Terkait Penggunaan Handphone di Lingkungan Sekolah
TARAKAN – Penggunaan telepon seluler (ponsel) atau handphone (HP) bagi para pelajar di lingkungan sekolah juga mendapat tanggapan dari Dewan Pendidikan Kota Tarakan. Diungkapkan melalui sekretarisnya, Drs Agus Sutrisno, handphone ini merupakan alat komunikasi yang diperlukan. “Memang ada keunggulan dan kelemahannya. Salah satu keunggulannya, siswa bisa segera pulang ke rumah jika sekolah memulangkan siswa lebih awal dari jadwal yang sudah ditetapkan. Mereka langsung menghubungi orangtuanya atau pihak yang sudah ditugaskan untuk menjemputnya,” kata Agus Sutrisno.
Di sisi lain, jelasnya, tugas sekolah diharapkan dapat mencermati penggunaan alat komunikasi tersebut yang digunakan para siswa. Mengingat tidak semua perangkat dalam handphone bisa masuk ke dalam ranah pendidikan, seperti maraknya foto-foto dan situs-situs yang berbau pornografi. “Penggunaan handphone sebenarnya boleh selama pengawasan di sekolah harus ekstra. Solusi mengatasi penggunaan handphone harus disosialisasikan kepada siswa, mana yang perlu dan tidak,” terangnya.
Ditambahkannya, bila masuk jam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), handphone harus tidak diaktifkan. Bila diaktifkan maka akan timbul persoalan, “Misalnya siswa saling mengirim SMS (Short Message Service/layanan pesan pendek) untuk mengetahui jawaban saat menghadapi ujian. Inikan tidak dibolehkan,” jelasnya.
Sehingga penggunaan handphone perlu diatur tata tertib sekolah itu sendiri, yang mengarah kepada kebijakan-kebijakan sekolah agar menjadi lebih baik. Bila pun siswa sekolah tidak boleh membawa handphone maka akan ada persoalan terhadap orang tua kepada anak. “Untuk mengatasi hal ini peran orang tua agar memberikan pembekalan, karena teknologi ke depannya makin serba bagus,” ungkap Agus. (ipk/ash)
Sumber : radartarakan.co.id (26 Oktober 2011)
Redirect to TarakanBais
Selasa, 25 Oktober 2011
Sekolah Harus Lakukan Pengawasan Ketat
Senin, 24 Oktober 2011
Soal Pengawasan Penggunaan Ponsel bagi Siswa Sekolah
Peran Orang Tua Paling Utama
TARAKAN – Pengawasan dan pengaturan penggunaan telepon seluler (Ponsel) atau handphone (HP) bagi para pelajar tidak cukup hanya dilakukan di lingkungan sekolah saja. Namun orang tua lebih peran di sini. Orang tua juga diharapkan dapat memberikan pengawasan.
“Pengawasan serta tanggung jawab dalam mendidik anak tentu bukan hanya tanggung jawab dari pihak sekolah. Akan tetapi dari keluarga dan lingkungan pun turut menentukan karakter kepribadian anak,” kata Surianti SPsi, salah satu psikolog dari Lembaga Konsultasi Psikolog dan Pengembangan SDM Kota Tarakan.
Menurutnya, penggunaan ponsel bagi remaja, baik itu pelajar sebenarnya tidak ada salahnya. Apalagi kalau hanya untuk melakukan komunikasi. Perlu diketahui, bahwa selain memiliki hal negatif ponsel juga banyak manfaatnya. Apalagi mengenai internet. Misalnya, sebut dia, parasiswa bisa mengetahui berita atau informasi yang terjadi di luar daerah.
“Di sini, didikan orang tua sangat penting. Yang paling penting komunikasi. Sesibuk apapun orang tua perlu memberikan waktu yang berkualitas dengan anak-anaknya untuk berbagi,” ujar wanita yang juga berkantor di Polres Tarakan ini.
Dikatakan, waktu berkualitas bersama antara orang tua dan anak-anak tidak hanya ditentukan oleh banyak atau sedikitnya waktu yang disediakan oleh orang tua untuk anak-anaknya. Namun waktu berkualitas sangat ditentukan oleh tingginya intensitas komunikasi antara orang tua dan anak.
Sedianya orang tua harus menyediakan waktu berkualitas yang sebanyak-banyaknya untuk anak-anaknya. “Minimal orang tua harus menyediakan waktu minimal 20 menit untuk anak-anaknya agar prinsip-prinsip pengasuhan dapat dilaksanakan,” ujar wanita ini saat ditemui di kediamannya di Jl Pulau Nias Rt 4 No 32 Tarakan Tengah, kemarin (23/10).
Dia mengatakan, ada beberapa komponen penting dalam membentuk karakter anak. Salah satunya adalah keluarga (pendidikan informal) yang dalam hal ini diberikan para orang tua di saat mereka berada di dalam rumah. Para orang tua, kata Suriati, harus bisa memberikan contoh perilaku yang baik serta memberikan pengawasan apa yang silakukan si anak pada saat mereka berada di dalam rumah. “Dengan konsistensi kita menyiapkan waktu berkualitas bersama keluarga kita, keakraban dan ikatan emosional antara anak dan orang tua akan semakin erat terjalin,” jelasnya.
Sementara itu, Wati (37) salah seorang warga mendukung jika penggunaan ponsel di sekolah sangat perlu dilakukan pengawasan. Karena dengan adanya pengawasan penggunaan ponsel di lingkungan sekolah, penggunan ponsel lebih terpantau, dan bisa menghindari dampak-dampak negatif yang diakibatkan.
Seperti diberitakan sebelumnya penggunaan ponsel di sekolah menjadi bahan perhatian sejumlah pihak. Pihak dinas pendidikan Kota Tarakan bahkan berencana mengeluarkan surat edaran kepada seluruh sekolah untuk mengeluarkan aturan atau pembatasan penggunaan ponsel di lingkungan sekolah. Di sisi lain, sejumlah sekolah ternyata sudah lebih dahulu menerapkan aturan ini. (*/sam/ngh)
Sumber : radartarakan.co.id (24 Oktober 2011)
Rabu, 12 Oktober 2011
Puluhan Pelajar SMP Diamankan
Pulang Sekolah Main PS Masih Berseragam
TARAKAN – Sebanyak 21 pelajar salah satu SMP negeri diamankan Satpol PP karena kedapatan bermain Play Station (PS) dan masih berseragam sekolah.
Ketika dimintai keterangan, mereka mengaku sudah pulang sekolah, tetapi tidak langsung ke rumah untuk mengganti baju, justru bersama teman satu sekolah lain untuk bermain PS. Untuk memberikan pembinaan dan pengarahan, pelajar yang seluruhnya laki-laki itu kemudian dibawa ke markas Satpol PP.
Kepala Kantor Satpol PP, Dison SH mengatakan, awalnya 21 pelajar SMP ini terpantau oleh anggota Satpol PP saat asyik bermain game. Temuan ini kemudian dilaporkan ke kantor Satpol PP untuk ditindak lanjuti. Saat dilakukan penyusuran di lapangan sekitar pukul 11.00, ternyata benar dan puluhan siswa ini diangkut menggunakan mobil patroli ke markas Satpol PP di Jalan Pulau Halmahera, Ladang. Mereka kemudian didata dan laporkan kepada pihak sekolah dan orang tua masing-masing dengan harapan hal ini dapat diatasi dan tidak sampai terulang kembali.
“Jadi tindakan yang kami berikan berupa pendataan, kemudian membuat surat pernyataan dan berupaya menghubungi orang tuanya untuk menjemput anaknya pulang. Dengan temuan ini mudah-mudahan orang tua bisa ikut mengawasi anak-anaknya agar tidak berkeliaran saat pulang sekolah,” kata Dison.
Dari 21 pelajar ini, dua anak masih duduk di bangku kelas I, 8 siswa masih duduk kelas II dan selebihnya kelas III sebanyak 11 siswa. Patroli ini kata Dison tidak hanya sampai di sini, ke depannya Satpol PP akan terus melakukan pantauan ke tempat hiburan lainnya. Ini untuk menghindari adanya siswa berpakaian seragam keluyuran pada saat jam sekolah.
Selain itu, Satpol PP juga akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan untuk penanganan pelajar yang suka berkeliaran menggunakan pakaian sekolah, sehingga pihak Disdik bisa mengambil langkah-lagkah untuk pembinaan. “Formulasinya kami serahkan kepada Disdik sehingga bisa dieliminir adanya pelajar yang keluyuran, apalagi sampai bolos sekolah. Ini untuk kepentingan siswa sendiri, jangan sampai nilai kelulusan mereka berantakan,” kata Dison lagi. Satpol PP sendiri akan membantu dengan melakukan pengawasan di lapangan dengan melakukan pantauan atau patroli-patroli secara rutin.
Operasi dengan sasaran pelajar sekolah ini lanjut Dison sebenarnya sudah berjalan dari tahun ke tahun kerja sama dengan pihak Disdik dan Kepolisian. Tapi yang turun langsung ke lapangan dari pihak Satpol PP. Ke depannya akan kembali dirutinkan oleh Satpol PP agar tidak ada lagi ada pelajar yang berpakaian sekolah berada di tempat-tempat umum dan menghindari pelajar yang bolos pada saat jam pelajaran. “Kita akan lakukan patroli terus ke depannya. Patroli kan tidak ada target, tapi jika ada yang terpantau maka akan kita jaring,” pungkasnya.(jnu/ris)
Sumber : radartarakan (12 Oktober 2011)
Minggu, 09 Oktober 2011
Mahasiswa Tawuran, Sanksinya Dikeluarkan
REKTOR Universitas Borneo (UB) Tarakan, Dr. Ir. H Abdul Jabarsyah Ibrahim MSc menegaskan, akan memberi sanksi drop out (DO) kepada mahasiswa jika melakukan aksi tawuran, baik di dalam kampus maupun di luar kampus.
Menurut Jabarsyah, hal ini dilakukan seiring maraknya perkelahian antarmahasiswa yang terjadi belakangan ini di sejumlah universitas di Indonesia yang disebabkan berbagai persoalan.
“Kami akan mengambil sikap tegas jika hal serupa itu terjadi dan dilakukan mahasiswa UB Tarakan, maka mahasiswa yang bersangkutan akan dikembalikan ke orang tuanya atau DO,” tegas Abdul Jabarsyah kepada Radar Tarakan kemarin (7/10).
Jabarsyah juga menegaskan, penegasan ini dilakukan agar aksi tawuran yang sempat terjadi beberapa waktu lalu itu tidak terulang lagi di kampus di Kelurahan Pantai Amal ini.
“Untuk itu mulai tahun ajaran baru ini setiap mahasiswa khususnya mahasiswa yang mendapatkan beasiswa kita buatkan surat perjanjian atau kontrak terkait hal ini,” kata Jabarsyah.
Perkelahian yang sering dilakukan antarmahasiswa, rektor menilai ada sesuatu yang salah dalam mengelola dunia pendidikan di tanah air ini, tak terkecuali di Kota Tarakan.
“Solusinya untuk jangka pendeknya kita melakukan kontrak dengan mahasiswa, dan jangka menengahnya kita membenahi kurikulum tidak ada lagi kuliah di atas 8 semester,” ujarnya.
Selain itu, hal ini juga perlu dukungan dari Pemerintah Kota Tarakan yang selama ini terkesan di setiap sekolah tak diberikan sarana kegiatan kemahasiswaan yang dimulai dari tingkat sekolah dasar hingga menengah.(sur)
Sumber : radartarakan (8 Oktober 2011)
Jumat, 07 Oktober 2011
Enam Bulan Kembali Dievaluasi
Walikota: Tak Mampu Harus Siap Diganti
TARAKAN – Ke-51 kepala sekolah akhirnya dilantik Walikota Udin Hianggio kemarin (6/10). Pelantikan yang berlangsung di Ruang Lubung Kantor Walikota tersebut sempat menjadi perhatian karena selain cukup banyak guru yang mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah, juga prosesnya memakan waktu lama.
Kembali mengingatkan, proses rekrutmen calon kepala sekolah dilaksanakan Dinas Pendidikan Kota Tarakan akhir 2010. Bahkan, setelah melalui tahapan seleksi, mereka telah mengikuti pendidikan dan latihan yang dilaksanakan 17-26 Januari 2011. Namun belakangan disoal. Salah satunya disebabkan, proses rekrutmen dianggap menyalahi aturan.
Menanggapi hal tersebut, Walikota Udin Hianggio mengakui, belum dilantiknya calon kepala sekolah karena ada sejumlah aturan yang harus dikonsultasikan ke Kementerian Pendidikan Nasional. Aturan dimaksud yakni Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 28 Tahun 2010 yang mengatur penugasan guru sebagai kepala sekolah. Di dalam regulasi tersebut disebutkan persyaratan khusus guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah/madrasah yaitu berstatus sebagai guru pada jenis atau jenjang sekolah/madrasah yang sesuai dengan sekolah/madrasah tempat yang bersangkutan akan diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah.
Nah yang terjadi dalam proses rekrutmen calon kepala sekolah yang dilaksanakan Dinas Pendidikan Kota Tarakan tidak demikian. Guru Sekolah Menengah Pertama diusulkan menduduki jabatan baru sebagai guru di salah satu Sekolah Dasar dengan tugas tambahan sebagai kepala sekolah.
Dalam proses rekrutmen calon kepala sekolah juga unsur yang tidak dilibatkan. Sebagai informasi, dalam Permendiknas Nomor 28 Tahun 2010 disebutkan mengenai proses pengangkatan kepala sekolah. Meliputi pengangkatan kepala sekolah dilakukan melalui penilaian akseptabilitas oleh tim pertimbangan pengangkatan kepala sekolah. Tim ini ditetapkan pemerintah kota melibatkan unsur pengawas sekolah dan dewan pendidikan. Berdasarkan rekomendasi tim pertimbangan pengangkatan kepala sekolah, pemerintah kota sesuai dengan kewenangannya mengangkat guru menjadi kepala sekolah sebagai tugas tambahan.
“Saya tidak akan gegabah untuk membuat keputusan sebelum dikonsultasikan,” tegas Haji Udin – sapaan walikota kepada Radar Tarakan kemarin.
Walikota berharap, ke-51 kepala sekolah yang dilantik kemarin dapat mengemban amanah dengan sebaik-baiknya. Dalam waktu 6 bulan ke depan, kinerja mereka juga dievaluasi. Jika tak mampu berbuat lebih baik, walikota menegaskan akan mengantinya dengan yang lain. “Saya inginnya 6 bulan untuk dilakukan evaluasi. Kalau tidak mampu, ya harus siap diganti. Penetapan ini, juga bukan karena dasar suka dan tidak suka ya,” tandasnya.
Kepala Dinas Pendidikan Tajuddin Tuwo mengatakan, siang kemarin telah mengumpulkan ke-51 kepala sekolah untuk diberikan arahan di Dinas Pendidikan. Dia berharap, para guru yang mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah agar menyelesaikan tugas-tugas belum sempat terlaksana saat meninggalkan jabatannya.
“Jadi dalam waktu dua atau tiga hari mereka masih tetap berada di sekolah untuk menyelesikan tugas-tugas mereka,” imbuhnya.
Mereka yang tidak lagi menjabat kepala sekolah, Tajuddin sedang mempertimbangkan untuk dipromosikan menduduki jabatan penting di Dinas Pendidikan. Salah satu pertimbangannya menyangkut penilaian kinerjanya selama menjabat kepala sekolah.
“Tentu ada beberapa kepala sekolah yang sangat menonjol prestasinya saat menjabat sebgai kepala sekolah dulu, dan itu menjadi pertimbangan khsusus bagi Dinas Pendidikan untuk secara jelas menyikapi, salah satunya dengan ditarik di Disdik,” kata mantan kepala SMA 1 Tarakan itu.
Tajuddin juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada kepala sekolah yang telah diganti, sebab pengabdian yang mereka miliki selama ini masih tumbuh dan masih bagus hingga saat ini. Meskipun telah dicabut tugas tambahannya sebagai kepala sekolah, tapi semangat mereka untuk melaksanakan tugas pendidikan tidak kendur. Hal itu menurutnya menjadi suatu prestasi yang patut dibanggakan baik secara pribadi maupun oleh pemerintah kota.
“Saya berharap, ini dapat terus dipertahankan karena guru merupakan abdi negara dan abdi masyarakat yang mengemban misi untuk meningkatkan mutu pendidikan di Kota Tarakan,” harapnya.
Dari 51 kepala sekolah yang dilantik kemarin, ada 19 nama yang sebelumnya juga menduduki jabatan yang sama hanya bergeser ke sekolah lain. Misalnya M. Machfud yang sebelumnya menjabat kepala SMP 5, kini bertugas di SMP 3 menggantikan Akhmat Yani yang ditarik ke Dinas Pendidikan dan menempati posisi sebagai kepala Seksi Sarana dan Prasarana Bidang Pendidikan Menengah.(ndy/jnu)
Sumber : radartarakan (7 Oktober 2011)
Kepsek Harus Kuasai Manajemen
BESAR harapan untuk 51 kepala sekolah yang dilantik kemarin. Terutama ke-32 nama yang baru menjabat sebagai kepala sekolah. Harapan di antaranya disampaikan mantan kepala sekolah.
Ahmad Silitonga SE MA, mantan kepala SD 001 Tarakan berharap, penggantinya dapat menjalankan amanah.
“Semoga mereka bisa lebih unggul lagi, lebih maju lagi, lebih akurat lagi dan kita harus sama-sama optimis bahwa mereka bisa,” kata Ahmad Silitonga.
Ada beberapa hal yang disarankannya kepada penggantinya. Selain memimpin sekolah, kepala sekolah juga harus mampu menguasai manajemen. Antara lain mengatur hal-hal yang menyangkut administrasi serta hal lainnya dalam lingkungan sekolah agar berjalan dengan baik dan sejalan dengan visi misi pendidikan Kota Tarakan.
“Seorang kepala sekolah juga harus bisa menguasai materi pelajaran. Sebab salah satu patokan untuk bertanya bagi seorang guru adalah kepala sekolah jika seandainya suatu saat ada salah satu guru yang mengalami kesukaran dalam mata pelajaran,” bebernya.
Kepala sekolah harus mampu menjawab dan menjelaskan apa yang tidak dimengerti atau ada yang kurang jelas pada setiap mata pelajaran.
“Kalau kepala sekolah tidak bisa menjelaskan apa yang ditanyakan guru, semuanya akan sia-sia. Jadi seorang kepala sekolah harus unggul, baik mata pelajaran maupun manajemen,” saran Ahmad Silitonga.
Legan Imang SPd, mantan kepala SD 013 juga menyampaikan, sebagai insan pendidik untuk membangun Tarakan menjadi sebuah kota pendidikan harus kembali pada tiga pilar pembangunan Kota Tarakan, yang salah satunya adalah pilar supremasi hukum.
Ketika melaksanakan sesuatu program atau kebijakan menurutnya pasti ada aturan-aturan yang akan memandu, maka aturan itulah yang akan menjadi pegangan. Jika ada sesuatu yang menghambat aturan itu mungkin akan diselesaikan dengan cara kompromi atau ditempuh melalui suatu kebijaksanaan.
“Inilah yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Tarakan untuk mengatasi polemik pengangkatan calon kepala sekolah yang sudah dilantik pada hari ini (kemarin),” kata Legan Imang yang termasuk vokal menyoroti rekrutmen calon kepala sekolah beberapa waktu lalu.
Legan berharap, apa pun yang sudah terjadi, semua elemen guru dan kepala sekolah dapat bersama-sama mengamankan kebijaksanaan yang telah diambil pemerintah kota agar pembangunan pendidikan akan menjadi sebuah program prioritas bagi seluruh masyarakat.
“Ambil contoh saja Universitas Borneo Tarakan, sebagian mahasiswanya adalah berasal dari wilayah sekitar Tarakan. Harapan kita ke depannya tidak hanya Universitas Borneo yang akan jadi barometer, tapi sekolah tingkat TK sampai SLTA akan bisa berpacu sehingga menjadi sekolah unggulan dan menjadi percontohan bagi wilayah-wilayah di sekitar Kota Tarakan,” saran Legan.(jnu)
Sumber : radartarakan (7 Oktober 2011)
Kamis, 06 Oktober 2011
Total 51 Kepala Sekolah Dilantik Walikota Tarakan
19 Nama Bergeser ke Sekolah Lain
TARAKAN – Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan, Tajuddin Tuwo menepati janjinya segera menyelesaikan persoalan rekrutmen calon kepala sekolah. Pagi ini (6/10) sekitar pukul 08.00 Wita di Gedung Serbaguna Kantor Walikota Tarakan, rencananya ada 32 nama yang telah mengikuti proses rekrutmen sejak akhir 2010 akan dilantik sebagai kepala sekolah yang baru.
Tajuddin menjelaskan, dengan dilantiknya kepala sekolah yang baru tersebut, pejabat lama dengan otomatis akan dicabut tugas tambahannya sebagai kepala sekolah dan akan didinaskan di sekolah masing-masing sebagai guru dan sebagian akan ditugaskan sebagai guru di sekolah lainnya.
“Kepala sekolah ini kan tugas tambahan. Setelah tidak menjabat, maka akan didinaskan kembali sebagai guru,” kata Tajuddin Tuwo kepada Radar Tarakan kemarin (5/10).
Sedangkan untuk menempatkan kepala sekolah yang telah habis masa jabatan ini ke Dinas Pendidikan, baik sebagai pengawas atau penilik sekolah yang bersangkutan mesti melalui mekanisme yang telah ditetapkan.
“Untuk dipromosikan jadi pengawas atau penilik maka harus melalui tes dulu, itu prosedurnya,” kata mantan kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Tarakan.
Tajuddin juga berharap, kepala sekolah yang baru dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan meningkatkan kinerjanya sehingga mutu pendidikan di Tarakan menjadi lebih baik lagi. “Sekarang sudah baik, tapi saya harap bisa lebih baik lagi,” harap pria yang pernah menjabat kepala SMA 1 Tarakan.
Masih kata Tajuddin Tuwo, kinerja dari kepala sekolah ini termasuk yang baru menjabat akan terus dilakukan penilaian oleh tim pertimbangan pengangkatan kepala sekolah yang terdiri dari 3 unsur seperti Dewan Pendidikan, Pengawas Sekolah plus dari Dinas Pendidikan sendiri. Selain peningkatan mutu, juga nantinya sebagai pertimbangan untuk mengambil kebijakan apakah layak atau tidak untuk dilakukan perpanjangan masa jabatan. Jadi kepala sekolah diharapkan mampu memperlihatkan kredibilitas, kinerja dan kemampuannya untuk memimpin sekolah.
“Tingkat keberhasilan seorang kepala sekolah nanti akan ditentukan dari penilaian yang dilakukan oleh tim tersebut,” ujar Tajuddin Tuwo.
Sementara, di samping akan melantik 32 kepala sekolah baru, 19 nama kepala sekolah juga akan dilakukan pelantikan pagi ini untuk menduduki jabatan kepala sekolah di sekolah yang baru. Ke-19 kepala sekolah lama yang akan dilakukan pergeseran ini di antaranya ada yang berasal dari sekolah di daerah pesisir dan dipindah ke sekolah di perkotaan.
“Pergeseran ini juga tidak terlepas dari hasil penilaian dari pengawas sekolah beserta tim tentang kinerja kepala sekolah. Jadi seluruhnya yang akan dilantik besok (hari ini) sebanyak 51 kepala sekolah,” kata Tajuddin Tuwo.(jnu)
Sumber : radartarakan.co.id (6 Oktober 2011)
Selasa, 27 September 2011
Satu Siswa Dapat Rp 900 Ribu
Ada 61 Siswa Korban Kebakaran di Beringin
TARAKAN – Peristiwa kebakaran yang terjadi di kawasan Beringin sepekan lalu membuat sebagian siswa kehilangan perlengkapan sekolahnya. Menurut data sementara yang dihimpun Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tarakan melalui Kelurahan Selumit Pantai Kecamatan Tarakan Tengah, jumlah siswa yang terkena dalam musibah tersebut tercatat sebanyak 61 orang.
Untuk meringankan korban kebakaran yang menghanguskan 81 rumah warga dari dua RT itu, sehari pasca kebakaran pekan lalu pihak Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tarakan telah bergerak untuk menyampaikan kabar buruk ini ke setiap sekolah yang ada di kota Tarakan.
“Hasilnya seluruh sekolah mulai dari play group hingga SMA telah berinisiatif memberikan bantuan secara spontanitas untuk korban yang telah kita salurkan hari ini (kemarin, Red),” ujar Kepala Disdik Tarakan, Tajuddin Tuwo disela-sela penyerahan bantuan yang dihadiri Asisten Kesejahteraan Rakyat Setkot di Kantor Disdik Tarakan, kemarin (27/9).
Adapun bantuan yang diberikan Disdik Tarakan yakni berupa voucher belanja perlengkapan sekolah untuk masing-masing siswa, mulai dari seragam sekolah hingga sepatu dan buku sekolah yang dapat ditukarkan di salah satu toko di jalan Gajah Mada. “Untuk siswa yang belum terdata atau belum mendapatkan voucher belanja tersebut dipersilahkan melaporkan diri ke Disdik untuk diberikan bantuan yang sama,” pinta Tajuddin.
Dari jumlah tersebut, jumlah siswa yang terkena musibah ini kebanyakan masih duduk di bangku sekolah dasar, kemudian disusul SMP dan SMA. “Dana sementara yang terkumpul di Disdik sebanyak Rp 51 juta dan masing-masing siswa mendapat Rp 900 ribu,” sebut mantan Kepala Sekolah SMA 1 Tarakan ini.
“Bantuan ini tidak pernah kita programkan karena musibah itu datangnya di luar dugaan, oleh karenanya itu kita harapkan dana yang dikumpulkan melalui seluruh sekolah ini dapat membantu korban terutama dari segi kemanfaatannya,” beber mantan Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja tersebut. (sur/ash)
Sumber : radartarakan (28 September 2011)
STIE Dukung Percepatan Kawasan Ekonomi Khusus
TARAKAN – Laporan akhir hasil penelitian STIE Tarakan melalui Lembaga Penelitian, Pengabdian, dan Pemberdayaan Masyarakat (LP3M) bekerjasama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) kota Tarakan mengungkapkan bahwa struktur ekonomi makro di kota Tarakan sangat dipengaruhi oleh daerah-daerah di sekitarnya, termasuk kondisi makro yang ada di sekitar Tarakan. Untuk itu, peran pemerintah kota sangat kuat dan berpengaruh terhadap strategi dalam mendorong sasaran investasi. Salahsatu upaya strategis adalah dengan mendorong terbangunnya sebuah kawasan ekonomi khusus (KEK) melalui penetapan lokasi KEK. “Saat ini di Tarakan memang sudah dilakukan kajian terhadap kawasan ekonomi khusus tersebut dan segera akan dibentuk,” ujar ketua LP3M STIE Kota Tarakan, Arifuddin dalam paparannya di ruang Imbaya, kemarin.
Khusus untuk kawasan ekonomi khusus ini, sebenarnya sudah diberlakukan hampir di semua kota-kota besar yang perekonomiannya maju pesat. Di Makassar misalnya, ada namanya Kawasan Industri Makassar. Di lokasi tersebut memang terfokus pada seluruh jenis ekonomi yang akan diinvestasikan oleh investor, dan pemerintah setempat memberikan berbagai banyak kemudahan. “Kawasan ekonomi khusus ini tujuannya memberikan kemudahan kepada para investor untuk masuk menanamkan modalnya di kota Tarakan,” jelasnya. Termasuk di beberapa daerah lainnya, ada yang membuat KEK dengan nama KAPEK (kawasan perdagangan ekonomi khusus). Upaya lain yang dapat dilakukan adalah meningkatkan efektivitas pelaksanaan pengembangan kerjasama pemerintah dan swasta (KPS) terutama dalam investasi penyediaan infrastruktur dan energi. “Jadi konsekuensinya dengan kawasan ekonomi khusus ini adalah tuntutan bagi pemerintah untuk menyediakan infrastruktur dan energi yang masih sangat terbatas,” ujarnya.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi lebih berorientasi kepada peningkatan pendapatan perkapitan masyarakat. Sehingga tugas pemerintah adalah bagaimana mendorong kebijakan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat tersebut. Sementara itu, staf ahli walikota Sudirman mengatakan penelitian yang dilakukan STIE bersama Bappeda ini hendaknya dapat memberikan masukan dan andil bagi pemerintah kota Tarakan dalam mengambil kebijakan.(ddq/ndy)
Sumber : radartarakan (27 September 2011)
Minggu, 25 September 2011
Kasus Tawuran, Polres Fasilitasi Perdamaian
TARAKAN - Setelah mengamankan sejumlah siswa dalam aksi tawuran antara dua sekolah yang berbeda, pada Jumat siang di Jl RE Martadinata, pihak Polres Tarakan kemudian mendamaikan kedua pihak yang saling bertikai tersebut. “Permasalahan hanya karena cewek, dan ini terjadi antara pelajar maka langkah yang ditempuh adalah mendamaikan kedua belah pihak,” jelas Kapolres Tarakan AKBP Drs Agustinus Budi Prasetyo SH MH, melalui Kasat Reskrim AKP Guruh Chandra Permana SH SIK.
Solusi damai, tegas kasat bukan berarti perbuatan yang mereka lakukan (maksudnya tawuran) dilegalkan. “Sesungguhnya perbuatan itu adalah pidana. Namun, tidak ada korban dan semuanya pelajar juga yang pertama kali jadi penyelesaiannya secara persuasif,” tegasnya. Penyelesaian dimaksud, tegas kasat reskrim, pihaknya memanggil guru dari kedua sekolah, orangtua dari siswa yang terlibat dan siswa itu sendiri.
Seperti diberitakan sebelumnya, tawuran antara kedua sekolah Jumat siang itu dipicu urusan perempuan. Meskipun tidak ada korban maupun luka-luka dalam insiden tersebut, namun langsung direspon aparat kepolisian dengan mengamankan dan memeriksa sejumlah siswa dan akhirnya mendamaikan mereka.
IGN alias IW siswa sekolah negeri, dihadapan polisi menceritakan, awal persoalannya dia tidak tahu menahu. Hanya saja dalam perjalanan pulang dari sekolah menuju rumahnya, dia dipanggil oleh beberapa temannya untuk singgah di SMU Hang Tuah. Setelah berada di sekitar sekolah swasta ini, barulah dia mengetahui kalau sekelompok temannya yang lebih dari 10 orang itu berencana menyerang siswa SMU Hang Tuah. “Sempat saya menanyakan pokok persoalan dan larang teman-teman, karena orang yang bermasalah juga tidak ada,” pungkasnya.
Sementara itu CRD siswa kelas II IPS 2 sekolah negeri ini, yang diketahui sebagai aktor dibalik insiden tersebut mengakui jika, datang ke SMU Hang Tuah bersama 6 orang teman sekolahnya.
Niatnya, dia ingin menanyakan ICR pacarnya (siswi Hang Tuah) tentang isi pesan yang dikirimkan kepada dirinya. “Saya datang bersama 6 orang teman saya dengan maksud mau menanyakan SMS yang dikirim melalui nomor telepon pacar saya,” jelasnya. Namun belum sempat menanyakan ikhwal tersebut, justru sudah terjadi insiden keributan antara kedua kelompok siswa dari sekolah yang berbeda itu. (noi)
Sumber : radartarakan (26 September 2011)
Kamis, 22 September 2011
Apel Pagi, Belasan Siswa Kesurupan
TARAKAN – SMA Hang Tuah yang terletak di Jalan RE Martadinata, kemarin pagi mendadak heboh. Ini karena usai apel pagi, sekitar pukul 07.15 Wita, belasan siswi SMA itu kesurupan. Awalnya, hanya satu siswi saja yang mengalaminya, yakni Ayu, siswi kelas 12 jurusan IPS 1. Tak berselang lama Riskiana, rekan sekelasnya mengalami hal serupa.
Siswa lain yang baru melaksanakan apel langsung membubarkan diri. Kedua siswa yang kesurupan tersebut dilarikan ke musala yang berada di sekolah tersebut. Ternyata kesurupan ini “menular” ke siswi lainnya. Diperkirakan kurang lebih 15 siswa mengalami kesurupan.
Kepada Radar Tarakan, Kepala Sekolah SMU Hang Tuah, Ir Hajah Jusmini Junus mengaku kesurupan sudah sering terjadi di sekolahnya. Misalnya pada Selasa lalu (20/9), 2 siswi kesurupan. “Kejadian ini sering, tapi hanya satu atau dua orang. Tidak seperti hari ini (kemarin. Red),” kata Jusmini, kemarin.
Jusmini mengatakan, kejadian seperti ini biasanya siswa tersebut lagi ada masalah atau pikirannya kosong. Bahkan siswa yang kesurupan tersebut sempat dilarikan di RS AL Ilyas untuk mendapatkan perawatan. “Mungkin mereka lagi banyak masalah sehingga kami kasih terapi saja,” tuturnya.
Hal serupa juga pernah terjadi saat pihak sekolah melaksanakan orientasi (ospek) untuk siswa tahun ajaran baru. Jusmini menceritakan kejadiannya malam hari saat ingin menyala api unggun, tapi acara tersebut belum dimulai tiba-tiba siswa kesurupan. “Mungkin faktor kecapean, apalagi siswa baru. Kejadian ini kan kita tidak inginkan,” beber Jusmini. Kesurupan missal akhirnya bisa diatasi setelah ada tim yang melakukan “pengobatan”. Akibat kejadian kemarin, tersebut, seluruh siswa dipulangkan. Ini dilakukan untuk mengantisipasi meluasnya siswa yang kesurupan. Namun hari ini (Kamis), kegiatan belajar mengajar akan berjalan normal. (ipk)
Sumber : radartarakan (22 September 2011)
Selasa, 20 September 2011
Hendy Lie, Bawa Pulang Perak Dalam Olimpiade Sains Nasional
Tarakan,- Perwakilan Kota Tarakan meraih mendali perak dalam ajang Olimpiade Sains Nasional 2011, yang dilangsungkan di Kota Manado, Sulawesi Utara. Hendi Lie lah yang telah berhasil mengharumkan nama Tarakan dalam dunia pendidikan.
Hendy merupakan pelajar SMAN 1 Tarakan yang berkesempatan mewakili Provinsi Kalimantan Timur dalam Olimpiade Sains bidang komputer yang dilaksanakan pada tanggal 11-16 September lalu dengan menyisikan 90 pelajar lainnya se-Indonesia.
Sebelum berangkat mewakili Kalimantan Timur, Hendy Lie diwajibkan bersaing dengan 14 pelajar dari kabupaten/kota lainya se-Kaltim. Dari hasil seleksi ketat akhirnya terpilih dua perwakilan Provinsi yaitu Ciputra Sanjaya (Samarinda) dan Hendy Lie ( Tarakan).
Dalam keterangannya, Hendy mengaku sangat bangga karena kali ini ia bisa membawa nama baik Tarakan ke Ajang Nasional, walaupun hanya meraih mendali Perak.
“Senang bisa meraih mendali perak,” tuturnya singkat.
Hendy mengakui bahwa keberhasilannya saat ini merupakan hasil dari kerja kerasnya selama ini, dengan dukungan penuh dari pihak keluarga, sekolah dan Pemerintah Kota Tarakan. Ia mengaku bahwa target kedepan, berharap bisa kembali bersaing dalam ajang yang lebih tinggi, yakni skala Internasional.
“Targetnya adalah masuk pelatnas dan go Internasional,” jelasnya.
TT – DD, Diskominfo Tarakan
Sumber : tarakankota (20 September 2011)
Tajuddin Janji Segera Selesai, Sudirman Anggap Sudah Klir
Soal Polemik Rekrutmen Calon Kepsek
TARAKAN – Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan yang baru, Tajuddin Tuwo kemarin mulai berkantor, setelah siang kemarin (20/9) berlangsung acara serah terima jabatan.
Kepada Radar Tarakan usai berkoordinasi dengan sejumlah stafnya, Tajuddin mengungkapkan komitmennya untuk menyelesaikan persoalan rekrutmen calon kepala sekolah yang menjadi polemik belakangan. “Secepatnya kami akan selesaikan,” kata Tajuddin Tuwo.
Dia pun berharap, setelah proses yang dilakukan berpedoman pada aturan yang ada selesai dilakukan, maka pihaknya segera menyampaikan rekomendasi kepada walikota.
“Pak Walikota juga menaruh perhatian mengenai hal. Tentu saja ini memotifasi saya dan rekan-rekan di Dinas Pendidikan untuk menyelesaikan hal ini,” ujar pria yang sebelumnya menjabat Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Tarakan.
Sementara, di lantai tiga kantor Dinas Pendidikan Jalan Jenderal Sudirman, siang kemarin berlangsung acara sertijab. Sekadar mengingatkan pada mutasi yang dilaksanakan Sabtu lalu (17/9), tiga pejabat Dinas Pendidikan diganti. Selain kepala dinas, pemerintah kota juga mengganti sekretaris Dinas Pendidikan, dan kepala Seksi Sarana dan Prasarana Bidang Pendidikan Menengah.
Sudirman, kepala dinas sebelumnya dimutasi menjadi staf ahli walikota. Sedangkan Edy Susanto digantikan Rudiana sebagai sekretaris Dinas Pendidikan. Edy yang pernah berdinas di Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang menempati posisi baru sebagai sekretaris Dinas Perhubungan.
Akhmad Yani, kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Tarakan menempati posisi baru sebagai kepala Seksi Sarana dan Prasarana Dikmen.
Ditemui usai sertijab yang dihadiri Wakil Walikota Suhardjo dan Asisten III Muhammad Yunus Abbas, Sudirman menyampaikan, mutasi adalah konsekuensi sebagai pegawai negeri sipil.
Dia menegaskan, siap tidak siap, suka tidak suka, jika itu adalah perintah atasan harus dihormati dan dijaga.
“Sebagai pegawai, jangankan hanya dimutasi, ibaratkan dipecat pun harus siap,” kata Sudirman.
Mantan kepala Badan Pendidikan dan Latihan Tarakan itu mengaku, ia harus banyak belajar lagi pada jabatannya yang baru sebagai staf ahli walikota bidang ekonomi.
“Catatan saya, pertama harus belajar untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab yang baru. Kemudian harus fair dan ada tupoksi untuk saya. Kalau saya tidak diberi tupoksi bagaimana saya bekerja,” ujar Sudirman.
Ditanya dengan “pekerjaan rumah” yang belum diselesaikannya selama menjabat kepala dinas, Sudirman membantah. Dia merasa telah menyelesaikan semua tugas yang telah dibebankan kepadanya, termasuk soal rekrutmen calon kepala sekolah.
“Itu sudah selesai dan sudah ditandatangani Pak Walikota. Kalau mau, akan saya tunjukkan dokumennya. Mereka Insya Allah segera akan dilantik, tapi saya tidak berwenang mengungkap itu. Jadi, saya rasa tidak ada PR yang saya tinggalkan,” kata Sudirman.(jnu)
Sumber : radartarakan (21 September 2011)
Selesaikan Masalah Rekrutmen Kepsek
Tajuddin: Jadi Agenda Awal sebagai Kepala Disdik Baru
TARAKAN – Sejumlah “pekerjaan rumah” telah menanti Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan yang baru, Tajuddin Tuwo. Salah satunya mengenai rekrutmen calon kepala sekolah yang berpolemik karena dilaksanakan sejak akhir tahun 2010, tapi belum juga ada kejelasan.
Persoalan ini yang menurut sumber Radar Tarakan menjadi salah satu penyebab digantinya sejumlah pejabat Dinas Pendidikan Kota Tarakan. Meski di sisi lain, Walikota Tarakan Udin Hianggio menyampaikan, mutasi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan organisasi dan hal yang biasa dalam roda organisasi pemerintahan.
Anggota DPRD Kota Tarakan, Syamsudin Araf berharap, persoalan ini bisa diselesaikan oleh kepala dinas yang baru.
“Tetap harus ada penyelesaian. Diganti dengan pejabat baru di Dinas Pendidikan pun saya berpikiran positif. Mutasi dilakukan sebagai proses percepatan pembangunan di Tarakan,” kata Syamsuddin Arfah.
Dia mengatakan, kemampuan leadership seseorang akan dilihat dengan bukti mampu menyelesaikan persoalan yang ada dalam kawasan tupoksinya.
“Kalau penyelesaiannya datar-datar saja, semua orang juga mampu menjadi kepala dinas. Tapi ketika ada persoalan, kemudian mampu diselesaikan, maka di situlah kemampuan leadership terlihat. Jadi artinya, pimpinan terdahulu dalam proses penyelesaian, yang baru melanjutkan. Koordinasi juga perlu,” jelas Syamsuddin.
Diibaratkannya, bekerja berdasarkan sistem. Siapapun lokomotifnya, semua lazim berjalan dengan sistem yang ada. Jika menuai kendala, bersama pemerintah, dan pihak yang berkompeten segera inventarisir persoalan yang ada, sepanjang tidak melanggar aturan yang ada.
“Pergantian atau tidak, semua sudah pasti diperhitungkan. Yang jelas di setiap kepemimpinan, dituntut harus meningkatkan kinerja dan menunjukkan kemampuan leadership yang ada. Penyelesaian setiap masalah juga wajar jika bertahap, menghindari munculnya masalah jika tergesa-gesa,” tandasnya.
Hal senada diungkapkan Anggota Komisi II lainnya, Haji Fadlan Hamid. Menurutnya, pergantian pimpinan di Dinas Pendidikan Tarakan jangan justru melenyapkan penyelesaian persoalan perekrutan kepala sekolah. Jika kebijakan tersebut berdampak baik dan tidak melanggar aturan perundang-undangan, layak diselesaikan. Namun jika bermasalah, perlu tinjuan kembali.
“Si pengganti perlu lanjutkan keputusan apa yang sudah diambil pejabat lama, baru nanti dibuat suatu kebijakan baru. Kalau memang keputusan itu baik. Tapi jika bermasalah akan ditinjau kembali. Peninjauannya pun perlu melibatkan pemerintah kota, bukan pribadi,” ungkap Fadlan.
“Bukan menanggung beban, posisi tersebut jangan dipolitisir. Sebab kewajiban PNS kan saat dilantik, siap ditempatkan di mana saja. Bagaimana pun kondisinya, tinggal peningkatan kinerja dan harus menjadi kebijakan pemerintah,” kata Fadlan Hamid menambahkan.
Tajuddin Tuwo selaku kepala dinas yang baru mengatakan, persoalan rekrutmen calon kepala sekolah menjadi agenda awal baginya untuk diselesaikan.
“Secepatnya saya akan menyelesaikan masalah itu. Namun harus ada persiapan dan tetap berkoordinasi,” ujar Tajuddin Tuwo dihubungi Radar Tarakan tadi malam.
Namun ia belum bersedia komentar banyak, sebab meski telah dilantik sebagai kepala dinas yang baru, serah terima jabatan baru akan dilaksanakan hari ini.(dta/ris)
Sumber : radartarakan (20 September 2011)
KPAP Seriusi HIV/AIDS Masuk Kurikulum SMP-SMA
Ujicoba Kurikulum di Samarinda, Balikpapan dan Tarakan
TARAKAN – Didasarkan pada keinginan untuk memenuhi target Millenium Development Goals (MDGs); pencapaian pengetahuan remaja usia 15 hingga 24 tahun tentang HIV/AIDS mumpuni dan komprehensif, Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) Kalimantan Timur pun mulai menseriusi rencana penyisipan pengetahuan tentang HIV/AIDS kedalam kurikulum pendidikan jenjang pendidikan SLTP dan SLTA. Harapannya ketika HIV/AIDS telah disampaikan secara komprehensif kepada pelajar SLTP-SLTA, maka pada tahun 2015 remaja sudah mengetahui secara mendalam apa itu HIV/AIDS. Sehingga berbagai stigma tentang penyakit yang belum ada obatnya ini dapat dihilangkan. “Yang harus diketahui, HIV/AIDS penularannya tidak gampang. Hanya lewat empat empat media, yakni hubungan seks tidak aman, penggunaan jarum suntik yang berulang, Air Susu Ibu (ASI) dan transfusi darah (tingkat penularan mencapai 0 persen, lantaran penanganan transfusi sudah melalui proses screening, red.),” ucap Marsono, Kelompok Kerja KPAP Kaltim kepada Radar Tarakan, baru-baru ini.
Rencana penyisipan HIV/AIDS sebagai materi pelajaran SLTP dan SLTA, di Kaltim untuk sementara hanya diujicoba di tiga kota. Yakni, Samarinda, Balikpapan dan Tarakan. Alasannya, kata Marsono, penanganan dan penanggulangan penyakit HIV/AIDS sudah dilakukan secara efektif dan komprehensif. Salahsatu indikatornya, sudah diterapkannya pendeteksian dini pengidap HIV/AIDS menggunakan sistem VCT (Voluntary Counseling and Testing) yang kegiatan ini mendapat dukungan pendanaan dari Global Fund (sejak 2006). “Di Tarakan, Wakil Walikota sudah memberikan respons positif terkait rencana ini. Kini tinggal media pendidikannya, instansi teknis terkait yakni Dinas Pendidikan (Disdik) dan sekolah,” tandas Marsono.
Langkah KPAP Kaltim ini juga didukung oleh Keputusan Presiden RI. Dari itu, rencana ini kemungkinan besar dapat segera direalisasikan. “Kalau sudah diwujudkan, maka materi yang akan dimasukkan kedalam pelajaran antara lain pengenalan awal soal HIV/AIDS, cara penularannya, pencegahannya, bagaimana reaksi sepatutnya terhadap penderita HIV/AIDS dan lainnya,” jelas Marsono lagi.
Sementara itu, Sudirman-Staf Ahli Walikota Tarakan yang sebelumnya menjabat Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan mengaku sangat mendukung rencana ini. Hanya saja ia menyarankan agar dalam realisasinya nanti, materi HIV/AIDS tidak berdiri sendiri tapi disisipkan ke mata pelajaran yang memiliki rumpun terkait, semisal mata pelajaran Biologi atau Olahraga. “Nantinya, guru terkait yang akan menyampaikan materi tersebut. Jadi, KPAP diharapkan dapat menggelar pelatihan untuk guru guna memperdalam pengetahuannya soal HIV/AIDS,” tandas Sudirman kepada Radar Tarakan, belum lama ini.
Guru yang dilatih pun tak harus dari tiap SLTP atau SLTA. “Dinas terkait akan menyiapkan guru-guru yang akan dilatih. Nah setelah dilatih, guru-guru tersebutlah yang bertanggungjawab untuk menularkan pengetahuannya kepada guru lain (mata pelajaran Biologi atau Olahraga) lewat media Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP),” ujarnya. Untuk diketahui, Tarakan saat ini memiliki 21 SLTP (MTs; 4) dan 19 SLTA (MA; 2).(ndy
Sumber : radartarakan (20 September 2011)
80 Persen Dosen UBT Sudah Kualifikasi Pascasarjana
TARAKAN – Untuk memperkuat Sumber Daya Manusia (SDM) pada Universitas Borneo Tarakan (UBT), sebanyak 60 persen dari seluruh jumlah tenaga pengajar di UBT, tahun ini dikirim ke berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk menempuh tugas belajar dan izin belajar pendidikan pascasarjana, yakni Strata 2 (S-2) dan Strata 3 (S-3).
Hal ini memperlihatkan UBT tidak hanya mengedepankan infrastruktur, tetapi kualitas dan integritas juga menjadi faktor utama dalam mendukung pengembangan dunia pendidikan di utara Kaltim. “Selain itu tuntutan akhlak juga paling utama. Ini sesuai dengan keputusan Komisi X DPR RI dan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) mengenai pengembangan 10 perguruan tinggi dikawasan perbatasan agar benar-benar menjadi beranda dan jendela NKRI,” ujar Jabarsyah, Rektor UBT.
Olehnya karena itu secara bertahap tenaga pengajar UBT diberikan fasilitas pendidikan yang tinggi agar memiliki kapasita sebagai pendidik juga kuat. Saat ini diupayakan bahwa para dosen minimal harus berpendidikan S-2 atau S-3. Dan dengan diberikannya tugas belajar dan izin belajar ini, dalam waktu 3-4 tahun kedepan UBT diharapkan akan panen tenaga pendidik dengan kualifikasi pendidikan S-2 dan S-3. Apalagi saat ini dosen UBT sudah ada yang lector dan lector kepala. “Sebab itu kita terus tingkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada di UBT ini agar output yang dihasilkan bagus dan dapat menjadi kekuatan didaerah perbatasan,” imbuh Jabarsyah.
Dengan program tugas belajar tersebut, Jabarsyah juga berharap akselerasi UBT ini cepat setara dengan universitas atau Perguruan Tinggi Pemerintah (PTP) lain yang telah berkembang dan telah berusia 60-70 tahun. “Jadi mudah-mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama Universitas Borneo ini sudah setara,” harapnya.
Sementara itu dari segi mutu penyelenggaraan perkuliahan, menurut Jabarsyah, UBT juga sudah jauh lebih bagus sebagai salah satu universitas atau PTP. Hal ini menjadi sebuah kebanggan lantaran saat ini UBT selalu menjadi percontohan oleh Wakil Menteri Pendidikan Nasional. “Universitas Borneo selalu menjadi universitas percontohan, setiap beliau berkunjung kemana-mana, Universitas Borneo selalu disebut-sebut menjadi universitas yang bagus,” beber Jabarsyah.
Sementara itu, dari seluruh tenaga pengajar yang diberi tugas belajar dan izin belajar pada 2011 ini, populasi yang berangkat untuk menempuh pendidikan S-3 sebanyak 40 persen dan 60 persen sisanya menempuh S-2. Saat ini tenaga pengajar UBT sebanyak 80 persen kualifikasi pendidikannya S-2 keatas, S-1 hanya tinggal beberapa orang saja yang notabene baru direkrut tahun 2010 lalu. “Mereka yang berpendidikan S-1 tidak ikut mengajar,” tutupnya. (jnu)
Sumber : radartarakan (19 September 2011)
Minggu, 11 September 2011
Sekolah Dilatih Penggunaan BOS
TARAKAN – Hari Ini (senin 12/9) Dinas Pendidikan (Disdik) mengadakan pelatihan pengelolaan Bantuan Operasi Sekolah(BOS) untuk sekolah tingkat SD/MI dan SMP/MTS se-Tarakan. Kurang lebih 85 sekolah baik swasta maupun negeri mengikuti pelatihan yang dipusatkan di SMP 1 ruang pertemuan lantai 2 dan 3. Setiap sekolah diwakili sedikitnya 3 orang yang terdiri dari kepala sekolah, bendahara BOS sekolah dan satu perwakilan orang tua murid atau komite sekolah. “Jadi jumlah peserta seluruhnya sekitar 255 orang,” terang Ransen Yusuf Koordinator Pengawas Disdik, Minggu (11/9).
Dari 255 peserta ini akan dibagi menjadi 4 kelas dalam proses pelatihan. Jadi tiap kelas nantinya berisi sekitar 20-an peserta agar pelaksanaan pelatihan menjadi lebih efektif. Kegiatan ini nantinya akan dilaksanakan selama 6 hari, yakni pada tanggal 12 (hari ini) sampai 14 September untuk 2 kelas pertama dan dilanjutkan 19-21 untuk kelas kedua. Khusus untuk sekolah swasta yang belum terakreditasi, waktu pelatihan akan ditambah sehari. “Ada sekitar 8 sekolah swasta SD dan SMP yang belum terakreditasi kita tambah sehari lagi waktu pelaksanaannya pelatihannya, yakni pada 19 hingga 22 September nanti,” imbuh Ransen.
Dalam pelatihan ini Disdik akan menghadirkan pelatih atau narasumber dari kepala sekolah dan pengawas yang sebelumnya telah mengikuti Trainer Of Training (TOT) tingkat nasional sebanyak 4 orang. Jadi setiap kelas akan ditangani oleh TOT sebanyak dua orang selama tiga hari penuh.
Melalui media pelatihan pengelolaan BOS ini setiap sekolah akan diberikan pemahaman yang sama tentang pengelolaan dan pemanfaatan dana BOS dengan benar. Sehingga tujuan transparansi, akuntabel, tertib administrasi, efisien dan efektif dalam mengelola dana BOS oleh sekolah yang menerima bantuan BOS dari pemerintah dapat tercapai.
“Mudah-mudahan dengan pelatihan pengelolaan BOS ini setiap warga sekolah bisa melaksanakan, merencanakan, mengadministrasikan dan melaporkan penggunaan dana BOS secara baik dan benar,” harap Pengawas Sekolah ini. (jnu)
Sumber : radartarakan (12 September 2011)
Dua Siswa Tarakan Terpilih Wakili Kaltim Ikut OSN
Ada Beban karena Bawa Nama sekolah, Tarakan, dan Kaltim
PRESTASI di bidang pendidikan terus lahir dari pelajar Tarakan. Tahun ini, Tarakan kembali mengirimkan 2 siswanya untuk mewakili Kaltim dalam perhelatan OSN tingkat SMA yang akan dilaksanakan pada 12-19 September di Manado. Keduanya adalah Hendi (sapaan akrab Hendi Lie) dan dan Nissa (sapaan akrab Hairun Nissa Tarakanita) yang saat ini tercatat sebagai siswa kelas 12 IPA-4 dan kelas 11 IPA-1 di SMA 1 Tarakan.
Menjadi kebanggaan tersendiri tentunya bagi masyarakat Tarakan atas prestasi yang ditunjukkan putra putri kita. Sebelum mengikuti OSN, terlebih dulu Hendi dan Nissa akan diberikan pemusatan latihan bersama perwakilan lainnya di Dinas Pendidikan Kaltim selama 2 hari sejak tanggal 9-10 September.
Kegiatan di Samarinda tersebut merupakan pembekalan kepada semua perwakilan Kaltim sebelum pertandingan yang akan dilaksanakan selama seminggu sejak di Manado.
Bagi Hendi, keikusertaan dalam OSN kali ini adalah untuk kali keduanya. Pada tahun 2010, pelajar kelahiran Tarakan 11 Maret 1995 ini telah merasakan ketatnya seleksi OSN yang dilaksanakan tingkat nasional. Meskipun belum berhasil, ia masih semangat dan percaya diri untuk mendulang sukses dalam kegiatan yang melombakan kecerdasan generasi muda tanah air ini.
Demikian juga dengan Nissa. Ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk memetik hasil yang terbaik guna mengharumkan nama sekolah, kota maupun provinsi.
Sebelum bertanding, Hendi maupun Nissa telah melakukan sejumlah persiapan. Seperti pembinaan dari sekolah yang secara rutin dilakukan maupun belajar secara individu di rumah. Di SMA 1 memang telah dilakukan program bimbingan untuk Olimpiade Sains. Program ini telah lama dimasukkan dalam kegiatan ekstrakurikuler. “Kita punya program khusus untuk bimbingan Olimpiade Sains, tapi untuk tingkat kota dan provinsi saja. Jadi sejak awal kita sudah dilakukan bimbingan,” ujar Hendi diamini Nissa saat diwawancarai Radar Tarakan di sekolahnya Kamis (8/9).
Rasa bangga tentunya menyelimuti perasaan 2 siswa ini. Sebab tidak banyak yang mendapat kesempatan berharga seperti ini. “Bangga sekaligus ada beban. Sebab akan membawa nama sekolah khususnya, nama Tarakan juga Kaltim di tingkat nasional. Pastinya saya berharap dapat memberikan yang terbaik nantinya,” ujar Nissa yang lahir di Tarakan 11 Mei 1995 lalu ini. “Pastinya bangga sudah bisa lolos pada OSN tingkat nasional lagi dan kali ini berharap bisa memperoleh hasil yang lebih baik dari yang kemarin,” imbuh Hendi putra pasangan Alex GWL dan Veronica.
Tapi, Nissa berharap pada OSN tahun selanjutnya persiapan yang dilakukan lebih lama lagi. Sebab untuk persiapan yang dijalaninya saat ini sangat mepet dengan jadwal pertandingan. “Persiapannya kurang lama, apalagi kita jarang mendatangkan narasumber atau pengajar dari luar untuk menambah pengetahuan kita. Untuk bimbingan di sekolah kan hanya sampai pelaksanaan olimpiade sains tingkat kota dan provinsi saja, sedangkan tingkat nasional tidak ada, hanya ada pelatihan sekitar seminggu di luar kota,” tutur siswi pasangan Setijobudi dan Yayuk Suhartiningsih.
Terpisah, Kepala Bidang Pendidikan Menengah Aswadi mengatakan, olimpiade sains tahun ini selain diwakili siswa tingkat SMA juga diikuti oleh perwakilan tingkat SD dan SMA. OSN tingkat nasional tingkat SMP sudah dilaksanakan beberapa waktu lalu, dan Tarakan menorehkan prestasi dengan mendapatkan medali perunggu dari perwakilan SMP Tunas Kasih dalam bidang Matematika. Sedangkan untuk tingkat SD pelaksanaannya bersamaan dengan tingkat SMA di Manado pada 13-19 September nanti yang diwakili 1 orang.
“Sementara ini mereka akan diberikan training center di Samarinda selama 2 hari. Setelah training center tanggal 11 mereka akan langsung menuju Manado dari Samarinda. Kita mohon dukungan dan do’a dari masyarakat Tarakan agar mereka sukses dan dapat memberikan yang terbaik untuk Tarakan dan Kaltim,” harap pejabat Dinas Pendidikan Kota Tarakan itu. (***)
Sumber : radartarakan (10 September 2011)
Kamis, 08 September 2011
Manajemen Medco E&P Tarakan Beri Kuliah Umum di Universitas Borneo
TARAKAN - Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan menggelar Kuliah Umum dalam rangka menyambut mahasiswa baru tahun ajaran 2011/2012, Kamis (8/9/2011) pagi di gedung aula perpustakaan kampus UBT.
Kuliah Umum yang bertajuk "Menjawab Tantangan Globalisasi Pertanian dengan Peningkatan Daya Saing Sumber Daya Manusia" ini merupakan kerjasama dengan PT Medco E&P Tarakan & Sembakung Asset.
Tampil sebagai pembicara dalam kegiatan tersebut yakni Meutiyah Frizky Arziah (Supervisor Engineer PT Medco E&P Tarakan & Sembakung Asset), Alik Sutaryat (PT Medco E&P Tarakan & Sembakung Asset), Dr Adhi Soetrisno (Faperta UBT), dan dipandu moderator Abdul Rahim dan Ety Wahyuni. Sedangkan peserta berasal dari seluruh civitas akademika Fakultas Pertanian UBT, termasuk mahasiswa baru yang berjumlah 69 orang.
Dekan Fakultas Pertanian UBT Amarullah Sp Mp mengatakan, pihaknya berharap melalui kegiatan tersebut penyambutan mahasiswa baru tahun ini lebih bermakna dengan kesan intelektual. "Kita punya 69 orang Maba tahun ini, dan kita sudah sosialisasi ke beberapa daerah di wilayah utara Kaltim betapa prospek Fakultas Pertanian itu sangat menjanjikan. Semoga dengan kegiatan seperti ini maba bisa lebih mendapat bekal pengetahuan sebelum terjun ke masyarakat," ujarnya.
Sementara Pjs Operation Manager PT Medco E&P Tarakan & Sembakung Asset, Patmanaba Permana Sidhi, mengatakan, selain mengeksplorasi dan mengeksploitasi minyak gas dan bumin pihaknya juga dituntut berwawasan lingkungan dan sosial.
"Ini salah satu kepedulian kita dalam memberikan kontribusi terhadap lingkungan, baik melalui pelatihan-pelatihan dan program yang diwujudkan dalam Corporate Social Responsibility," pungkasnya. (*)
Penulis : Syaiful Syafar
Editor : Fransina
Sumber : tribunnews (8 September 2011)
Selasa, 06 September 2011
Rencana Buat Kebun Raya di Kampus UB Tarakan
TARAKAN – Setelah resmi menjadi salah satu Universitas negeri beberapa waktu lalu, menjelang akhir tahun ini, Universitas Borneo Tarakan tengah mewacanakan mengembangkan areal kampus.
Kampus yang terletak di Pantai Amal itu rencananya akan dibangun Kebun Raya di atas seluas sekitar 80 hektare (ha). “Dari 130 hektare, antara 70-80 hektarenya akan dimanfaatkan untuk pembangunan kebun raya,” ujar Rektor UB Tarakan, Abdul Jabarsyah saat ditemui Radar Tarakan kemarin.
Dikatakan Jabarsyah, wacana tersebut akan diusulkan ke Kementerian Kehutanan RI dalam tahun ini setelah diverifikasi pihak UB Tarakan terkait pembangunan kebun raya yang nantinya merupakan salah satu ikon Kota Tarakan. “Ini adalah program kerja UB Tarakan daam merevisi tata ruang kampus. Mengenai kebun raya itu akan dimasukan dalam anggaran perubahan tahun ini,” katanya. Ia menargetkan secara fisik pembangunan kebun raya UB Tarakan itu akan rampung paling cepat pada 2014 mendatang.
Posisi kebun raya itu nantinya berada persis di belakang kampus yang saat ini masih dihuni ratusan ribuan pepohon. “Mungkin nanti ada launching dari Pemkot Tarakan beserta apa saja yang ada didalam kebun raya itu nantinya,” cetus dia.
Selain itu, diwaktu yang bersamaan pada 2014 dan 2015 mendatang, UB Tarakan akan mendapatkan tenaga pengajar yang saat ini tengah mengikuti pendidikan Strata Tiga (S3) sebanyak 15 hingga 20 orang. “Nah hal ini juga yang tidak bisa kita bayangkan setelah 10 tahun lalu kita mendirikan Universitas ini, bahwa kedepan Kota Tarakan khususnya UB Tarakan akan ada tenaga pengajar yang berpredikat sebagai doktor. Kedepannya saya perkirakan masih ada sekitar 100 orang yang akan bergelar S3 dari berbagai macam perguruan tinggi untuk UB Tarakan,” bebernya. (sur)
Sumber : radartarakan (5 September 2011)
Entri Populer
-
Kegiatan Kantor Pengolahan Data Kota Tarakan Berupa Pemasangan Koneksi Internet Di Tennis Indoor Telaga Keramat Tarakan Tempat Dilangsungka...
-
TARAKAN – Meski penerbangannya mengalami penundaan selama beberapa jam, namun sejumlah penumpang Sriwijaya Air di Bandara Juwata Tarakan me...
-
TARAKAN - Puluhan anggota Polres Tarakan bersama-sama masyarakat mulai dari organisasi kepemudaan, seniman, dan Kepala Satuan Kerja Perangk...
-
Lebih Dekat dengan Dokter Spesialis Jantung Dendi Wahyudi ITA RAHMAWATI - Stroke dan serangan jantung menjadi penyebab kematian tertinggi s...
-
TARAKAN - Asisten II Sekretariat Kota Tarakan, Sofian Raga mengatakan, agar banjir tidak semakin parah di kota Tarakan ini, perlu keterliba...
-
Anaknya Tak Diterima, Ortu Mengeluh TARAKAN - Meski pendaftaran peserta didik baru (PPDB) sekolah dasar dan menengah negeri berakhir kemari...
-
TARAKAN – Wakil Gubernur Kaltim Farid Wadjdy meresmikan pembangunan kantor Badan Amil Zakat (BAZ) Kota Tarakan yang baru di Kelurahan Selum...
-
TARAKAN - Banyaknya keluhan masyarakat Tarakan dengan tidak tersedianya toilet di kawasan objek wisata, seperti Taman Oval dan Pantai Amal ...
-
Bila berbicara olahraga bola basket di Tarakan, maka nama Praja Satria Basket Ball Club Tarakan akan selalu mengikutinya dibelakang. Karena ...
