang sempat medesak pemerintah pusat untuk membubarkan Bulog. Pasalnya, keberadaan Bulog selama ini dinilai hanya menjadi mitra pedagang bukan menjadi mitra petani. (sur/har)
Sumber : radartarakan (28 September 2011)
Redirect to TarakanBais
Selasa, 27 September 2011
Mentan Tolak Wacana Pembubaran Bulog
Senin, 26 September 2011
Menpan: Bulog Tidak Perlu Dibubarkan
TARAKAN – Menteri Pertanian RI Suswono, menilai wacana pembubaran Bulog yang sempat dihembuskan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Oesman Sapta Oedang, beberapa hari lalu, belum perlu dilakukan.
Menurut Suswono, yang terpenting saat ini bagaimana kinerja Bulog bisa dibenahi secara serius. “Ya kalau toh memang kinerjanya masih belum bagus kan sebenarnya tinggal dibenahi. Artinya tidak kemudian rumahnya di bakar, menurut saya tidak perlu seperti itu,” tegas Suswono, saat transit di Tarakan, Minggu (25/9/2011) malam.
Seperti diketahui, Ketua Umum HKTI Oesman Sapta Oedang sempat medesak Pemerintah untuk membubarkan Bulog. Pasalnya, keberadaan Bulog selama ini dinilai hanya menjadi mitra pedagang bukan menjadi mitra petani.
Menanggapi hal itu Suswono mengatakan, keberadaan Bulog sebagai mitra petani tinggal dijalankan sesuai amanah Presiden melalui Inpres nomor 8 tahun 2011, tentang kebijakan pengamanan cadangan beras yang dikelola Pemerintah dalam menghadapi kondisi iklim ekstrem.
Dalam Inpres tersebut, lanjut Suswono, Bulog diberikan keleluasaan untuk membeli gabah atau beras petani sesuai dengan harga pasar, tidak lagi ditentukan dengan Harga Pokok Penjualan (HPP).
“Oleh karena itu Bulog sekarang leluasa untuk bisa membeli gabah ataupun beras petani. Jadi tidak ada alasan lain, sebenarnya tinggal bagaimana Bulog jemput bola ke petani melalui satgas-satgasnya itu,” ujarnya.
Penulis : Syaiful Syafar
Editor : Reza Rasyid Umar
Sumber : Tribun Kaltim
Sumber : tribunnews (26 September 2011)
Menteri Pertanian Bantah Data BPS
TARAKAN – Meskipun Pemerintah telah mencanangkan swasembada pangan di 2014, namun data Balai Pusat Statistik (BPS) hingga Agustus 2011 cukup mencengangkan. Pasalnya, 60 persen pangan Indonesia dinyatakan masih berasal dari luar. Bahkan, salah satu pangan yang diimpor adalah beras.
Menanggapi hal ini Menteri Pertanian RI Suswono, membantahnya. Menurut Suswono, secara keseluruhan hasil sektor pertanian Indonesia masih tergolong surplus. Bahkan, hingga pertengahan Juli 2011, pangan Indonesia surplus sekitar USD 12 miliar.
“Kalau kita bicara pertanian secara keseluruhan sebetulnya kita ini masih surplus. Sampai semester pertama di 2011 kita surplus sekitar USD 12 miliar,” terangnya kepada tribunkaltim.co.id, Minggu (25/9/2011) malam di Bandara Juwata Tarakan.
Angka tersebut, lanjutnya, dicapai melalui beberapa komoditi unggulan seperti Crude Palm Oil (CPO), kakao, dan karet. Kendati demikian Suswono juga tidak menampik jika masih ada beberapa komoditas lainnya yang masih memerlukan impor, seperti gula dan kedelai.
“Jadi seperti CPO, kakao, karet, ini produk perkebunan unggulan kita. Ini yang memberi devisa cukup besar. Ya tetapi memang ada beberapa komoditas yang kita juga perlukan impor karena belum sepenuhnya bisa dipenuhi dari dalam negeri,” pungkasnya.
Meski demikian, Suswono tetap optimis pencapaian surplus pangan di 2014 bisa terwujud. “Sejauh dukungan lahannya ada, kita optimis bisa swasembada kedelai, gula, dan lainnya. Tapi ini kan persoalannya di lahan, coba kalau lahannya tidak ada tambahan paling lahan-lahan padinya beralih fungsi. Contohnya di Sumatera Selatan sudah banyak yang beralih ke sawit. Saya tidak tahu kalau di Kalimantan, mudah-mudahan tidak. Jadi perlu tambahan lahan untuk produksi gula dan kedelai, supaya tidak thread off,” pungkasnya.
Penulis : Syaiful Syafar
Editor : Reza Rasyid Umar
Sumber : Tribun Kaltim
Sumber : tribunnews (26 September 2011)
Menteri Pertanian Ingatkan Kaltim Batasi Lahan untuk Sawit
TARAKAN – Menteri Pertanian RI, Suswono, mengingatkan ketahanan pangan menjadi masalah prioritas yang harus dipikirkan pemda termasuk di Kaltim.
Pasalnya, saat ini masalah pangan tidak hanya dihadapi Indonesia saja, melainkan semua negara di belahan dunia. Bahkan, ia menilai kebutuhan pangan pokok akan menjadi problem besar di masa mendatang, mengingat harga pangan dunia juga semakin meningkat.
“Saya sudah pernah ketemu dengan Bupati Nunukan dan juga Bupati Bulungan. Saya sampaikan bahwa masalah pangan ini harus menjadi prioritas. Makanya jangan semuanya lahan dikembangkan ke sawit. Bagiamana pun kebutuhan pangan pokok akan menjadi problem besar di masa yang akan datang,” ujar Suswono saat tiba di Bandara Juwata Tarakan, Minggu (25/9/2011).
Menurut menteri dari PKS ini, untuk menyokong ketahanan pangan Pemerintah telah mencanangkan program food estate (kawasan khusus pertanian skala luas) yang dikembangkan di beberapa wilayah termasuk di Kaltim.
Program tersebut sebagai kompensasi atas berkurangnya lahan pertanian di Pulau Jawa. Dimana saat ini, lahan-lahan pertanian di Pulau Jawa terus menyusut akibat alih fungsi lahan menjadi bangunan atau fungsi lain seperti perumahan, gedung perkantoran, dan sarana umum lainnya. “Bagaimanapun juga food estate ini harus kita kembangkan, bandingkan dengan lahan-lahan sempit di Jawa, yang luasnya tinggal berkisar 0,2-0,3 Ha,” terangnya.
Terkait dengan bantuan anggaran, Suswono mengaku pihaknya telah mendorong sepenuhnya kepada Kementrian BUMN untuk menggandeng pihak swasta dalam mengelola food estate di Kaltim. “Bantuan tentu saja ada, justeru melalui kemitraan dengan BUMN dan swasta diharapkan ada dana CSR. Ya itu BUMN yang akan mengkoordinir, jadi setiap daerah bisa membangun kemitraan,” pungkasnya. (*)
Penulis : Syaiful Syafar
Editor : Fransina
Sumber : tribunnews (26 September 2011)
200 Ribu Ha Lahan di Kaltim Disiapkan untuk Food Estate
TARAKAN – Menteri Pertanian RI Suswono, optimistis target surplus 10 juta ton beras yang dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2014 mendatang bisa tercapai. Hal ini dikemukakannya kepada tribunkaltim.co.id, saat tiba di Bandara Juwata Tarakan, Minggu (25/9/2011) malam.
Menurut Suswono, hal itu bisa saja terwujud selama program food estate atau kawasan khusus pertanian skala luas bisa berjalan dengan baik, termasuk yang ada di Kaltim.
“Kita punya target di 2014 surplus 10 juta ton beras. Bapak Presiden sudah mencanangkan itu dan tentu saja kita harus amankan apa yang sudah dicanangkan Presiden bisa tercapai. Nah salah satunya melalui dukungan food estate ini,” ujarnya.
Kedatangan Suswono beserta rombongan untuk meresmikan food estate di Desa Tanjung Buka Kabupaten Bulungan seluas 30.000 Hektare (Ha), yang dijadwalkan Senin (26/9/2011).
Disinggung mengenai potensi lahan di Kaltim, Suswono mengatakan lahan yang ada sangat menjanjikan terutama untuk menyokong ketahanan pangan di 2014. Apalagi sudah ada potensi 200 ribu Ha lahan yang dijanjikan Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak untuk menyokong program tersebut.
“Potensi lahan di Kaltim sangat menjanjikan, yang jelas sekarang ini saja yang dijanjikan pak Gubernur paling tidak sudah ada potensi 200 ribu Ha. Kalau kita bisa menghasilkan 5 ton saja per Ha, ini kan bisa memberikan kontribusi 1 juta ton, paling tidak bisa memberikan tambahan mengejar target surplus itu,” ujar Suswono.
Sementara, mengenai teknis pengarapannya, food estate diyakini tetap menggunakan sistem inti plasma, yaitu pola kemitraan dengan melibatkan masyarakat sebagai pemelihara. Namun untuk pengelolaan food estate, Kementrian Pertanian akan memberikan wewenang kepada BUMN selaku leading sector yang menangani kemitraan dengan petani. “Penugasannya kita kasi BUMN. Jadi BUMN lah yang akan membangun kemitraan itu,” imbuhnya.
Lebih lanjut Suswono meyakini, program food estate yang dibuka di Bulungan akan memberikan keuntungan ganda terhadap masyarakat. Pasalnya, selain memberikan lapangan kerja yang terbuka, pengelolaan lahan yang diberikan ke petani juga dinilai mampu memberi dampak skala ekonomi yang menguntungkan bagi masyarakat lokal dan menggerakkan perekonomian daerah, utamanya para investor lokal. (*)
Penulis : Syaiful Syafar
Editor : Fransina
Sumber : tribunnews (26 September 2011)
Minggu, 11 September 2011
Kembangkan Perkembangan Pertanian Organik
TARAKAN – Perkembangan pertanian organik di Tarakan, tahun ini memasuki era keemasan. Keuntungan yang didapat, tak hanya memengaruhi peningkatan kesehjateraan petani organik tapi turut memberikan efek positif terhadap penikmatnya. Lantaran, seluruh produk pertanian organik tak memberikan dampak negatif terhadap kesehatan. Hal ini, kata Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) UB Tarakan Amarullah, disebabkan pola pertanian organik yang ‘mengharamkan’ penggunaan pestisida dan zat kimia pembantu pertumbuhan tanaman. Dan, lebih mengutamakan pemanfaatan kearifan lokal seperti biota yang ada sebagai katalis untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman. “Penerapan pola pertanian organik, tak bisa hanya dari satu sisi saja. Tapi harus menyentuh seluruh sisi yang menjadi bagian pertanian organik seperti lahan, pelatihan, pembinaan, dan petani itu sendiri,” tandas Amarullah yang ditemui Radar Tarakan, kemarin pagi di sela kuliah umum Faperta UB Tarakan untuk mahasiswa baru di lantai 7 gedung rektorat UB Tarakan, beberapa waktu lalu.
Amarullah mengakui peranan akademisi dalam mengembangkan penerapan pertanian organik di Tarakan harus mendapat dukungan berbagai pihak, salahsatunya pihak swasta-yang diharapkan dapat menggelontorkan community development-nya untuk memberdayakan masyarakat. Sebab, untuk mengubah pola pertanian yang biasa diterapkan masyarakat-pola pertanian tradisional- menjadi berpola pertanian organik, sangat membutuhkan waktu dan dana (pembinaan dan pelatihan) yang tidak sedikit. “Mengubah kebiasaan itu sebuah hal yang sulit, dari itu perkembangan pertanian organik yang ada di Tarakan saat ini cukup menggembirakan. Meski masih dalam kelompok-kelompok tertentu, tapi tingkat dan kualitas produksi pertaniannya sudah melampaui perkiraan,” jelas Amarullah.
Sementara itu, Walikota Tarakan Haji Udin Hianggio sebelumnya juga mengatakan bahwa sangat mendukung pengembangan pertanian organik di Tarakan. Tak hanya untuk beras organik, diharapkan pola pertanian seperti ini dapat diterapkan pada komoditi pertanian lainnya seperti sayuran, umbi-umbian dan lainnya. “Kerjasama perusahaan dengan instansi teknis diharapkan juga dapat dikembangkan, hingga instansi teknis dapat membantu mensosialisasikan pola pertanian organik tersebut. Hal ini sangat baik dalam membantu pemerintah daerah meningkatkan kesehjateraan petani di Tarakan,” ucap Walikota, belum lama ini. Pengembangan pola pertanian organik di Tarakan, juga diharapkan mampu meminimalisir dampak kerusakan lingkungan akibat residu dari pestisida yang bertahun-tahun digunakan petani di Tarakan terhadap tanamannya. Urgensinya begitu tinggi, mengingat Tarakan adalah sebuah kota kepulauan yang berpenduduk padat dengan tingkat konsumsi pangan yang cukup tinggi. Dari itu, kebutuhan konsumsi pangan yang sehat sangat diperlukan. (ndy)
Sumber : radartarakan (12 September 2011)
Jumat, 26 Februari 2010
Tarakan Legalkan Budidaya Rumput Laut
TARAKAN - Dalam waktu dekat, tim identifikasi lapangan yang dimotori oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Tarakan dan melibatkan sejumlah personel dari beberapa SKPD terkait seperti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan lainnya, akan melakukan tinjauan lapangan, penelitian berikut verifikasi data terkait dengan upaya pembuatan zonasi budidaya rumput laut di beberapa kelurahan di Tarakan.
Hal ini merupakan kegiatan utama dari upaya DKP lainnya, yakni penyusunan Peraturan Walikota (Perwali) Tarakan tentang Zonasi Budidaya Rumput Laut di Perairan Kota Tarakan. Firmannoor, kepala Bidang Budidaya dan Perikanan Tangkap DKP Tarakan menyebutkan dalam menyusun perwali tersebut, pihaknya juga telah menggelar rapat koordinasi dengan pihak Kecamatan, Kelurahan yang terlibat serta pembudidaya untuk membicarakan masalah ini. “Harapannya, tak ada masalah di lapangan setelah perwali disusun,” ungkapnya.
Zonasi rumput laut di perairan Tarakan tersebut, rencananya akan ditetapkan di 4 kelurahan yakni Juwata Laut, Mamburungan, Lingkas Ujung dan Karang Harapan (Pulau Sadau). “Perwali ini, muaranya adalah melegalkan kegiatan budidaya rumput laut yang dilakukan para pembudidayanya sehingga lebih aman dalam berusaha karena telah ada payung hukumnya,” tandas Firmannoor lagi.
Artinya, kegiatan budidaya rumput laut di Tarakan sudah lama eksis namun belum ada aturan hukum yang mengatur soal kegiatan tersebut. Akibatnya, sulit sekali terekspos ke masyarakat luas. Usaha ini, kata Firmannoor merupakan usaha alternatif para nelayan tangkap di Tarakan tatkala berhenti melaut. “Rumput laut yang biasa dibudidayakan adalah rumput laut yang dibudidayakan di Tambak atau Gracilaria Sp. Harganya sedikit lebih rendah dengan rumput laut yang dibudidayakan di perairan atau euchema cottonii,” jelasnya.
Soal prospek, rumput laut yang dibudidayakan di Tarakan cukup baik karena dukungan pemasarannya yang baik dengan harga yang menarik. “Saat ini pembudidayanya ada beberapa kelompok, dengan jumlah anggota ratusan orang,” ujarnya.(ndy)
Sumber : KaltimPost (26 Februari 2010) Borneo
Jumat, 13 Maret 2009
Potensi Jamur di Tarakan Borneo

Salah satu potensi alam terselip di hutan kota Pantai Amal Tarakan Borneo; jamur. Ditemukan belum lama ini, jamur berwarna putih ini menurut Arizono, pengajar di Universitas Borneo (UB) Tarakan, bisa dimakan. Ia sendiri pernah mencoba memasaknya seperti jamur tiram (oyster mushroom). “Seperti jamur tiram tapi sedikit berbeda. Ini masih kita teliti,” ujarnya.
Jamur kini jadi bahan penelitian yang diyakini bisa dikembangkan di Tarakan Borneo. Selain enak dikonsumsi juga mengandung berbagai macam asam amino essensial, lemak, mineral, dan vitamin. Juga mengandung zat penting yang berpengaruh terhadap aspek medis. Di Jerman jamur seperti itu pernah ditemukan.
Dinas Kehutanan, Pertambangan dan Energi akan menggandeng UB. Baik untuk penelitian rendemen yang terkandung dalam pohon kayu putih yang tumbuh di berbagai tanah di Tarakan, mau pun untuk penelitian lainnya.
“Jadi nanti akan kita ambil beberapa daun kayu putih yang tersebar di Tarakan untuk melihat kadar minyak kayu putihnya,” kata Zaini staf rehabilitasi hutan dan lahan Dinas Kehutanan, Pertambangan dan Energi Tarakan.
Penelitian lain yang dilakukan Arizono terkait kekayaan hutan di Tarakan adalah pohon agathis. Agathis di tanam di kawasan Pasir Putih yang kondisi tanahnya berbeda dengan tanah hutan. “Kalau oke kita coba di Bunyu yang kondisi tanahnya berbeda lagi,” kata Arizono. (*/rt-4)
Sumber : Kaltim Post (16 Februari 2009)
Entri Populer
-
Kegiatan Kantor Pengolahan Data Kota Tarakan Berupa Pemasangan Koneksi Internet Di Tennis Indoor Telaga Keramat Tarakan Tempat Dilangsungka...
-
TARAKAN – Meski penerbangannya mengalami penundaan selama beberapa jam, namun sejumlah penumpang Sriwijaya Air di Bandara Juwata Tarakan me...
-
TARAKAN - Puluhan anggota Polres Tarakan bersama-sama masyarakat mulai dari organisasi kepemudaan, seniman, dan Kepala Satuan Kerja Perangk...
-
Lebih Dekat dengan Dokter Spesialis Jantung Dendi Wahyudi ITA RAHMAWATI - Stroke dan serangan jantung menjadi penyebab kematian tertinggi s...
-
TARAKAN - Asisten II Sekretariat Kota Tarakan, Sofian Raga mengatakan, agar banjir tidak semakin parah di kota Tarakan ini, perlu keterliba...
-
Anaknya Tak Diterima, Ortu Mengeluh TARAKAN - Meski pendaftaran peserta didik baru (PPDB) sekolah dasar dan menengah negeri berakhir kemari...
-
TARAKAN – Wakil Gubernur Kaltim Farid Wadjdy meresmikan pembangunan kantor Badan Amil Zakat (BAZ) Kota Tarakan yang baru di Kelurahan Selum...
-
TARAKAN - Banyaknya keluhan masyarakat Tarakan dengan tidak tersedianya toilet di kawasan objek wisata, seperti Taman Oval dan Pantai Amal ...
-
Bila berbicara olahraga bola basket di Tarakan, maka nama Praja Satria Basket Ball Club Tarakan akan selalu mengikutinya dibelakang. Karena ...
