HASIL kajian dan prioritisasi adaptasi perubahan iklim di Kota Tarakan, diharapkan Walikota Tarakan H Udin Hianggio dapat dimasukkan kedalam Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Tarakan. Peraturan tersebut saat ini sedang dalam proses perevisian Perda RTRW Kota Tarakan No. 3/2006. “Saat ini sedang dibahas DPRD, semoga saja nanti pada revisinya nanti dapat memasukkan substansi terkait kajian tadi,” ucap walikkota usai membuka workshop pemaparan hasil kajian dan priotisasi adaptisasi perubahan iklim di Kota Tarakan di Swiss-belhotel Tarakan, kemarin pagi. Kajian tersebut dilakukan atas kerjasama Kementerian Lingkungan Hidup dengan para tim saintifik dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, pemerintah Jerman melalui pihak GIZ dan pemerintah Australia.
Lanjutnya, perubahan iklim merupakan sesuatu yang sulit dihindari saat ini dan dampaknya terasa ke setiap sisi kehidupan. Dampak ekstremnya, telah terjadinya kenaikan temperatur serta pergeseran musim. “Kenaikan temperatur akan menyebabkan mencairnya es dan gletser di Kutub Utara dan Selatan. Sehingga menyebabkan pemuaian massa air laut dan kenaikan permukaan air laut. Dampak tersebut juga terasa di Tarakan, yang merupakan kota kepulauan,” ujar walikota.
Pria yang sempat menjabat Ketua DPRD Kota Tarakan ini menyebutkan, selain dampak perubahan iklim, Kota Tarakan juga menghadapi beberapa masalah ekonomi, sosial dan budaya. Semisal, pertumbuhan penduduk yang tinggi, penduduk miskin, keberadaan pemukiman padat dan kumuh, perambahan lahan dan hutan, abrasi pantai dan banjir, serta kurang sadarnya masyarakat atas pelestarian lingkungan. Informasinya, saat ini luasan daratan di Tarakan mencapai 250,8 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 193.069 (tahun 2010). “Kota Tarakan sendiri memiliki lima strategi pembangunan yang diantaranya berkaitan dengan pelestarian lingkungan. Utamanya, kebijakan pembangunan lingkungan hidup,” sebut walikota. Lima strategi pembangunan tersebut, yakni kebijakan pembangunan ekonomi, pengembangan sumberdaya manusia (SDM), lingkungan hidup dan pembangunan politik, hukum, keamanan dan pemerintahan, konsistensi menuju The New Singapore.
Terkait kebijakan pembangunan lingkungan hidup, utamanya adaptasi perubahan iklim di Kota Tarakan, telah diprogramkan kegiatan fisik dan non fisik yang terkait dengan dampak dan risiko perubahan iklim. “Kegiatan tersebut mengacu pada rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) tahun 2010-2014 dan rencana kerja pemerintah daerah (RKPD) tahunan dan rencana kerja tahunan SKPD,” tukasnya.
Sementara itu, Asisten Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup Emma Rachmawaty mengatakan, kajian serupa juga dilakukan di Pulau Lombok, Sumatera Selatan (kajian level Provinsi) dan Malang Raya-Kota Batu dalam tahun ini. Namun, yang paling kompetitif dan responsif pemerintah daerahnya adalah Kota Tarakan. Dari itu, kajian dan prioritisasi adaptasi perubahan iklim lebih cepat dipaparkan hasilnya. “Sektor yang dikaji berbeda karena karakteristiknya berbeda juga. Untuk sektor pertanian dan DAS dari hulu ke hilir itu di Malang Raya, sementara Tarakan sektor yang dikaji pesisir dan kesehatan sesuai permintaan stake holders disini,” ucap Emma.
Harapannya, Tarakan dapat lebih bersiap untuk mengantisipasi segala prediksi dari dampak perubahan iklim tersebut. “Yang penting, kajian ini harus digunakan dalam rujukan pembangunan. Setelah tahapan ini selesai, kita ingin kajian ini dimasukkan pula dalam agenda pembangunan tiap SKPD,” harapnya.
Menurut Emma, harapan tersebut menjadi masuk akal untuk direalisasikan di Kota Tarakan mengingat, pemerintah setempat bersama kalangan legislatifnya tengah memroses revisi Perda RTRW. “Kalau di tempat lain, agak sulit karena Perda RTRW-nya sudah ditandatangani. Jadi, kajian ini hanya menjadi sebuah rekomendasi saja,” ujarnya. Emma juga menyebutkan, pihaknya akan menggelar pertemuan dengan semua daerah yang menjadi pusat kajian. Fokus pembicaraan, sektor yang dijadikan media pengkajian dan akan dihadiri tiap Kementerian terkait. “Tujuannya, setiap program yang ada di SKPD tidak tumpang-tindih atau overlap, hingga akhirnya tidak dapat tertangani dengan baik,” imbuhnya.
Di daerah-utamanya tiap SKPD, kata Emma, untuk pelaksanaan hasil kajian tersebut dimanifestasikan lewat pembentukan tim adhoc dari lintas sektor yang dikoordinatori oleh salah satu SKPD teknis-Bappeda, BPLH atau lainnya. “Biasanya diperkuat dengan SK kepala daerah,” singkatnya.
UPAYAKAN ANGGARAN DAK PERUBAHAN IKLIM
Sementara itu terkait dengan penganggaran, Emma memastikan bahwa pihaknya telah menggelontorkan dana dekonsentrasi untuk berbagai program kajian dan prioritisasi adaptasi perubahan iklim di sejumlah daerah yang berkenan-penyalurannya lewat provinsi masing-masing. Besarannya mencapai Rp 200 miliar. “Jadi, tiap provinsi mengajukan kebutuhan, kita pun lakukan penilaian. Berapa kemampuan provinsi (dana sharing), jenis organisasinya, tenaga (SDM) dan apa saja prorgamnya,” jelasnya. “Ada yang dapat lima miliar, tiga miliar atau yang sudah kaya tidak dapat sama sekali,” imbuhnya.
Selain itu untuk tahun depan, pihaknya juga sedang mengusahakan program dana alokasi khusus (DAK) untuk kegiatan serupa yang hanya akan digelontorkan kepada daerah yang memiliki kajian serupa. “Tapi pemerintah daerah harus punya komitmen untuk menganggarkannya juga,” pungkasnya.(ndy/iza)
Sumber : radartarakan (12 Oktober 2011)
Redirect to TarakanBais
Rabu, 12 Oktober 2011
Adaptasi Perubahan Iklim Bakal Masuk RTRW
Kamis, 29 September 2011
Tarakan Rentan Terhadap Dampak Perubahan Iklim
Aktif Siapkan Langkah Antisipasi
TARAKAN- Wakil Walikota Tarakan Suhardjo Trianto mengatakan, pemerintah daerah saat ini memikul tanggung jawab besar. Beberapa waktu lalu, Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta telah memberi himbauan agar pemerintah daerah aktif menyiapkan langkah adaptasi terhadap dampak perubahan iklim. Sebab itu, Pemkot Tarakan melalui Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) telah memulai langkah kajian adaptasi perubahan iklim tersebut salah satunya dalam bentuk workshop, kajian dan adaptasi perubahan iklim, di gedung Serbaguna, kemarin.
“Perlu menjadi perhatian bersama, bahwa setiap daerah di Indonesia memiliki karakteristik lingkungan yang berbeda-beda. Laporan hasil kajian risiko dan adaptasi perubahan iklim di suatu daerah tidak dapat mewakili kondisi lokasi Indonesia secara keseluruhan,” kata Suhardjo dalam sambutannya.
Karena itu, setiap pemerintah daerah diharuskan proaktif dalam melaksanakan kajian. Dampak perubahan iklim yang dapat kita rasakan antara lain terjadinya pergeseran musim akhir-akhir ini yang dapat mengganggu ketersediaan air pada musim tanam serta jadwal panen. Mewabahnya jenis penyakit tertentu, serta terjadinya berbagai bencana di berbagai daerah.
“Kota Tarakan sebagai kota kepulauan memiliki pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi, sebagian masyarakatnya memiliki mata pencaharian sebagai nelayan, petambak dan petani. Tidak dapat dipungkiri kondisi ini sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim,” ujarnya.
Dengan adanya kegiatan workshop saat ini tentu sangat bernilai strategis bagi pemerintah kota dalam merencanakan pembangunan jangka menengah dan jangka panjang, lebih khusus pengembangan wilayah pesisir.
Dalam berbagai kajian di beberapa daerah, tampak terjadinya kenaikan permukaan air laut dan pergeseran musim, serta perubahan cuaca. Pulau-pulau kecil sangat rentan terhadap kenaikan permukaan air laut, sektor perikanan sebagai sumber nafkah yang vital bagi masyarakat juga diprediksi akan semakin sulit didapatkan.
“Saya menghimbau, agar kiranya setelah kegiatan ini usai, BPLH bersama dinas terkait dapat merumuskan hasil kajian yang lebih komprehensif, agar dapat diintegrasikan dengan kebijakan pembangunan dan Peraturan Daerah Kota Tarakan,” pesannya.(ddq)
Sumber : radartarakan (29 September 2011)
Minggu, 25 September 2011
Fokus di Wilayah yang Sering Banjir
KEGIATAN Bersih-bersih massal se-Kota Tarakan yang terlaksana Minggu (25/9) kemarin, juga mendapat dukungan masyarakat dari berbagai wilayah di Kota Tarakan. Warga di Jalan Cendrawasih, Kelurahan Karang Anyar Pantai misalnya, mereka beramai-ramai membersihkan jalan dan drainase di wilayah itu, bersama pihak kelurahan dan dibantu oleh perwakilan dari seluruh RT di Kelurahan Karang Anyar Pantai.
Lurah Karang Anyar Pantai, Nasir SH, yang ikut dalam kegiatan kemarin menyambut positif program ini. Dikatakannya, program pemerintah seperti ini bisa menumbuhkan kesadaran warga agar peduli dengan kebersihan lingkungan. “Paling tidak untuk menghindari penyakit demam berdarah,” kata Nasir.
Selain itu, warga juga tampak sangat antusias. Di RT 43, hampir semua warga yang tinggal di wilayah tersebut turut ambil bagian dalam kegiatan ini. Seperti dikatakan Ketua RT setempat, Widodo Dwi Santoso. Selain mendukung program bersih-bersih massal se-Kota Tarakan, juga berkenaan dengan giliran kerja bakti rutin yang telah diprogramkan kelurahan Karang Anyar secara bergilir di seluruh RT di kelurahan tersebut. “Alhamdulillah semua warga tampak antusias. Dalam kegiatan ini kita membersihkan drainase dan memangkas pohon yang sudah mulai rimbun. Kita juga membersihkan jalan yang banyak dipenuhi pasir,” kata Widodo kepada Radar Tarakan.
Selain RT 43, wilayah menjadi fokus kegiatan bersih-bersih di Kelurahan tersebut juga diikuti warga Karang Anyar lainnya. Di Jalan Flamboyan, tepatnya di kawasan RT 29, RT 8 dan RT 27, yang merupakan wilayah langganan banjir, juga dilakukan aktivitas ini. Selain itu di RT 02 juga melakukan kegiatan yang sama. Dikatakan Ketua RT setempat, Ariffin T, drainase di Jalan Seroja yang semula kedalamannya mencapai satu meter, saat ini tinggal kurang dari 40 centimeter. Sehingga meskipun hujan tidak deras, air tetap meluap karena drainase tidak lagi mampu menampung debit air hujan. “Luapan airnya bahkan sampai masuk ke rumah warga karena drainase sudah terlalu dangkal,” terang pria 69 tahun yang mengaku sudah menjabat sebagai ketua RT sejak 1976 silam itu.
PLN Ikut Aksi Bersih-Bersih Massal
Aksi bersih-bersih massal kemarin juga kembali mendapat dukungan penuh dari para karyawan PT Pelayanan Listrik Nasional (PLN) Tarakan. “Sebagai bukti dukungan kami untuk kota Tarakan, 30 persen lebih karyawan PLN kami ikut dilibatkan sejak pukul tujuh pagi tadi,” kata Sekretaris Perusahaan PLN Tarakan Muyoto usai melakukan aksi bersih-bersih tersebut kemarin.
Pada kegiatan aksi bersih-bersih ini, lokasi yang dibersihkan karyawan PLN Tarakan tak hanya terpusatkan di satu titik atau hanya di PLTU dan Kantor PLN Tarakan di Jalan Pangeran Diponegoro Gunung Belah, tapi kegiatan tersebut juga dilakukan di sekitar wilayah Gardu Induk PLN di Jalan Telaga Keramat Kampung Enam sekitar daerah Kelurahan Juata Laut.
Menurutnya, jika sekitar lingkungan kita kelihatan bersih maka secara otomatis nampak pemandangan yang sedap atau nampak indah dipandang mata dan bernilai hidup sehat. Kedepan ia mengharapkan kegiatan tersebut tak putus sampai disini saja, melainkan dapat terus berkelanjutan. Untuk itu, PLN Tarakan telah mencanangkan agenda bersih-bersih dilingkungan perusahaan penghasil tenaga listrik itu. (*/yan/sur/ash)
Sumber : radartarakan (26 September 2011)
Selasa, 07 Juni 2011
Kota Tarakan Dapat Penghargaan Bidang Lingkungan
TARAKAN - Meskipun gagal meraih piala Adipura untuk kelima kalinya, namun Kota Tarakan masih mampu meraih dua penghargaan bidang lingkungan hidup dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
Dua penghargaan tersebut adalah Harapan Terbaik Status Lingkungan Hidup Daerah dan SMP Negeri 1 Tarakan berhasil menjadi Sekolah Adiwiyata.
Dua penghargaan tersebut diserahkan Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta kepada Walikota Tarakan Udin Hianggio di Balai Kartini Jakarta, Selasa (7/6/2011) dalam Perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Menurut Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Tarakan Firmannur, dua penghargaan ini harus disyukuri masyarakat Tarakan, walaupun Piala Adipura lepas. "Setidaknya dua penghargaan ini bisa memberikan yang terbaik untuk Kota Tarakan," katanya.
Dengan dua penghargaan ini BPLH bertekad pada 2012 akan berusaha lebih baik lagi. "Insyallah 2012 kita targetkan Tarakan dapat masuk tiga besar SLHD, sehingga kita mendapatkan piala SLHD," ujarnya.
Tak hanya itu, BPLH juga menargetkan tahun 2012 beberapa sekolah di Tarakan mendapatkan Adiwiyata. Khusus SMPN 1 Tarakan dapat meraih Adiwiyata Mandiri. Sedangkan untuk SMK N 1 Tarakan dan beberapa SD di Tarakan dapat meraih penghargaan sekolah Adiwiyata. (*)
Penulis : Junisah
Editor : Sumarsono
Sumber : kaltim.tribunnews (7 Juni )
Jumat, 15 April 2011
GOPTKI Tarakan Gelar Penanaman Pohon bagi Anak-anak TK
ilustrasi tanam pohon
Tarakan - Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-54 , Gabungan Organisasi Penyelenggara Taman Kanak-Kanak (GOPTKI) Kota Tarakan mengadakan penanaman bibit pohon, Jumat (15/4/2011) di Perumahan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kelurahan Juata Permai.
Penanaman bibit pohon ini diikuti 50 anak TK dari berbagai TK di Tarakan. Anak-anak menanam bibit pohon mangga, aghtis, dan trembesi.
Ketua GOPTKI Kota Tarakan Sri Sentani Badrun mengungkapkan, untuk membangun karakter pendidikan individu setiap anak harus dilakukan sejak usia dini. Apalagi memberikan pendidikan untuk mencintai lingkungan hidup.
"Sejak usia dini anak-anak harus diberikan pendidikan, salah satunya memberikan pendidikan dibidang lingkungan bidup. Sebab dengan ini anak-anak mencintai ciptaan tuhan," katanya. (*)
Penulis : Junisah
Editor : Sumarsono
Sumber : kaltim.tribunnews (15 April 2011)
Jumat, 26 Februari 2010
Tarakan Terancam Tak Dapat Adipura
Penilaian Kebersihan Tahap Awal Jeblok
TARAKAN - Berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh tim penilai Adipura internal kota Tarakan dari Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH), penilaian tahap 1 atau P1 Tarakan untuk tahun 2009-2010 mengalami penurunan poin, menjadi 69,53. Penurunan ini wajar, mengingat secara umum kondisi kota dan kesadaran warga untuk menjaga kebersihan makin menurun.
“Nilainya jeblok. Evaluasinya, dari SKPD, sekolah dan pengelolaan Pasar Tenguyun dan Gusher,” terang Asisten I bidang Pemerintahan Drs Nasib MAP.
Evaluasi tersebut diawali dengan rapat koordinasi pengeksposan nilai P1 yang diprakarsai BPLH Tarakan, kemarin. Di dalamnya diupayakan sejumlah langkah untuk memperbaki kekurangan dan kelemahan yang menyumbang jebloknya poin Adipura P1 Kota Tarakan.
“Akan ada pembagian tugas yang tegas, khususnya untuk melakukan monitoring, pengerjaan pada tempat-tempat yang dianggap mampu mengurangi poin Adipura di P2. Jadi, jelas siapa yang menangani apa, tak perlu tunjuk-tunjukkan,” ungkapnya.
Pastinya, Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Pemakaman (DKPP) Tarakan akan diupayakan untuk aktif mengangkut sampah warga yang dibuang di tempat-tempat yang telah disediakan. Tapi, tetap butuh kesadaran warga berikut kerjasamanya dengan pemerintah untuk mewujudkan Tarakan sebagai kota Bersih, Aman, Indah, Sehat dan Sejahtera (BAIS).
“Camat dan Lurah, kami instruksikan untuk dapat berkeliling tiap pagi memonitor lingkungannya. Bila ada yang kotor, segera ditindaklanjuti dan dibersihkan,” ucapnya.
Dari rapat tersebut, juga diketahui bahwa ada beberapa titik rawan yang patut mendapat perhatian. Diantaranya, kerindangan dan proses pemilahan sampah di salah satu SKPD. Lalu nilai kerindangan, keindahan dan kebersihan di Pasar Gusher dan Tenguyun juga sejumlah sekolah di Tarakan.
BERSIHKAN SODETAN
Sodetan Mulawarman, yang selama ini menjadi salah satu titik pantau penyumbang poin bagi penilaian Adipura memang sempat menjadi “pembibitan eceng gondok”. Tapi, kemarin sejumlah pekerja yang diprakarsai DPU Tarakan mulai membersihkan sodetan tersebut dari eceng gondok dan sampah lainnya.
“Sudah ditindaklanjuti oleh DPU kan, mungkin hari ini (kemarin,Red) atau besok (hari ini,Red) akan diselesaikan. Untuk mempercepat proses pembersihannya, DPU akan menurunkan alat berat,” tandas Nasib sambil memastikan bahwa kerja keras ini dibutuhkan karena Tarakan menargetkan meraih Adipura keempat kalinya dengan poin yang jauh lebih tinggi dari poin sebelumnya. (ndy)
Sumber : KaltimPost (25 Februari 2010) Borneo
Sabtu, 13 Februari 2010
Adipura Bukan Tujuan Pemkot Tarakan
Borneo – Raihan piala Adipura yang sudah diraih Kota Tarakan sejak beberapa tahun belakangan ternyata masih jauh dibawah nilai dari Kota Bontang, atau lebih mirisnya, Tarakan berada pada urutan di level bawah pada kriteria kota sedang peraih piala Adipura.
“Berdasarkan perkembangan dari tahun ketahun, posisi Tarakan sejak 2 tahun terakhir ini masih dibawah kota Bontang. Kemudian kalau ditingkat nasional, Tarakan berada pada urutan yang agak bawah walaupun kita memang sudah mendapat Adipura,” ujar Ir Subono MT, Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Tarakan.
Diraihnya Piala Adipura oleh suatu kota merupakan indikator kondisi fisik lingkungan pada kota tersebut dinilai bersih dan memberi kesejukan pada warganya. Selain itu juga sebagai keberhasilan indikator pengelolaan lingkungan perkotaan (non-fisik), yang meliputi institusi, manajemen, dan daya tanggap.
Meski Pemkot terus berusaha mengejar hal tersebut, namun kata Subono, Pemkot tidak menjadikan upaya untuk meraih Piala Adipura tersebut sebagai tujuan Pemkot. “Kita berupaya untuk selalu menjaga kebersihan dan kesejukan kota bukan untuk Adipura, melainkan berupaya untuk memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada warga masyarakat di kota ini dibanding layanan di kota-kota lainnya,” kata Subono.
“Adipura itu hanya salah satu hasil sampingan, juga sebagai alat kita untuk mengetahui kebersihan, keindahan atau keteduhan kota dibandingkan dari kota-kota lain. Tetapi tujuan utamanya adalah memberikan pelayanan dibidang kebersihan dan keteduhan kota bagi seluruh masyarakat kota Tarakan,” ulangnya.
Dikatakannya, beberapa waktu lalu, Tarakan dikunjungi tim survei Adipura, dari kunjungan tersebut, raihan kebersihan di kota ini terbilang cukup baik, yakni dibawah 70. “Artinya dari segi pengelolaan kebersihan, kita masih cukup. Namun kini kita harus terus bekerja keras apalagi saat ini semakin banyak bermunculan para pedagang kaki lima di trotoar-trotoar jalan raya, akibat musim buah,” sebutnya.
Dari kondisi sekarang ini, Subono mengharapkan kiranya seluruh warga Tarakan dapat menjaga kondisi kebersihan di kota ini. “Ya, tujuannya bukan untuk Adipura, tetapi bagaimana kita bisa memberikan keindahan pada kota ini. Sehingga membiasakan kita pada kehidupan yang sehat,” tutur Subono. (*/sur)
Sumber : Radar Tarakan (13 Februari 2010)
Entri Populer
-
Kegiatan Kantor Pengolahan Data Kota Tarakan Berupa Pemasangan Koneksi Internet Di Tennis Indoor Telaga Keramat Tarakan Tempat Dilangsungka...
-
TARAKAN – Meski penerbangannya mengalami penundaan selama beberapa jam, namun sejumlah penumpang Sriwijaya Air di Bandara Juwata Tarakan me...
-
TARAKAN - Puluhan anggota Polres Tarakan bersama-sama masyarakat mulai dari organisasi kepemudaan, seniman, dan Kepala Satuan Kerja Perangk...
-
Lebih Dekat dengan Dokter Spesialis Jantung Dendi Wahyudi ITA RAHMAWATI - Stroke dan serangan jantung menjadi penyebab kematian tertinggi s...
-
TARAKAN - Asisten II Sekretariat Kota Tarakan, Sofian Raga mengatakan, agar banjir tidak semakin parah di kota Tarakan ini, perlu keterliba...
-
Anaknya Tak Diterima, Ortu Mengeluh TARAKAN - Meski pendaftaran peserta didik baru (PPDB) sekolah dasar dan menengah negeri berakhir kemari...
-
TARAKAN – Wakil Gubernur Kaltim Farid Wadjdy meresmikan pembangunan kantor Badan Amil Zakat (BAZ) Kota Tarakan yang baru di Kelurahan Selum...
-
TARAKAN - Banyaknya keluhan masyarakat Tarakan dengan tidak tersedianya toilet di kawasan objek wisata, seperti Taman Oval dan Pantai Amal ...
-
Bila berbicara olahraga bola basket di Tarakan, maka nama Praja Satria Basket Ball Club Tarakan akan selalu mengikutinya dibelakang. Karena ...
