Redirect to TarakanBais

Jumat, 24 Oktober 2008

Mengenal Lebih Dekat Udin-Hardjo Pemenang Pilwali Kota Tarakan Borneo

. Jumat, 24 Oktober 2008

Demi Sekolah Udin Kerja Sambilan, Suhardjo Tidak Pernah Bermimpi Ikut Pilwali

Mengenal Lebih Dekat Udin-Hardjo dan Istri - Ardiz TarakanNomor urut 3 jatuh di tangan H Udin Hianggio-Suhardjo, pasangan yang diusulkan Partai Golongan Karya dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Berikut sekilas profil keduanya:

Walaupun usia Udin Hianggio sudah tergolong tua, yakni hampir mencapai 62 tahun, namun sosok bapak 3 anak ini masih tampak segar. Pria ini masih bisa melakukan semua aktifitas layaknya orang muda, bahkan Udin sering terlihat bermain sepak bola bersama rekan-rekannya yang tergolong muda. Barangkali, olah raga yang sering dijalani pria kelahiran Gorontalo, 28 Desember 1946, yang membuatnya tetap segar dan dalam keadaan sehat.

Perjalanan hidup yang dilalui Udin juga tergolong penuh kerikil-kerikil tajam. Termasuk keterbatasan ekonomi keluarga juga menjadi permasahan dalam hidupnya. Namun berkat kegigihan dan semangat ingin maju membuat pria ini tegar menghadapi kerasnya kehidupan ini.

"Saya terlahir dari petani kecil di Gorontalo, karena himpitan ekonomi keluarga saya pernah diminta orang tua untuk tidak melanjutkan sekolah saya," sebut Udin yang jago bermain catur ini.

Mengetahui beban ekonomi keluarganya, Udin memilih kerja sambilan seusai pulang sekolah demi kelangsungan pendidikannya dan membantu keluarganya.

"Saya biasa berjalan kaki berangkat ke sekolah berkilo-kilo (kilometre, Red.) jaraknya. Biar panas maupun hujan tetap berangkat sekolah, karena pendidikan yang akan bias merubah kehidupan kita," kata Udin.

Setelah menyelesaikan sekolahnya yakni Sekolah Rakyat, SMEP dan SMEA di Gorontalo, Udin hijrah ke Makassar untuk menimba ilmu yang lebih tinggi yakni di Akademi Maritim Indonesia (AMI) Makassar hingga selesai.

Berbekal ilmu yang dipelajarinya, Udin melamar kerja di PT Pelni Ujung Pandang, dan dia diterima menjadi pegawai honerer sejak Maret 1972. Di perusahaan tersebut, karir Udin terus meningkat. Pada tahun 1985, dia dipindahkan ke Balikpapan untuk ditempatkan sebagai kepala bagian operasi atau terminal PT Pelni. Berkat prestasi kerja pria yang juga menjadi berbagai ketua Pengurus Cabang (Pengcab) olah raga di Tarakan ini diangkat menjadi kepala cabang PT Pelni Kota Tarakan.

Bukan itu saja, Udin juga memimpin DPRD kota Tarakan selama dua pereode dari tahun 1999 hingga tahun ini. "Jabatan apapun itu yang memberikan Allah, datangnya dari Dia, dan itu adalah amanah. Kalau amanah itu diberikan kepada kita, Allah pasti akan memberikan kepada kita," kata Udin saat ditanya tentang jabatan wali kota yang sedang diperjuangkannya.

Sementara itu, Suhardjo Trianto yang menjadi pasangan Udin Hianggio dalam Pilwali Tarakan mendatang mengaku belum pernah terpikir olehnya untuk maju dalam pesta demokrasi lima tahunan di Tarakan ini.

"Bermimpi saja tidak, baru dua tahun terakhir ini saya melihat perlu terlibat dalam pemnagunan kota Tarakan ini," sebut pria kelahiran Gresik 7 Januari 1963.

Bapak dari 3 anak ini pertama kali menginjakkan kaki di Kalimantan pada tahun 1984. Tujuan pertamanya bukanlah, Tarakan tapi Bunyu. Di pulau ini, Suhardjo mencoba peruntungan bekerja di mega proyek Methanol. Sayang, ketika tiba di Bunyu, lowongan tertutup. Kenyataan ini tidak membuat Suhardjo patah semangat. Berkat kerja kerasnya, Suhardjo diterima di perusahaan PT Uni Power, kontraktor Pertamina. Satu tahun setengah bekerja di perusahaan ini, Suhardjo pindah ke Tarakan dan bekerja di PT Ami Peroli Utama.

Di perusahaan inilah Suharjo mendapatkan ilmu yang bermanfaat bagaimana menjadi seorang pengusaha yang baik, termasuk di dalamnya bagaimana menjalankan manajemen perusahaan.

Pengalaman berharga di PT Ami Peroli Utama, menjadi motivator Suhardjo bersama rekan-rekannya untuk membangun perusahaan baru bernama PT Wira Ariandi. Perusahaan yang dibangun dari bawah ini semakin mempertajam naluri bisnisnya. Awalnya perusahaan ini hanya memiliki lima karyawan dengan aset yang minim. Seiring perjalanan, perusahaan ini berkembang pesat.

Ketika banyak orang meragukan kemampuannya, Suhardjo hanya menjawab dengan tersenyum. Jawabannya hanya singkat. "Kalau saya dianggap tidak punya kapasitas, perusahaan saya tidak akan besar," tegasnya singkat. (Radar Tarakan-Selasa, 26 Agustus 2008)


Zulaeha Selalu Perhatikan Penampilan Suami, Siti Dukung Anak Main Grasstrack

Seiring status suami menjadi calon wali kota (cawali) dan calon wakil wali kota (cawawali), Hj Zulaeha Maruf maupun Hj Siti Jumilah mengaku kesibukannya kian padat. Namun keduanya menyampaikan tetap bisa membagi waktu, baik dalam perannya sebagai istri, ibu dan hubungan dengan masyarakat.

SELASA pagi (2/9) sekitar pukul 09.30 Wita, rumah berdinding warna putih di Jl Halmahera di RT 7 no 33, Ladang, yang ditinggali H Udin Hianggio dan keluarganya terlihat lengang. Hanya terlihat satu personel Satpol PP dan Linmas tengah berjaga dan beberapa tamu yang akan bertamu ke rumah itu.

Melihat kedatangan Radar Tarakan dengan ramah petugas tersebut menyapa. "Ada yang bisa dibantu?," tutur anggota Satpol PP yang menjaga kediaman rumah Udin Hianggio itu.

Setelah diberitahukan tujuan kedatangan wartawan koran ini, anggota satpol PP langsung mempersilakan menunggu. Dia langsung bergegas masuk ke rumah menemui Zulaeha Maruf — istri H Udin Hianggio. Beberapa menit kemudian, wanita yang kini berusia 55 tahun dengan balutan busana warna merah hitam bermotif bunga-bunga keluar menemui Radar Tarakan.

"Silahkan masuk, kita mengobrolnya di ruang ini saja atau di ruang tamu. Tapi enaknya ngobrolnya di dalam saja (ruang tamu, Red.)," sapa Hj Zulaeha dengan ramah.

Setiba di ruang tamu yang di dalamnya terpajang beberapa guci, istri H Udin itu kembali menyapa:

"Jadi apa yang bisa saya bantu dan apa yang mau dipertanyakan," kata wanita kelahiran Gorontalo 18 Mei 1953 sembari menebar senyum ramah.

Saat diwawancarai wartawan ini, anak pertama dari 12 bersaudara pasangan Abdullatif Maruf (alm) dengan Wulangadi mengatakan selama ini juga lebih banyak fokus mengurus rumah tangga.

"Namun kalau suami ada pertemuan penting terutama menyangkut masalah pilwali saya juga selalu mendampinginya. Kecuali kalau sampai larut malam, saya tidak bisa ikut," kata ibu dari tiga anak: Sofian Udin Hianggio (32), Suriyani (31), dan Rahmawati (29).

Hj Zulaeha mengatakan, salah satu tugasnya sebagai istri saat berada rumah, tidak lupa untuk mengingatkan suaminya saat akan pergi bekerja maupun kegiatan lainnya.

"Maksudnya apa saja yang akan dibawa suami saya selalu saya ingatkan, karena banyak urusan beliau jadi terkadang lupa. Contohnya seperti jam tangan dan handphone sering tertinggal kalau tidak saya ingatkan," tuturnya.

"Bahkan sampai masalah penampilan juga selalu saya ingatkan. Kalau tidak serasi saya langsung memberitahukan untuk diganti karena tidak sesuai. Tetapi terkadang juga dipilih suami saya sendiri," terang wanita yang hobi olahraga tenis dan voli ini.

Namun untuk hobi olahraganya itu, Hj Zulaeha mengaku beberapa bulan ini vakum pasca terjatuh saat di kamar. "Ya itu sesuai saran dokter agar saya istirahat dulu untuk tidak berolahraga, karena habis jatuh itu ada masalah dengan tulang belakang saya," jelasnya.

Mengenai urusan makanan untuk suaminya diakuinya tidak terlalu memilih-milih.Apa saja menu yang disediakan selalu dimakan sang suaminya.

"Namun sudah pasti yang mengandung gizi. Sedangkan masalah minumnya saya selalu membuatkan jus apel, jus tomat, kadang juga jus wortel," ujar wanita yang juga aktif di selawat serta pengajian di sejumlah organisasi.

Lebih lanjut dia menuturkan, mengenai awal bertemunya dengan sang suami, dirinya mengakui sejak tinggal di Makassar. "Karena tinggal sekampung, saat itu suami saya masih kuliah sambil kerja. Dan yang bikin akrab dan sering ketemu karena H Udin Hianggio sering jalan-jalan ke rumah silahturahmi, dan akhirnya setelah lama kenal pada tanggal 9 Agustus 1975 sayapun akhirnya menikah dengan H Udin Hianggio. Dan umur pernikahan saya sudah 33 tahun," kenangnya.

"Alhamdullillah hubungan kami sampai sekarang bisa berjalan dengan langgeng, hal ini dikarenakan kalau ada masalah saya bicarakan baik-baik dengan suami saya sampai dapat solusinya. Dan memang terkadang ada marah-marah tetapi itu tidak lama, hanya waktu sebentar saja sudah selesai. Tapi kalau Bapak tidak pernah marah, malah saya yang sering. Ya biasalah apalagi kalau soal anak," terangnya

Ia menambahkan, jika sang suami terpilih sebagai Wali Kota Tarakan, dirinya juga akan ikut menyukseskan program kerja suaminya terutama di bidang perempuan.

"Salah satunya yang akan saya programkan akan mengaktifkan semaksimal kembali PKK Kota," terangnya.

Sementara istri cawawali Suhardjo (yang berpasangan dengan H Udin Hianggio), Hj Siti Jumilah ditemui Rabu kemarin (3/9) di kediamannya di gang Bhakti RT 28 No 3 Karang Anyar juga menyampaikan hal yang sama.

Hj Siti yang saat ditemui menggunakan busana warna hitam dengan jilbab warna merah ini langsung mempersilahkan wartawan koran ini masuk ke ruang tamu. Tidak panjang lebar wanita kelahiran Tarakan 20 Maret 1965 langsung menanyakan tujuan wartawan ini datang.

Sebaliknya setelah dijelaskan, ibu tiga orang anak ini Yugo (19), Yunanda (17), dan Iwandi (9) ini langsung menjawab.

"Kalau untuk kesibukan sekarang banyak. Selain mendampingi suami dalam setiap kegiatannya baik masalah pilwali maupun urusan lainnya. Tetapi saya juga aktif di lingkungan masyakat tempat tinggal. Salah satunya rutin mengikuti pengajian serta selawatan RT tempat tinggal," terangnya.

"Jadi kalau masalah mengikuti bapak sosialisasi tergantung keadaan saat itu. Kalau tidak berbenturan dengan kegiatan saya, pasti saya akan temani, sebaliknya kalau saat itu saya juga sibuk jadi saya tidak ikut. Dan memang suami juga pengertian orangnya," tutur wanita yang mengakui sebelumnya 4 tahun menjalani pacaran dengan suaminya Suhardjo.

Anak pasangan H Muhammad Junaid (alm) dan Hj Siti Badariah ini mengatakan, di dalam kehidupan rumah tangganya, tidak hanya sang suami yang selalu diberikan dukungan dan support untuk tetap semangat dalam menjalankan aktifitas setiap harinya. Namun kepada sang anak, tidak luput dari pikirannya untuk memberikan support.

"Kalau untuk suami sudah jelas memberikan support, baik di rumah seperti masalah penampilan serta makanan. Ya sebagai istri selalu siap membantu menyiapkan dengan tepat waktu. Sehingga di rumah juga jarang terjadi masalah. Kalaupun ada masalah kami selesaikan hari itu juga. Intinya kalau ada masalah kami saling terbuka dan saling mengerti," tandasnya.

Untuk anak-anak, Hj Siti juga mengaku tetap meberikan dukungan moral. Baik yang besar maupun yang kecil. "Kalau yang paling kecil saya selalu memberikan dukungan berupa saran agar selalu giat belajar. Bahkan saya selalu mengingatkan untuk mengerjakan tugas PR dari gurunya. Sementara kakaknya yang paling besar karena kuliah dan hobi olahraga grasstrack saya tetap mendukung sekali. Sampai-sampai bersama dengan tim grasstrack yang diberi nama Wiranariandi itu sudah banyak menghasilkan prestasi," tutur Hj Siti yang dinikahi Suhardjo pada 12 Februari 1989 ini.

Lanjutnya, awalnya bertemu dengan sang suami di Tarakan. "Saya tinggal di rumah orang tua tepatnya di jalan Gajah Mada RT 1 Kelurahan Karang Anyar Pantai. Saat itu suami saya tinggalnya bertetangga dengan saya. Jadi sering ketemu. Yang jelas dari situlah saya mengenal sampai saya pacaran dan menikah," terang wanita yang asli lahir di Tarakan.

Ia menambahkan, jika suaminya terpilih sebagai Wawali Tarakan, sepakat dengan istri H Udin Hianggio untuk lebih meningkatkan serta menggiatkan kembali program kerja ibu-ibu PKK Kota Tarakan.

"Karena menurut saya sampai saat ini belum berjalan secara maksimal. Jadi mungkin ini salah satu program saya mengambalikan citra ibu PKK Kota Tarakan," tuturnya. (Radar Tarakan-Kamis, 4 September 2008)

UDIN-HARDJO Urutan Kandidat Terkaya No.7 dan No.9

1. Samson Ami Djakaria = Rp 58.222.922.144
2. Jumain = Rp 15.116.301.184
3. Anang Dachlan = Rp 4.432.021.000
4. Zainal Arifin = Rp 2.583.534.661
5. Andi Lolo = Rp 2.156.262.276
6. Ibrahim = Rp 1.295.101.597
7. Udin Hianggio = Rp 1.286.716.664
8. Rakhmat Majid = Rp 828.499.388
9. Suhardjo Trianto = Rp 702.312.994
10. Agus Wahono = Rp 139.293.070

*Hasil audit KPK terhadap laporan harta kekayaan penyelenggara Negara (LHKPN) yang disampaikan masing-masing kandidat. (Radar Tarakan-Sabtu, 27 September 2008)

Entri Populer

Label

 

Link Banner

Total Tayangan Halaman

Powered By Blogger

Sahabat Tarakan

Tarakan Borneo Lovers is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com