Redirect to TarakanBais

Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Oktober 2011

Waspada DBD, Sudah 4 Meninggal

. Selasa, 25 Oktober 2011

Hingga September Penderita 196 Orang

TARAKAN – Tarakan dan sekitarnya mulai memasuki musim hujan. Diperkirakan Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Tarakan, musim hukan melanda hingga akhir November 2011 ini. Oleh karenanya Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan mengimbau warga agar tetap waspada, utamanya penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD).

“Kita mengharapkan disaat-saat seperti ini (musim hujan,red) warga lebih peka terhadap tempat-tempat yang bisa digenangi air yang dapat menjadi tempat berkembangnya jentik nyamuk,” imbau Arifin, SKM, Kepala Seksi Pencegahan dan Penanggulan Penyakit Dinkes Tarakan saat ditemui wartawan koran ini, kemarin (25/10). Untuk itu, pihaknya meminta kepada seluruh warga untuk mewaspadai genangan air dengan melakukan gerakan 3M (menguras, menutup dan mengubur) tempat-tempat yang bisa digenangi air serta menebarkan bubuk abate ke tempat penampungan air.

“Seiring dengan kondisi cuaca, kami akan terus meningkatkan upaya mengantisipasi penyakit DBD seperti membagikan bubuk abate dan gerakan pemberantasan sarang nyamuk kepada sejumlah warga terutama di wilayah yang tingkat endemisnya tinggi,” kata pria yang sebelumnya bertugas di Makassar ini kepada Radar Tarakan.

Ia menyebutkan, selama kurun waktu 2011 atau hingga 25 Oktober kemarin, di Kota Tarakan tercatat 196 kasus DBD dan meninggal sebanyak 4 orang. “Untuk bulan Oktober sendiri sampai saat hari ini (kemarin) ada 24 kasus, September lalu ada 29 kasus dan meninggal satu orang, mudah-mudahan jumlah ini bisa berkurang dan kita upayakan tidak ada yang meninggal lagi,” imbuhnya.

Gerakan abatisasi dan bersih-bersih dengan pola 3M merupakan salah satu upaya untuk menekan bertambahnya kasus DBD di kota ini. “Dari 20 Kelurahan yang ada hampir semuanya termasuk daerah endemis, tapi ada beberapa wilayah yang endemisnya tinggi seperti di Sebengkok dan Karang Anyar Pantai,” cetus Arifin. Menurut pantauan Dinkes Tarakan, timbulnya nyamuk aedes aegypty juga terdapat didalam rumah atau perkantoran yang dipicu melalui beberapa penampungan air minum seperti penampungan air di daerah dispenser yang tidak pernah dibersihkan.

“Penyebab meninggalnya penderita DBD pada September lalu itu karena ada sampah yang menggenang di bagian bawah rumah. Jadi meskpiun rumahnya bersih, risiko tempat perindukan nyamuk tetap ada,” tambah Arifin. Selain itu, Dinkes menilai keterlambatan masyarakat untuk membawa berobat keluarganya ke puskesmas ataupun rumah sakit juga salah satu penyebab meninggalnya pasien DBD.

Oleh karenanya, Ia berharap jika ada keluarga masyarakat yang menderita gejala DBD yang disertai panas tak menentu atau berlangsung hingga beberapa hari segera dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif. “Gejala awal DBD ini terus terang saja memang sulit terdeteksi sehingga kita selalu observasi. Karena kita berpatokan pada trombosit, trombosit itu kalau dibawah seratus ribu baru dia divonis DBD, tapi kalau gejala-gejala awal itu biasanya trombositnya tidak turun sampai seratus ribu kebawah, biasanya kalau sudah 100 ribu itu sudah parah sekali,” jelas Kepala Dinkes Tarakan, dr Khairul menambahkan.

Gejala awal DBD, lanjut dia, terkadang demam biasa dan demam tinggi. Namun jika penderita mengeluh hingga ke ulu hati serta muntah-muntah dan pendaraahan atau bintik-bintik merah harus segera ditangani. “Pencegahannya, kalau ada gejala-gejala seperti itu atau panas yang tidak jelas begitu, harus banyak minum dan istirahat,” saran dr Khairul. (sur/iza)

Sumber : radartarakan.co.id (26 Oktober 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Kamis, 20 Oktober 2011

112 PNS di RSUD Tarakan Diambil Sumpah Janji

. Kamis, 20 Oktober 2011

RSUD Masih Kekurangan Tenaga Medis

TARAKAN-Sebanyak 112 orang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim yang bertugas di RSUD Tarakan kemarin pagi diambil sumpah dan janji oleh Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Kaltim.

Kepala BKD Kaltim Kusmayadi mengatakan, meski telah banyak tenaga honorer di RSUD yang diangkat menjadi pegawai namun jumlah kebutuhan tenaga baik dokter, perawat maupun pegawai di RSUD Tarakan masih sangat kurang. “Jika ada pegawai rumah sakit yang mau pindah ke daerah lain agak sulit kami penuhi. Tapi kalau ada tenaga kesehatan yang mau pindah ke Tarakan ayo kita bantu,” kata Kusmayadi, usai mengikuti acara pengambilan sumpah dan janji Pegawai Negeri Sipil Daerah di lingkungan pemprov Kaltim, di ruang lubung sekretariat Pemkot Tarakan, kemarin pagi.

Menurutnya, yang paling urgen di RSUD Tarakan saat ini adalah tenaga dokter spesialis. Berapa jumlah PNS dan dokter yang masih dibutuhkan di RSUD Tarakan, saat ini masih dalam kajian perhitungan oleh BKD provinsi Kaltim, sesuai dengan Permenpan 26 yang menyarankan masing-masing pemerintah daerah melakukan perhitungan ulang. “Secara kasat mata saja tenaga dokter spesialis kita masih kurang,” ujarnya lagi.

Pemerintah provinsi sebenarnya sangat welcome untuk tenaga dokter spesialis masuk menjadi PNS di lingkungan pemprov Kaltim. Bahkan pada penerimaan CPNS tahun anggaran 2009 provinsi Kaltim membuka delapan formasi tenaga dokter spesialis. Namun sayang tidak ada satupun lowongan yang terisi.

Melihat hal ini, strategi penerimaan CPNS untuk tenaga dokter spesialis pun diubah. Yaitu dengan menerima formasi dokter umum sebanyak-banyaknya, kemudian ketika mereka telah menjadi PNS 100 persen para dokter umum ini diikutsertakan dalam tugas belajar menjadi dokter spesialis. “Memang ada beberapa dokter yang telah disekolahkan menjadi dokter spesialis di Tarakan,” ujarnya.

Dengan strategi seperti ini, menurutnya adalah cara yang paling efektif dalam merekrut tenaga dokter spesialis. “Sulit sekali untuk langsung mendapatkan dokter spesialis dari formasi umum, karena para dokter spesialis lebih memilih untuk bekerja di rumah sakit swasta atau di rumah sakit di kota besar,” jelasnya.

Namun begitu, Kusmayadi meyakini persoalan sulitnya mendapatkan dokter spesialis ini bukan hanya dirasakan provinsi Kaltim saja, namun juga menjadi persoalan nasional. “Samarinda juga sulit, Balikpapan juga sulit,” sambungnya.

Direktur RSUD Tarakan Wiranegara Tan mengatakan, pengambilan sumpah dan janji jabatan PNS ini terdiri dari dokter, bidan, perawat dan tenaga non medis di RSUD Tarakan. Saat ini, jumlah pegawai di Tarakan mencapai angka 700 orang yang efektif, belum tenaga outsourcing.

Namun jumlah ini jika dibandingkan dengan jumlah tempat tidur yang tersedia di rumah sakit, maka belum sebanding. “Masih diperlukan sekitar 200 tenaga medis lagi,” kata Wiranegara.

Untuk itu, lantaran tidak ada perekrutan lagi sesuai aturan pemerintah, maka pihak rumah sakit mewacanakan untuk mengefektifkan dan mengefisienkan pegawai yang ada sekarang. “Yang ada sekarang dikaryakan dulu, harapannya bisa efisien tapi kaya fungsi,” tuturnya.(ddq/ngh)

Sumber : radartarakan.co.id (21 Oktober 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Jumat, 14 Oktober 2011

Target 14 Ribu Balita Diimunisasi Campak

. Jumat, 14 Oktober 2011

Evaluasi Reaksi, setelah Imunisasi Anak Jangan Langsung Dibawa Pulang

TARAKAN – Pada tanggal 18 Oktober hingga 18 November mendatang Pekan Imunisasi Nasional (PIN) kembali digelar oleh Kementerian Kesehatan. Dari 33 provinsi, tahun ini Kemenkes hanya melaksanakannya di 17 provinsi di Indonesia, salah satunya di Kalimantan Timur. Untuk di Tarakan kegiatan itu akan dilakukan selama tiga hari secara berturut-turut atau mulai 18 hingga 20 Oktober pekan depan melalui Dinas Kesehatan Kota Tarakan.

Dalam kesempatan imunisasi massal ini, Dinkes Tarakan menargetkan sebanyak 14.257 balita diberikan vaksin campak. “Sementara untuk target imunisasi polio sebanyak 17.070 ribu balita,” kata Sugianti, SKm, pengelola program imunisasi Dinkes Tarakan kepada Radar Tarakan, kemarin (13/10). Sasaran untuk mencapai jumlah tersebut selain akan dilakukan di semua puskesmas di Tarakan serta sejumlah posyandu, kegiatan ini juga dihelat di tempat-tempat umum seperti pasar, pelabuhan, bandara dan rumah sakit. “Kita akan buka di tempat-tempat umum selain di puskesmas dan posyandu masing-masing kelurahan. Yakni di Pasar Gusher, Tenguyun, Pelabuhan Malundung dan Tengkayu I, Bandara Juwata dan rumah sakit,” kata dia.

Sugianti menjelaskan, hal ini sebagai upaya untuk menekan kematian balita akibat wabah dari kedua penyakit tersebut. Kendati demikian, dalam setahun terakhir ini pihaknya mengungkapkan penderita penyakit campak dan polio yang diderita balita di kota Tarakan masih nihil. “Kalau indikasinya ada saja, tapi kalau yang dinyatakan positif sejauh ini belum dialami warga Tarakan,” katanya.

Untuk sasaran kegiatan imunisasi polio, lanjut dia, akan diberikan pada semua anak yang berusia 0-5 tahun. Sedangkan untuk imunisasi campak kepada anak yang telah berusia dari 9 bulan hingga 5 tahun. “Pemberian imunisasi campak dan polio ini sangat penting untuk kesehatan anak, dan ini dilakukan tanpa dipungut biaya,” imbuhnya.

Pihaknya menganjurkan, setelah imunisasi balita tak diperkenankan langsung dibawa pulang. Disarankan diperhatikan dahulu selama 30 menit untuk mengevaluasi reaksi penyuntikan. Daerah yang disuntik dianjurkan langsung dikompres dengan kain bersih dan air hangat untuk mengurangi rasa nyeri dan bengkak. (sur/iza)

Sumber : radartarakan.co.id (14 Oktober 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Rabu, 12 Oktober 2011

Warga Tarakan Diminta Tetap Waspadai Difteri

. Rabu, 12 Oktober 2011

TARAKAN – Wabah difteri yang menyerang provinsi Jawa Timur tetap menjadi perhatian khusus jajaran Dinas Kesehatan Kota Tarakan. Meski diakui kepala dinas, dr. Khairul MKes, hingga kini belum ditemukan penderita difteri, bukan berarti Dinas Kesehatan Kota Tarakan tidak mewaspadai.

“Kami akan terus memantau perkembangannya. Apalagi di sejumlah daerah di Kaltim sudah ada yang diserang seperti Balikpapan, Samarinda, dan Kutai,” kata Khairul kepada Radar Tarakan kemarin (11/10).

Khairul juga menyampaikan, penyakit difteri disebabkan bakteri Corynebacterium diphtheria memang paling rentan menyerang anak-anak. Termasuk bayi, mulai umur 2 bulan.

“Penyakit seperti ini akan menyerang 80 persen anak di bawah usia 16 tahun. Jika telah diserang, 50 persennya akan meninggal,” beber Khairul.

Dia menjelaskan, penyakit difteri dapat menular dengan cara kontak langsung maupun tidak langsung. Air ludah yang beterbangan saat penderita berbicara, batuk, atau bersin membawa serta kuman-kuman difteri. Melalui pernafasan, kuman atau bakteri masuk ke dalam tubuh orang di sekitarnya, maka terjadilah penularan penyakit difteri dari seorang penderita kepada orang-orang di sekitarnya.

“Ciri yang khusus pada difteri ialah terbentuknya lapisan yang khas selaput lendir pada saluran nafas serta adanya kerusakan otot jantung dan saraf,” jelasnya.

Menurut Khairul, difteri merupakan jenis penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Dengan cara memberikan imunisasi pada bayi umur dua bulan sebanyak tiga kali dengan selang satu bulan. Jenis imunisasi ini termasuk dalam lima imunisasi dasar lengkap. Biasanya, imunisasi ini berbarengan dengan imunisasi polio, dan hepatitis B. Sedangkan imunisasi difteri tergabung dalam imunisasi Difteri, Pertusis dan Tetanus (DPT).

Untuk bayi umur 9 bulan dilengkapi dengan imunisasi campak (morbili) . “Difteri dapat dicegah jika ditanggulangi dengan cepat. Segeralah imunisasi anak Anda di Posyandu, Puskesmas atau pelayanan kesehatan lainnya,” saran Khairul.

“Untuk mencegah masuknya penyakit yang menyerang saluran pernapasan ini, saya minta kepada anak-anak agar jangan membiasakan menggunakan peralatan makan yang belum dibersihkan. Saya harapkan peranan orang tua juga untuk mengawasi anak-anaknya dalam kebersihan,” pesannya lagi.

Untuk mengetahui ada tidaknya jadwal imunisasi yang terlewat, bawa anak ke Posyandu, Puskesmas, rumah sakit atau dokter spesialis anak terdekat.

"Tidak ada istilah terlambat imunisasi. Mulai dengan anak kita sendiri, bila setiap orang tua di Indonesia mempunya pikiran yang sama, maka cakupan imunisasi akan tercapai sehingga tidak ada anak atau orang yang akan menjadi sumber penularan penyakit ini," tegasnya.(*/sam/ris)

Sumber : radartarakan (12 Oktober 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Senin, 10 Oktober 2011

Pelaksanaan PIN Campak & Polio 18 – 20 Oktober 2011

. Senin, 10 Oktober 2011

Tarakan,- Dinas Kesehatan Kota Tarakan berencana akan menyelenggarakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Campak dan Polio secara serentak di 17 Propinsi pada tanggal 18 – 20 Oktober 2011, dengan sasaran semua anak pada usia 0 – 59 bulan (0-5 tahun).

Menurut Kepala Dinkes Kota Tarakan, dr. H. Khairul, M.Kes, sasaran Imunisasi Polio adalah semua anak pada usia 0 – 59 bulan (0 – 5 Tahun), sedangkan sasaran Imunisasi Campak yakni semua anak pada usia 9 – 59 bulan (9 bulan – 5 tahun).

Masih dikatakan Khairul, pemberian imunisasi Campak & Polio ini diberikan pada semua anak tanpa memandang status imunisasi, karena pemberian imunisasi tersebut sangat penting untuk kesehatan anak.

Pemberian imunisasi dilaksanakan di Pos Imunisasi, Posyandu, Puskesmas, Rumah Sakit, Pasar, Pelabuhan Laut, Pelabuhan Udara dan tempat – tempat pelayanan kesehatan lainnya serta di Sekolah Taman Kanak – Kanak, Play Group, atau sekolah lain yang setara (Pos Imunisasi Terdekat).

DD, Diskominfo Tarakan

Sumber : tarakankota.go.id (11 Oktober 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Jumat, 30 September 2011

Dinkes Tarakan Akui Sulit Terdeteksi

. Jumat, 30 September 2011

Hingga September, Empat Penderita Meninggal Dunia

TARAKAN – Masyarakat Kota Tarakan yang meninggal dunia akibat menderita penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) terulang lagi hingga September ini. Padahal pada kasus 2010 lalu, sebanyak 275 penderita DBD dari 20 Kelurahan di empat Kecamatan tak satu pun warga yang meninggal dunia akibat penyakit tersebut.

Kendati demikian, Kepala Dinas Kesehatan Tarakan, dr Khairul menilai, sepanjang tahun ini penderita DBD yang dialami masyarakat Tarakan hingga 16 September lalu sebanyak 143 kasus relatif menurun. Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Kesehatan Kota Tarakan di 2008 kasus DBD tercatat sebanyak 471 kasus dengan meninggal dunia sebanyak 11 orang. Sedangkan angka tertinggi terjadi pada tahun 2009 yaitu sebanyak 706 kasus dan 12 orang meninggal dunia.

“Sebenarnya kita berharap kasus di tahun 2010 lalu yang tidak satu pun penderita DBD meninggal dunia bisa kita pertahankan di 2011 ini. Tapi mungkin kita terlena dengan kasus ini,” kata Khairul saat ditemui Radar Tarakan kemarin (29/9).

Selain itu, pihaknya juga menilai keterlambatan masyarakat untuk membawa berobat keluarganya ke Puskesmas ataupun rumah sakit. Sehingga ia berharap, jika ada keluarga masyarakat yang menderita gejala DBD yang disertai panas tak menentu atau berlangsung hingga beberapa hari segera dirujuk ke rumah sakit bukan Puskesmas untuk mendapatkan perawatan yang lebih insintif.

“Gejala awal DBD ini terus terang saja memang sulit terdeteksi sehingga kita selalu observasi. Karena kita berpatokan pada trombosit, trombosit itu kalau di bawah seratus ribu baru dia divonis DBD, tapi kalau gejala-gejala awal itu biasanya trombositnya tidak turun sampai seratus ribu ke bawah, biasanya kalau sudah 100 ribu itu sudah parah sekali,” terangnya.

Masih dikatakan dokter Khairul, gejala awal DBD kadang-kadang demam biasa dan demam tinggi. Namun jika penderita mengeluh hingga ke uluh hati serta muntah-muntah dan pendaraahan atau bintik-bintik merah harus segera ditangani.

“Pencegahannya, kalau ada gejala-gejala seperti itu atau panas yang tidak jelas begitu, harus banyak minum dan istirahat,” kata dr Khairul menganjurkan.

Upaya mencegah penyakit DBD di Tarakan sebenarnya sudah lama dilakukan pihaknya melalui gerakan bersih-bersih secara rutin melalui masing-masing kelurahan. “Minimal 3 M. Intinya lingkungannya selalu diperhatikanlah termasuk jika ada lubang-lubang pohon dan pagar yang bisa menampung air dikeringkan. Supaya tidak terjadi sarang nyamuk,” beber Khairul.(sur/ris)

Sumber : radartarakan (30 September 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Selasa, 20 September 2011

KPAP Seriusi HIV/AIDS Masuk Kurikulum SMP-SMA

. Selasa, 20 September 2011

Ujicoba Kurikulum di Samarinda, Balikpapan dan Tarakan

TARAKAN – Didasarkan pada keinginan untuk memenuhi target Millenium Development Goals (MDGs); pencapaian pengetahuan remaja usia 15 hingga 24 tahun tentang HIV/AIDS mumpuni dan komprehensif, Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) Kalimantan Timur pun mulai menseriusi rencana penyisipan pengetahuan tentang HIV/AIDS kedalam kurikulum pendidikan jenjang pendidikan SLTP dan SLTA. Harapannya ketika HIV/AIDS telah disampaikan secara komprehensif kepada pelajar SLTP-SLTA, maka pada tahun 2015 remaja sudah mengetahui secara mendalam apa itu HIV/AIDS. Sehingga berbagai stigma tentang penyakit yang belum ada obatnya ini dapat dihilangkan. “Yang harus diketahui, HIV/AIDS penularannya tidak gampang. Hanya lewat empat empat media, yakni hubungan seks tidak aman, penggunaan jarum suntik yang berulang, Air Susu Ibu (ASI) dan transfusi darah (tingkat penularan mencapai 0 persen, lantaran penanganan transfusi sudah melalui proses screening, red.),” ucap Marsono, Kelompok Kerja KPAP Kaltim kepada Radar Tarakan, baru-baru ini.

Rencana penyisipan HIV/AIDS sebagai materi pelajaran SLTP dan SLTA, di Kaltim untuk sementara hanya diujicoba di tiga kota. Yakni, Samarinda, Balikpapan dan Tarakan. Alasannya, kata Marsono, penanganan dan penanggulangan penyakit HIV/AIDS sudah dilakukan secara efektif dan komprehensif. Salahsatu indikatornya, sudah diterapkannya pendeteksian dini pengidap HIV/AIDS menggunakan sistem VCT (Voluntary Counseling and Testing) yang kegiatan ini mendapat dukungan pendanaan dari Global Fund (sejak 2006). “Di Tarakan, Wakil Walikota sudah memberikan respons positif terkait rencana ini. Kini tinggal media pendidikannya, instansi teknis terkait yakni Dinas Pendidikan (Disdik) dan sekolah,” tandas Marsono.

Langkah KPAP Kaltim ini juga didukung oleh Keputusan Presiden RI. Dari itu, rencana ini kemungkinan besar dapat segera direalisasikan. “Kalau sudah diwujudkan, maka materi yang akan dimasukkan kedalam pelajaran antara lain pengenalan awal soal HIV/AIDS, cara penularannya, pencegahannya, bagaimana reaksi sepatutnya terhadap penderita HIV/AIDS dan lainnya,” jelas Marsono lagi.

Sementara itu, Sudirman-Staf Ahli Walikota Tarakan yang sebelumnya menjabat Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan mengaku sangat mendukung rencana ini. Hanya saja ia menyarankan agar dalam realisasinya nanti, materi HIV/AIDS tidak berdiri sendiri tapi disisipkan ke mata pelajaran yang memiliki rumpun terkait, semisal mata pelajaran Biologi atau Olahraga. “Nantinya, guru terkait yang akan menyampaikan materi tersebut. Jadi, KPAP diharapkan dapat menggelar pelatihan untuk guru guna memperdalam pengetahuannya soal HIV/AIDS,” tandas Sudirman kepada Radar Tarakan, belum lama ini.

Guru yang dilatih pun tak harus dari tiap SLTP atau SLTA. “Dinas terkait akan menyiapkan guru-guru yang akan dilatih. Nah setelah dilatih, guru-guru tersebutlah yang bertanggungjawab untuk menularkan pengetahuannya kepada guru lain (mata pelajaran Biologi atau Olahraga) lewat media Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP),” ujarnya. Untuk diketahui, Tarakan saat ini memiliki 21 SLTP (MTs; 4) dan 19 SLTA (MA; 2).(ndy

Sumber : radartarakan (20 September 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Selasa, 06 September 2011

Ajuan Tenaga Kesehatan Tarakan Dibawah 60 Orang

. Selasa, 06 September 2011

TARAKAN – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan, dr Haji Khaerul MKes mengatakan, pada penerimaan CPNS formasi kesehatan untuk tahun 2009, sebanyak 140 orang yang diajukan ke BKN hanya disetujui 134 orang. “Saat itu jumlahnya paling banyak, bahkan lebih banyak dari tenaga pendidikan,” kata Khaerul kepada Radar Tarakan.

Sementara pada tahun 2010, Dinkes mengajukan penerimaan CPNS sebanyak 60 orang lebih dan disetujui semua. Untuk tahun ini, kemungkinan jumlahnya akan lebih sedikit dari 60 orang. “Saya tidak ingat persis jumlahnya, tapi yang jelas dibawah 60,” kata Khaerul.

Semakin berkurangnya jumlah penerimaan tenaga medis baru lantaran Dinas Kesehatan sendiri sudah mempunyai format kepegawaian tenaga kesehatan untuk jangka waktu lima tahun kedepan sesuai dengan rencana pengembangan.

“Tapi itu belum termasuk pengembangan rumah sakit. Untuk itu, jika rumah sakit sudah jadi, kemungkinan akan ada penambahan,” ujarnya.

Angka 60 orang untuk penerimaan CPNS tahun ini, sambung Khaerul sudah terbilang cukup banyak. “Kalau ditambah lagi, kami khawatir tidak ada lagi tempat duduknya. Jadi kita memenuhinya bertahap saja sesuai kebutuhan pelayanan agar tidak mubazir,” tuturnya.

Artinya, jika pemerintah kota memiliki program pengembangan baru di bidang kesehatan, barulah dilakukan perekrutan. Untuk diketahui, saat ini pegawai negeri di Dinas Kesehatan sudah mencapai angka 600 orang lebih, termasuk tenaga outsourcing. “Yang kurang sekarang sebenarnya adalah tenaga dokter, terutama dokter umum,” tuturnya. Pasalnya, agar tetap eksis, setiap Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) 24 jam minimal harus memiliki 8 orang dokter umum, dengan bertugas bergantian. Untuk PKM Juata Laut yang dikonsep buka 24 jam, kebutuhan SDM-nya sudah dipenuhi pada penerimaan CPNS 2010. “Makanya ada kesan kenapa tenaga kesehatan disana kok banyak sekali, itu lantaran rencana pegawai dan dokter disiapkan untuk 24 jam,” jawabnya.

Namun untuk pelayanan 24 jam-nya sendiri, memang belum bisa dilakukan berikut menanti gedung diopersionalkan dan siapnya fasilitas penunjang termasuk listrik. “Kalau semua sudah ready, pasti pindah karena meubelernya juga sudah siap,” ungkapnya.(ddq)

Sumber : radartarakan (6 September 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Kamis, 30 Juni 2011

Kota Tarakan Nominasi Kota Sehat Tingkat Nasional 2011

. Kamis, 30 Juni 2011

TARAKAN - Kota Tarakan kembali menjadi nominasi peraih penghargaan Kota Sehat tingkat nasional 2011. Tim penilai dari Kementerian Kesehatan dan Kementerian Dalam Negeri akan mengunjungi Kota Tarakan.

Tim penilai pusat rencananya selama dua hari, 7-8 Juli 2011 akan melakukan penilaian di Tarakan. Tim penilai akan mengunjungi rumah sakit, puskemas, sekolah-sekolah dan beberapa pemukiman warga Kota Tarakan.

Dalam penilaian ini ada sembilan tatanan aspek kehidupan kesehatan yang dinilai. Meliputi, pemukiman sehat, hutan sehat, pangan dan gizi, perkantoran sehat, tertib lalu-lintas dan transportasi. sehat mandiri, sosial dan ekonomi.

Ketua Forum Kota Sehat Kota Tarakan Salepa Hepa mengungkapkan, Kota Tarakan telah kedua kalinya ini mendapatkan penghargaan Kota Sehat yakni tahun 2007 dan 2009 dengan penghargaan Wiwerda.

"Diharapkan tahun 2011 kita kembali mendapatkan penghargaan Kota Sehat yang lebih meningkat lagi yaitu penghargaan Wisatara," ucapnya, Kamis (30/6/2011). (*)

Penulis : Junisah
Editor : Sumarsono

Sumber : kaltim.tribunnews.com (30 Juni 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Rabu, 29 Juni 2011

27 Penderita HIV/AIDS Baru di Tarakan

. Rabu, 29 Juni 2011

TARAKAN - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan mencatat selama lima bulan ini mulai Januari hingga Mei 2011 penderita HIV/AIDS yang baru di Kota Tarakan sebanyak 27 orang. Penderita HIV/AIDS ini ada yang berusia masih balita, anak-anak, remaja hingga dewasa.

"Mereka yang menderita HIV/AIDS masih terus dalam pengawasan Dinkes dengan didampingi konselor masing-masing. Mereka juga kita rawat dengan memberikan obat," ucap Kepala Dinkes Kota Tarakan, Khairul.

Khairul mengungkapkan, sebagai upaya pencegahan HIV/AIDS di Tarakan, pihaknya telah membentuk pos konseling atau Voluntary Counseling and Testing (VCT) di puskesmas, salah satunya di Puskesmas Sebengkok.

"Dengan adanya VCT ini dapat diketahui apakah terjangkit HIV/AIDS atau tidak. Kalau terjangkit HIV/AIDS tentunya akan diberikan penanganan oleh tim VCT. Bahkan 27 penderita HIV/AIDS yang baru ini juga ditemukan, karena mereka datang ke klinik VCT," ujarnya.

Penulis : Junisah
Editor : Mathias Masan Ola
Sumber : Tribun Kaltim

Sumber : kaltim.tribunnews.com (29 Juni 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Selasa, 14 Juni 2011

Dinkes Tarakan Dapat Bantuan 10 Unit Motor Ambulans

. Selasa, 14 Juni 2011

TARAKAN - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan mendapatkan bantuan 10 unit motor ambulans dari PT Asuransi Umum Bumiputera Muda (Bumida) 1967, Selasa (14/6/2011) di Kantor Walikota Tarakan.

Kunci motor ambulans secara simbolis diserahkan Direktur Utama PT Asuransi Bumida 1967 Muhammad Irsa kepada Walikota Tarakan Udin Hianggio. Lalu kunci motor tersebut berikan kepada Kepala Puskesmas Sebengkok.

Udin Hianggio mengucapkan terima kasih kepada PT Bumida atas bantuan motor ambulans kepada Dinkes Tarakan. "Tentu bantuan yang diberikan ini akan sangat membantu Dinkes untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat," katanya.

Sementara Kepala Dinkes Kota Tarakan, Khairul mengaku, 10 unit motor ambulans akan dibagikan kepada tujuh puskesmas di Kota Tarakan, instalasi farmasi, Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda), dan Dinkes Kota Tarakan.

"Motor ambulans ini digunakan untuk kendaraan operasional di Puskesmas, instalasi farmasi, Labkesda dan Dinkes.. Motor ini bisa digunakan untuk melakukan penyuluhan, kunjungan lapangan, survei ke rumah-rumah warga dan lain-lainnya demi memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Motor ini tidak boleh digunakan untuk pribadi," katanya.

Penulis : Junisah
Editor : Mathias Masan Ola
Sumber : Tribun Kaltim

Sumber : kaltim.tribunnews.com (14 Juni 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Selasa, 10 Mei 2011

Wawali Tarakan Ikut Pengobatan Gratis

. Selasa, 10 Mei 2011

TARAKAN - Pemeriksaan dan pengobatan gratis yang digelar Lanud Tarakan, Kamis (5/5/2011) tak hanya diikuti masyarakat Tarakan, Wakil Walikota Tarakan Suhardjo Trianto ikut memeriksakan dirinya.

Orang nomor dua di Tarakan ini diperiksa jantung, kadar gula dan tensi darahnya. Saat diperiksa dan dilihat hasilnya dokter memastikan Suhardjo dalam keadaan sehat. Jantung dan kadar gulanya normal dan tidak ada gangguan. Sedangkan tensi darahnya juga normal yaitu 110/80.

Suhardjo Trianto mengatakan, ia menyambut baik kegiatan pemeriksaan dan pengobatan gratis yang telah dilakukan Lanud Tarakan. "Bakti social seperti ini baik sekali. Apalagi pengobatan dan pelayanan kesehatan seperti ini sangat dibutuhkan masyarakat," ujarnya. (*)

Penulis : Junisah
Editor : Sumarsono

Sumber : kaltim.tribunnews (5 Mei 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Lanud Tarakan Gelar Pengobatan Gratis

.

TARAKAN - Pangkalan Udara (Lanud) Tarakan menggelar pemeriksaan dan pengobatan gratis kepada masyarakat Tarakan. Kegiatan ini digelar selama dua hari, 4 -5 Mei 2011 di Lanud Tarakan.

Animo masyarakat yang mengikuti pengobatan gratis luar biasa. Selama dua hari ada sekitar 350 masyarakat yang mengikuti pengobatan. Aksi pengobatan ditangani dokter-dokter spesialis dari tim medis Dinas Kesehatan TNI AU.

Ada 15 dokter spesialis yang diterjunkan dalam pengobatan gratis ini, diantaranya dokter spesialis THT, kandungan, penyakit dalam, syaraf, gigi, mata dan mulut. Masyarakat yang mengikuti pengobatan ini tidak hanya mendapat pemeriksaan dari dokter spesialis, namun juga diberikan obat gratis.

Danlanud Tarakan Letkol Budi Handoyo mengungkapkan, pemeriksaan dan pengobatan gratis ini adalah flying spesialis, program dari TNI AU sebagai bentuk kepedulian TNI AU terhadap masyarakat yang di daerah memiliki jumlah dokter spesialis yang masih minim.

"Kami lihat Tarakan ini dokter spesialisnya masih terbatas. Untuk itulah kami menghubungi mabes TNI AU, agar di Lanud Tarakan digelar kegiatan ini. Ternyata kegiatan ini direspon baik, dan akhirnya dikirimkanlah 15 dokter spesialis untuk mengobati masyarakat di sini," katanya. (*)

Penulis : Junisah
Editor : Sumarsono

Sumber : kaltim.tribunnews (5 Mei 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Jumat, 29 April 2011

Sakit Muntaber, Khairul Terpaksa UN di RSUD Tarakan

. Jumat, 29 April 2011

TARAKAN- Hari terakhir pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tingkat SMP/MTs, Wakil Walikota Tarakan Suhardjo Trianto melakukan kunjungan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) melihat dua pelajar kelas 3 SMP N 5 yang sakit, Kamis (28/4/2011).

Dua pelajar ini masing-masing Khairul dan Aditya, terpaksa tidak dapat mengikuti pelaksanaan UN mata pelajaran IPA di sekolah karena sakit. Meskipun sakit, Khairul yang mengalami muntaber ini, tetap dapat mengikuti UN di RSUD.

Saat mengikuti UN, Khairul mendapatkan pengawasan dari satu orang guru pengawas. Khairul mengerjakan soal IPA di ruang perawatan Dahlia.Beda halnya dengan Aditya meskpiun ngotot untuk mengikuti UN terakhir ini, dokter tidak memperbolehkan, karena Aditya yang dirawat di ruang ICU, mengalami pembekuan darah di otak, akibat kecelakaan dan baru saja selesai dioperasi, sehingga tidak dizinkan dokter mengikuti UN.

Kepala Dinas (Disdik) Kota Tarakan, Sudirman mengaku, khusus untuk Aditya dapat mengikuti UN susulan yang akan dilakukan Senin (2/5/2011) mendatang. "Aditya boleh ikut UN susulan, karena keadaanya lagi sakit," ucapnya. (*)

Penulis : Junisah
Editor : Sumarsono

Sumber : kaltim.tribunnews (28 April 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Kamis, 28 April 2011

Dinkes Tarakan Anggarkan PMT Balita Sebesar Rp 329 Juta

. Kamis, 28 April 2011

Dinkes Tarakan Anggarkan PMT Balita Sebesar Rp 329 Juta - Ardiz Borneo
TARAKAN - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan tahun 2011 menganggarkan dana untuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) balita sebesar Rp 329 juta. PMT ini berupa biskuit yang memiliki kalori tinggi.

“Sudah dua tahun ini kami memberikan PMT berupa biskuit dan bukan susu kepada balita. Alasan kami memberikan biskuit karena kami sedang mengalakan program Air Susu Ibu (ASI). Kalau kami berikan susu, nantinya program ASI ini tidak berjalan dengan baik,” ujar Kepala Dinkes Kota Tarakan, Khairul.

Khairul mengatakan, PMT biskuit ini ditujukan untuk balita kurang gizi. “Karena balita kurang gizi ini pelu asupan tambahan kalori dan gizi agar perkembangan tubuhnya menjadi lebih baik. Meskipun begitu biskuit ini juga tetap dibagi-bagikan kepada posyandu sesuai dengan kebutuhan balita,” katanya.

Penulis : Junisah
Editor : Mathias Masan Ola

Sumber : kaltim.tribunnews (27 April 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Hipertensi Penyebab Tingginya Angka Kematian Ibu dan Bayi di Tarakan

.

Hipertensi Penyebab Tingginya Angka Kematian Ibu dan Bayi di Tarakan - Ardiz Borneo
TARAKAN - Penyakit hipertensi yang disertai dengan kejang-kejang, dan pendarahan pada ibu hamil ternyata masih menyebabkan tingginya angka kematian ibu dan bayi di Tarakan.

Menurut catatan Dinas Kehatan (Dinkes) Kota Tarakan tahun 2010 ada 48 kematian ibu dan 14 kematian anak. Hal ini disebabkan karena ibu hamil saat melahirkan mengalami hipertensi.

Kepala Dinkes Kota Tarakan, Khairul mengungkapkan, apabila seorang ibu hamil mengalami hipetensi di atas 160 mmhg akan mengakibatkkan keracunan kehamilan. “Jadi sebaiknya dilakukan pertolongan persalinan lewat operasi caesar daripada normal, untuk menghindari kematian ibu dan anak,” ujarnya, Rabu (27/4/2011).

Khairul mengatakan, mulai saat ini dianjurkan kepada ibu hamil untuk selalu mengonsumsi makan bergizi. “Ini untuk meningkatkan daya tahan ibu serta bayi yang ada di dalam kandungan,” katanya.

Penulis : Junisah
Editor : Mathias Masan Ola

Sumber : kaltim.tribunnews (27 April 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Minggu, 03 April 2011

Puskesmas Tarakan Harus Bebas Asap Rokok

. Minggu, 03 April 2011

Tidak Perlu Sediakan Ruang Khusus Merokok

Puskesmas Tarakan Harus Bebas Asap Rokok - Ardiz Tarakan BorneoTARAKAN – Aturan larangan merokok di tempat umum, terlebih sarana kesehatan ternyata sudah lama diberlakukan. Bahkan sebelum pengesahan Perda Kesehatan Lingkungan di DPRD Tarakan Selasa lalu (29/3). Salah satunya diterapkan pada Puskesmas 24 jam di Karang Rejo dan Puskesmas Gunung Lingkas. Begitu masuk pagar puskesmas tidak diperbolehkan ada asap rokok.

Kepala Puskesmas Karang Rejo, dr.Ishak Paloga kepada Radar Tarakan kemarin (1/4) menyampaikan, baik di ruang tunggu, ruang-ruang kesehatan bahkan ruang staf harus steril dari asap rokok. Pihaknya juga memberi ketegasan tidak menyediakan ruang khusus merokok meski dalam perda Kesehatan Lingkungan disebutkan, agar larangan berjalan efektif dan tidak menimbulkan gejolak maka penanggung jawab tempat perlu menyediakan ruang khusus merokok. Jika pengunjung puskesmas ingin merokok, dipersilahkan keluar area Puskesmas.

“Sampai saat ini memang masih ada masyarakat yang merokok di area Puskesmas, terutama di titik ruang tunggu. Namun kami ingatkan berulang-ulang, papan larangan pun sudah cukup banyak di tempel di dinding-dinding yang dijangkau penglihatan pengunjung,” jelas Ishak Paloga.

Diakuinya, selama berjalan kurang lebih satu tahun ia menjabat Kepala Puskesmas Karang Rejo, tidak hanya sering menegur pengunjung, kebiasaan para staf puskesmas merokok di area kerja juga ikut ditertibkan. Disyukurinya, para pegawai mudah dikoordinasikan hanya untuk beberapa pengunjung yang terkadang lupa atau memang tidak tahu, dilakukan pendekatan persuasif lewat peneguran yang sopan.

“Yang jelas kami tidak akan menyediakan tempat khusus area merokok. Selama setahun saya disini, sebelum perda disahkan, larangan itu sudah berjalan. Lebih baik lagi ketika sudah ada dasar hukumnya, mudah-mudahan pemerintah bisa segera mensosialisasikan ke masyarakat agar perda itu ditaati dengan baik,” ungkapnya.

Kepala Puskesmas Gunung Lingkas, drg. Nursyamsi juga menyampaikan hal serupa. Di sini, pengujung diwajibkan mematikan rokok begitu memasuki pagar area Puskesmas. Bahkan plang larangan cukup besar juga menjadi penegas bahwa kawasan bangunan hijau dengan pelayanan kesehatan 24 jam itu harus steril dari asap rokok. Larangan ini ungkap Nursyamsi, sudah diberlakukan sejak puskesmas beroperasi, sekitar 2 tahun lalu.

“Selain plang besar di depan pintu pagar puskesmas, di ruang masuk dan di setiap ruang kesehatan kami pasang simbol atau kata-kata larangan merokok, agar pengunjung dengan jelas dan tidak lupa pada larangan itu,” terangnya.

Ia pun sepakat jika seluruh sarana kesehatan harus bebas asap rokok, oleh karena itu maka pihaknya juga tidak menyediakan ruang khusus merokok. Tidak seperti yang berlaku di restoran, hotel dan lainnya, yang memang customer oriented. Berbeda dengan puskesmas yang berfungsi sebagai sarana penunjang kesehatan bagi masyarakat. “Kalau di puskesmas kan memang sarana penunjang kesehatan. Kami jelas melarang. Kalau menyediakan ruangan merokok, sama hal nya kami tetap masih mendukung sementara seharusnya manusia itu tidak merokok,” jelasnya kepada Radar Tarakan.

“Kami punya sekuriti, banyak staf bahkan saya sendiri sering menegur masyarakat yang masih asik mengepulkan asap rokok dari bibirnya. Puskesmas area bebas rokok apalagi banyak pula yang sakit disini kalau ditambah terus maka akan semakin mempengaruhi kesehatan pasien yang sakit lebih awal. Makanya kami tidak menyediakan asbak atau bagaimanalah,” pungkasnya.(dta)

Sumber : RadarTarakan (2 April 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Sabtu, 02 April 2011

Dinkes Tarakan Bagi-Bagi Pamfelt

. Sabtu, 02 April 2011

Perda Larangan Merokok di Tarakan

Stop Merokok… Sangat Berbahaya - Ardiz TarakanTARAKAN - Dalam mensosialisasikan perda larangan merokok di tempat umum Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan telah membagi-bagikan pamflet perda larangan merokok kepada masyarakat.

"Kami sudah bagi-bagikan pamflet dan bahkan kami juga telah melakukan penyuluhan kepada masyarakat melalui pukesmas dan RSUD Tarakan. Kami harap masyarakat dapat mematahui perda larangan merokok di tempat umum ini," kata Kepala Dinkes Kota Tarakan, Khairul.Jumat (1/4/2011)

Sedangkan Walikota Takrakan Udin Hianggio menyarankan, sosialisasi perda ini dapat juga dilakukan di tingkat kelurahan dan kecamatan. "Kalau perlu di masjid-masjid saat sholat Jumat dapat diinformasikan kepada masyarakat. Saya kira sosialisasi seperti ini lebih efektif katanya

Penulis : Junisah
Editor : Adhinata Kusuma
Sumber : Tribun Kaltim

Sumber : tribunnews (1 April 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Sabtu, 12 Februari 2011

Penderita Gizi Buruk di Tarakan Menurun

. Sabtu, 12 Februari 2011

Penderita Gizi Buruk di Tarakan Menurun - BorneoTARAKAN - Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan menunjukkan jumlah balita gizi buruk di Tarakan tahun 2010 mencapai 24 kasus. Kasus balita gizi buruk ini menurun dibandingkan tahun 2009 yang mencapai 32 kasus.

Menurut Kepala Dinkes Tarakan, Khairul, penyebab adanya penderita gizi buruk bukan hanya karena faktor keluarga miskin, sehingga kekurangan makanan dan minuman. Melainkan karena adanya penyakit penyerta inilah yang akhirnya membuat balita menderita gizi buruk.
"Jadi bukan lantaran karena orangtuanya miskin, sehingga tidak bisa memberikan makanan dan minuman bergizi. Tapi yah itu sebagian penderita gizi buruk selalu berhubungan dengan suatu penyakit dan membuat balita menderita gizi buruk," ucapnya yang ditemui di ruang kerjanya, Kamis (10/2/2011).

Khairul mengataan, dalam mengatasi gizi buruk, pihaknya telah berkoordinasi dengan seluruh puskesmas untuk memberikan makanan tambahan kepada penderita gizi buruk. "Dengan memberikan makanan tambahan, ternyata gizi buruk di Tarakan bisa menurun, dan tahun 2011 ini pun belum ada laporan balita penderita gizi buruk," ucapnya.

Penulis : Junisah
Editor : Reza Rasyid UmarTARAKAN, tribunkaltim.co.id - Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan menunjukkan jumlah balita gizi buruk di Tarakan tahun 2010 mencapai 24 kasus. Kasus balita gizi buruk ini menurun dibandingkan tahun 2009 yang mencapai 32 kasus.

Menurut Kepala Dinkes Tarakan, Khairul, penyebab adanya penderita gizi buruk bukan hanya karena faktor keluarga miskin, sehingga kekurangan makanan dan minuman. Melainkan karena adanya penyakit penyerta inilah yang akhirnya membuat balita menderita gizi buruk.
"Jadi bukan lantaran karena orangtuanya miskin, sehingga tidak bisa memberikan makanan dan minuman bergizi. Tapi yah itu sebagian penderita gizi buruk selalu berhubungan dengan suatu penyakit dan membuat balita menderita gizi buruk," ucapnya yang ditemui di ruang kerjanya, Kamis (10/2/2011).

Khairul mengataan, dalam mengatasi gizi buruk, pihaknya telah berkoordinasi dengan seluruh puskesmas untuk memberikan makanan tambahan kepada penderita gizi buruk. "Dengan memberikan makanan tambahan, ternyata gizi buruk di Tarakan bisa menurun, dan tahun 2011 ini pun belum ada laporan balita penderita gizi buruk," ucapnya.

Penulis : Junisah
Editor : Reza Rasyid Umar

Sumber : tribunnews (10 Februari 2011)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Minggu, 21 Juni 2009

PMI Tarakan Buka Layanan Hotline HIV/AIDS

. Minggu, 21 Juni 2009

PMI Tarakan Buka Layanan Hotline HIV/AIDS
Palang Merah Indonesia (PMI) Tarakan akan terus berupaya menanggulangi penyebaran kasus HIV/AIDS di Kota Tarakan. Selain penyuluhan yang biasa dilakukan oleh pihak PMI, kali ini mereka mengembangkan informasi tersebut melalui sms yang bekerjasama dengan PT. Mitra Mediamaya Kalimantan dan perusahaan seluler di Samarinda. Dalam Launching hotline HIV/AIDS kemarin (15/6) diresmikan oleh Walikota Tarakan bertepatan dengan Hari Donor Darah Se Dunia yang berlangsung di gedung serbaguna Pemkot Tarakan.

Wakil Ketua PMI Tarakan, Aboebakar Pari menjelaskan, ada 100 petanyaan seputar HIV/AIDS yang telah terprogram dalam hotline HIV/AIDS. sehingga masyarakat tinggal mengetik keyword sesuai pertanyaan yang diinginkan seperti bagaimana mengetahui seseorang terinfeksi HIV/AIDS? maka ketik PMITRK HIV9 dan kirim ke 3252 . “Setelah itu akan ada balasan langsung dari operator yang menjawab mengenai hal tersebut yang beroperasi selama 24 jam.” ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga melayani melalui telepon yang siap standbay menjawab pertanyaan masyarakat yang melayani dari pukul 08.00 hingga 13.00,” Jelasnya.

Pelayanan masyarakat yang menggnakan telepon ini seperti yang terjadi di Jakarta Timur dan Pontianak. Namun dikhawatirkan penggunaan cara ini terkadang ada beberapa operator yang tidak mampu siaga 24 jam sehingga mereka hanya melayani 5 jam saja. “makanya kami konsekuensikan dengan menggunakan SMS supaya lebih efektif,” tandasnya.

Ia mengatakan tarif, dalam mengakses SMS pertanyaan ini yakni Rp. 1000,-. Namun pihaknya akan mengupayakan supaya layanan hotline ini dapat digratiskan. dengan adanya hotline ini masyarakat kata Aboebakar, semangkin banyak yang mengetahui tentang HIV/AIDS. sebab hal ini merupakan salah satu cara menghindari HIV/AIDS di Kota Tarakan.

Hotline HIV/AIDS:
32201 - 32202


Sumber : PMI Tarakan


Wisata SEO Sadau Kontes SEO Aristia Wida Rukmi

Klik disini untuk melanjutkan »»

Entri Populer

Label

Agama (23) Anggaran (2) Barongsai (1) BAZ (2) BBM (17) Bencana Alam (1) Budaya (5) CPNS (2) Cuaca (2) Ekonomi (25) English (3) Expo (1) Fasilitas (28) Galeri Foto (21) Gas (4) Hiburan (9) HUT Tarakan (2) Iklim (1) Kampus (1) Kasus (4) Kebersihan (5) Kecelakaan (4) Kehutanan (3) Kejaksaan (1) Kelurahan (4) Kependudukan (1) Kesehatan (23) Keuangan (1) KNPI (2) Komunitas (4) Koperasi (12) Korupsi (2) Kriminal (26) KTP (9) Lingkungan Hidup (7) Lowongan Kerja (5) Migas (2) Narkoba (2) Olahraga (32) Pariwisata (22) Parlemen (16) PDAM (5) Pejabat (1) Pelayanan (3) Pemerintah (35) Pendidikan (80) Peraturan (8) Perbankan (3) Perikanan (1) Peristiwa (27) Perizinan (1) Pertambangan dan Energi (2) Pertanahan (1) Pertanian (8) Perumahan (9) Peternakan (2) PLN (6) PNS (11) Polisi (2) Politik (7) Polres (11) Prestasi (38) Proyek (8) Sembako (1) Serba Serbi (8) Sosial (8) Tarakan (334) Teknologi Informasi (14) Telpon (1) Tenaga Kerja (2) TNI-AD (1) TNI-AU (4) Transportasi (35) Walikota (24) Warga (2)
 

Link Banner

Total Tayangan Halaman

Powered By Blogger

Sahabat Tarakan

Tarakan Borneo Lovers is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com