Redirect to TarakanBais

Jumat, 23 September 2011

Edi, Pria yang 10 Tahun Hidup di Kamar 2x1 Meter

. Jumat, 23 September 2011

Sengaja Dibiarkan Tak Bercelana agar Mudah Buang Hajat

WAJAHNYA tirus. Kaki dan tangannya kecil, seperti tinggal belulang. Rambutnya gondrong. Bagian bawah tubuhnya tak tertutup sehelai benang pun. Ia hanya memakai baju yang dipasang sekenanya. Sambil jongkok, pria ini menatap kosong. Senyum juga hambar. Dia adalah Edi, pria berusia 25 tahun ini tinggal di “kamar” yang sangat sederhana di belakang rumah beton no 144 RT 23 Pamusian, Tarakan.

Meski ia kelihatan tidak terurus, tapi Edi tidak gila apalagi stress. Putra pertama Achmad ini dilahirkan oleh ibunya 25 tahun silam di Jawa dalam keadaan sudah mengalami keterbelakangan mental. Dalam kondisi sakit, belasan tahun silam Edi yang kala itu masih balita diboyong ayah dan ibunya- sudah dua tahun wafat - ke Kota Tarakan. Tujuan kepindahan orangtua Edi, sama dengan tujuan sebagian besar perantau dari Pulau Jawa yakni mencari pekerjaan dan penghidupan yang lebih layak di Tarakan.

Hingga akhirnya Edi dan orangtuanya mendiami rumah mungil yang berada di lereng Gunung Markoni (sekitar makam Jepang) di RT 23 Kelurahan Pamusian. Sebelum ibu kandungnya meninggal, Edi sebagai putra bungsu mendapat kasih sayang penuh. Mungkin karena keterbatasan pengetahuan atau masalah ekonomi, Edi tak disekolahkan di sekolah luar biasa (SLB).

Seiring berjalannya waktu, karena keterbatasannya, Edi tak bisa mengurus dirinya sendiri. Alasan itulah kemudian yang membuat keluarganya menempatkan Edi di ruangan teramat sangat sederhana berukuran 2x1 meter, 10 tahun lalu. Di ruangan inilah, selama 10 tahun Edi tidur, buang hajat dan melakukan aktivitasnya lainnya. Sampai akhirnya, tim dari bersama tim Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Tarakan, dua hari lalu mengunjunginya dan memindahkan Edi ke wadah yang lebih layak dan mendapatkan perawatan, kemarin.

“Ya, ada sepuluh tahun lebih Edi kami tempatkan disitu. Habisnya, jorok betul. Kalau berak (maaf) atau kencing ndak bisa bersihkan sendiri, kadang kececeran di rumah,” ucap Lasmi, ibu tiri Edi. Lasmi sendiri sebelum menikah dengan ayah Edi (Achmad), mengaku telah memiliki 8 orang anak dari suami sebelumnya. “Edi juga nda bisa bergerak, jadi supaya gampang dan nda merepotkan, ya ditempatkan di belakang,” sambung Lasmi saat ditemui tim Pusat Pelayan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak.

Agar memudahkan Edi buang hajat, Edi sengaja dibiarkan tak bercelana. “Ya supaya mudah berak (maaf) sama kencing di sungai yang ada di belakang rumah,” ujar Lasmi.

Lasmi juga mengatakan, setiap pagi Edi dibawa keluar dari “kamar”nya itu. “Kami bawa keluar (kedepan kamarnya), dijemur di matahari supaya kaki sama tangannya kuat. Edi juga nda berani jauh dari rumah, kalau berani jalan (ngesot) menjauh ya dipukul,” ungkapnya. Edi memang tak bisa berjalan jauh. Fisiknya sangat lemah. Kaki dan tangannya kurus, belulangnya nampak menonjol.

Untuk diketahui di dalam keluarga Edi, adik keduanya yang bernama Warda pun terbilang agak “terbelakang”. Meski begitu, remaja putri yang berusia 20 tahun tersebut sedikit beruntung. Lantaran, ia masih mampu berjalan, bermain dan melakukan aktivitas lainnya. Termasuk memasak, membersihkan rumah juga membantu pekerjaan orangtuanya. “Kalau Warda ini sudah diajari ngitung sama mbaca, mas. Tapi ya nda bisa ngerti-ngerti. Masa 1 sampai 10 aja nda tahu,” tandas Lasmi.

Untuk diketahui, keluarga Achmad-Lasmi, bisa dianggap keluarga tak mampu. Kondisi seperti ini makin memperburuk penyakit Edi. “Sungguh sangat memprihatinkan,” ucap Hajjah Yetty Soebagio, Ketua Pusat Pelayan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kota Tarakan. Hajjah Yetty juga menyayangkan sikap orangtua yang menilai bahwa penyakit dan tingkah Edi tersebut sebagai sebuah hal yang memalukan dan aib bagi keluarga. “Ini bukan aib, tapi bagaimana orangtua menyikapinya dengan penuh tanggungjawab. Dan, harusnya masyarakat sekitar juga memiliki kepedulian tinggi untuk membantu keluarga ini. Jika hal itu terwujud jauh sebelum ini, maka keadaan Edi mungkin jauh lebih baik dari saat ini,” tukasnya. (*)

Sumber : radartarakan (22 September 2011)

Entri Populer

Label

 

Link Banner

Total Tayangan Halaman

Powered By Blogger

Sahabat Tarakan

Tarakan Borneo Lovers is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com