Aktif Siapkan Langkah Antisipasi
TARAKAN- Wakil Walikota Tarakan Suhardjo Trianto mengatakan, pemerintah daerah saat ini memikul tanggung jawab besar. Beberapa waktu lalu, Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta telah memberi himbauan agar pemerintah daerah aktif menyiapkan langkah adaptasi terhadap dampak perubahan iklim. Sebab itu, Pemkot Tarakan melalui Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) telah memulai langkah kajian adaptasi perubahan iklim tersebut salah satunya dalam bentuk workshop, kajian dan adaptasi perubahan iklim, di gedung Serbaguna, kemarin.
“Perlu menjadi perhatian bersama, bahwa setiap daerah di Indonesia memiliki karakteristik lingkungan yang berbeda-beda. Laporan hasil kajian risiko dan adaptasi perubahan iklim di suatu daerah tidak dapat mewakili kondisi lokasi Indonesia secara keseluruhan,” kata Suhardjo dalam sambutannya.
Karena itu, setiap pemerintah daerah diharuskan proaktif dalam melaksanakan kajian. Dampak perubahan iklim yang dapat kita rasakan antara lain terjadinya pergeseran musim akhir-akhir ini yang dapat mengganggu ketersediaan air pada musim tanam serta jadwal panen. Mewabahnya jenis penyakit tertentu, serta terjadinya berbagai bencana di berbagai daerah.
“Kota Tarakan sebagai kota kepulauan memiliki pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi, sebagian masyarakatnya memiliki mata pencaharian sebagai nelayan, petambak dan petani. Tidak dapat dipungkiri kondisi ini sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim,” ujarnya.
Dengan adanya kegiatan workshop saat ini tentu sangat bernilai strategis bagi pemerintah kota dalam merencanakan pembangunan jangka menengah dan jangka panjang, lebih khusus pengembangan wilayah pesisir.
Dalam berbagai kajian di beberapa daerah, tampak terjadinya kenaikan permukaan air laut dan pergeseran musim, serta perubahan cuaca. Pulau-pulau kecil sangat rentan terhadap kenaikan permukaan air laut, sektor perikanan sebagai sumber nafkah yang vital bagi masyarakat juga diprediksi akan semakin sulit didapatkan.
“Saya menghimbau, agar kiranya setelah kegiatan ini usai, BPLH bersama dinas terkait dapat merumuskan hasil kajian yang lebih komprehensif, agar dapat diintegrasikan dengan kebijakan pembangunan dan Peraturan Daerah Kota Tarakan,” pesannya.(ddq)
Sumber : radartarakan (29 September 2011)
Redirect to TarakanBais
Kamis, 29 September 2011
Tarakan Rentan Terhadap Dampak Perubahan Iklim
Selasa, 05 Juli 2011
Tinggi Gelombang Capai 2 Meter
Pertemuan Angin Semakin Tinggi di Wilayah Utara
TARAKAN – Sejak Minggu (3/7) malam, tinggi gelombang di perairan utara Kaltim dan hampir di seluruh perairan Indonesia meningkat antara 0,75 meter hingga 2 meter. Kondisi ini diperkirakan masih terjadi hingga 3 hari kedepan.
Hal tersebut diungkapkan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan Sutadi Rahardjo kepada Radar Tarakan saat ditemui di ruang kerjanya kemarin (4/7). “Kondisi ini akibat pengaruh kecepatan angin yang mencapai 23 knot (1 knot setara 1,2 kilometer, Red.) per jam semalam,” kata Sutadi Raharjo.
Tingginya kecepatan angin ini sudah terjadi sejak Mei lalu dan diperkirakan baru berakhir pada pekan kedua atau ketiga Juli mendatang.
Selain itu intensitas hujan juga masih diperkirakan tinggi lantaran tekanan udara saat ini terkonsentrasi di wilayah utara khatulistiwa, tepatnya di bagian selatan Filipina. Sehingga angin yang bergerak dari berbagai arah, utama dari sisi barat daya, selatan, dan timur khatulistiwa terkonsentrasi menuju selatan Filipina. “Kondisi ini menyebabkan pertemuan angin semakin tinggi di wilayah utara yang menyebabkan terbentuknya awan Commulus Nimbus pembawa hujan,” terangnya.
Kejadian hujan disertai petir dan guntur yang umumnya terjadi pada dini hari, menurut Sutadi juga dipengaruhi kondisi angin yang cukup rendah tersebut. Tingginya intensitas hujan ini diperkirakan baru akan turun pada pekan kedua dan ketiga di bulan ini hingga pertengahan Agustus.
“Kalau tidak dipengaruhi angin global dan angin lokal yang tidak seperti biasanya, intensitas hujan diprediksi turun hingga pertengahan Agustus nanti. Tapi bukan kemarau, biasanya per bulan sekitar 300 milimeter, nanti bisa kurang dari 200 milimeter,” imbuhnya.
Sementara itu, meletusnya gunung Soputan di Sulawesi Utara pada Minggu dini hari lalu yang menyebabkan merebaknya debu abu vulkanik diyakini tidak berimbas pada wilayah utara Kaltim mengingat jauhnya kedua wilayah ini. “Angin timur laut dari arah Sulawesi Utara akan langsung menuju ke pusat konsentrasi tekanan udara di selatan Filipina, sehingga abu vulkanik tidak menyebar di utara Kaltim,” jelasnya.(ash)
Sumber : radartarakan.co.id (5 Juli 2011)
Entri Populer
-
Kegiatan Kantor Pengolahan Data Kota Tarakan Berupa Pemasangan Koneksi Internet Di Tennis Indoor Telaga Keramat Tarakan Tempat Dilangsungka...
-
TARAKAN – Meski penerbangannya mengalami penundaan selama beberapa jam, namun sejumlah penumpang Sriwijaya Air di Bandara Juwata Tarakan me...
-
Type 55 Price USD 55 Million, 15-year Samapai Credit Tarakan Borneo - Tarakan City Government will conduct socialization to civil servants...
-
Lebih Dekat dengan Dokter Spesialis Jantung Dendi Wahyudi ITA RAHMAWATI - Stroke dan serangan jantung menjadi penyebab kematian tertinggi s...
-
Anaknya Tak Diterima, Ortu Mengeluh TARAKAN - Meski pendaftaran peserta didik baru (PPDB) sekolah dasar dan menengah negeri berakhir kemari...
-
TARAKAN - Puluhan anggota Polres Tarakan bersama-sama masyarakat mulai dari organisasi kepemudaan, seniman, dan Kepala Satuan Kerja Perangk...
-
Keep the Great Mosque of Purity, Peace Messages Tidung People WITH FIGURE Tidung. The author posing together with community leaders Tidung, ...
-
Pertemuan Angin Semakin Tinggi di Wilayah Utara TARAKAN – Sejak Minggu (3/7) malam, tinggi gelombang di perairan utara Kaltim dan hampir di...
-
TARAKAN Borneo - Thousands of people packed the Grand Mosque Muslim Tarakan Tarakan for Eid al-Adha prayers, yesterday morning (17/11). ...
